Bantah Beli Ginjal, Hanya Tali Asih


MALANG – Kontroversi donor ginjal Ita Diana warga Temas Batu serta nilai transaksi Rp 350 juta yang tak terbayar, dibantah oleh pihak penerima donor Erwin Susilo, 48 tahun. Tak hanya itu, pernyataan dr. Rifai, SpPD yang mengaku tidak mengenal Ita Diana juga dibantah melalui Maskur SH dan Suwito SH yang ditunjuk sebagai kuasa hukum Erwin.
“Tidak ada jual beli, itu tidak benar. Yang benar adalah saling tolong menolong, Yang satu memberikan ginjal, yang satu memberikan tali asih. Tidak pernah ada kalimat Rp 350 juta. Itu suara sumbang yang tidak benar,” kata Suwito kepada wartawan saat preskon di RM Ringin Asri.
Menurut Suwito, kronologi yang benar adalah, Erwin sudah menjadi pasien RSSA Malang di bawah penanganan dr. Rifai selama 7 bulan. Sepanjang pengobatan, Erwin berkali-kali cuci darah. Menurut Suwito, Erwin diperkenalkan kepada Ita Diana oleh pihak rumah sakit, dalam hal ini dr Rifai SpPD.
“Klien saya Erwin mengalami gagal ginjal, akhirnya dalam perjalanan diperkenalkan kepada Ita Diana oleh RS. Sudah disediakan, untuk menawarkan donor ginjal yang dibutuhkan klien kami. Waktu itu tak ada pikiran terima operasi ginjal karena takut,” ungkapnya.
Menurut Suwito, kedua pihak akhirnya sepakat karena kebutuhan masing-masing. Erwin sedang sakit parah, sementara Ita dikejar-kejar utang. Setelah itu, kesepakatan pendonoran ginjal ini dinyatakan dalam surat pernyataan bersama. Aturan tentang ini adalah UU nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, serta PP nomor 18 tahun 1981 tentang bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis serta transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia.
Surat pernyataan dua pihak yang disaksikan RS itu, harus bersifat kemanusiaan dan kerelaan.  “Di RS dibuatkan semacam surat pernyataan bersama, untuk memenuhi aturan. Intinya surat itu, tidak saling merugikan kedua belah pihak, tak ada nilai rupiah di sana, tapi saling tolong menolong,” tutur Maskur.
Tali asih yang diberikan oleh Erwin, adalah sejumlah Rp 70 juta. Dengan rincian, Rp 5 juta untuk asuransi lima tahun. Lalu, Rp 15 juta per bulan selama tiga bulan, sebagai kompensasi bagi Ita yang tidak bekerja selama tiga bulan setelah masa donor. Uang ini diserahkan kepada Ita, diketahui rumah sakit. Sedangkan, Rp 20 juta diberikan setelah operasi. Uang ini bentuk terima kasih kepada Ita dari keluarga Erwin.
“Semuanya ada penyelesaian antara penerima donor dan pemberi donor, baru operasi dieksekusi oleh rumah sakit, diatur oleh dr Atma Gunawan. Selain itu, klien kami juga bayar biaya operasi Rp 90 juta, itu di luar biaya tarif dokter. Pembayaran tali asih langsung ke Ita,” sambung Maskur.
Pembayaran dilakukan di gedung rumah sakit. Maskur menyebut, operasi dilakukan pada 1 Maret, bukan 25 Februari seperti yang disebutkan Ita. Terkait uang Rp 350 juta, Maskur kembali menegaskan tidak ada statemen seperti itu dari kliennya Erwin. Kliennya malah mengaku bingung dengan meledaknya berita sekarang.
“Klien saya merasa heran dan bingung, klien saya merasa kewajibannya sudah dilaksanakan, apa yang disarankan dokter juga sudah dilakukan. Dokter yang menyarankan Pak Atma,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Maskur, ketiga belah pihak, Ita, Erwin dan RS sudah saling mengenal. Pasalnya, menurut Maskur, operasi tidak semata-mata langsung dilakukan. Harus ada cek kelayakan, tes kesehatan dan mengecek kesesuaian pendonor dan penerima donor.
Maskur menyebut kliennya dan Ita bertemu tiga kali sebelum operasi. Setelah operasi, Ita masih sering dan berkali-kali ke rumah Erwin dan secara otomatis pihak Erwin memberikan uang tambahan, sejumlah Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu tiap kedatangan Ita. Kali terakhir, Ita datang ke rumah Erwin untuk jual kue dan jual surat tanah rumah Ita.
“Karena itu, tidak benar kalimat klien saya memaki Ita. Kondisi klien saya sakit, dan pemulihan, kalau didatangi terus kan ewuh pakewuh. Bahkan, terakhir dia datang, dia membawa sertifikat rumah, meminta pak Erwin membeli rumah Ita seharga Rp 99 juta,” tambah Maskur. Sementara itu, dari informasi yang dihimpun, Ita kabarnya sudah dimintai keterangan oleh Polda Jatim.
Maskur, menyebut kliennya belum ditemui atau ditanyai Polda Jatim terkait kasus ini. “Polda belum datangi pak Erwin, pak Erwin sekarang kondisi belum sehat benar,” tambahnya. Suwito SH, menyebut pihaknya mengaku siap membela kliennya andai pihak Ita melaporkan Erwin kepada pihak berwajib.
“Kita akan hadapi kalau pihak sana menuntut. Klien saya juga siap melapor balik pasal pencemaran nama baik, bila pihak sana melapor. Kalau mau mediasi, kami juga terbuka,” tambah Suwito.
Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf, yang diwawancarai wartawan di Gasek Karangbesuki, mengaku belum tahu tentang kasus ini. Dia siap mengklarifikasi kasus ini kepada RSSA Malang. “Kami akan lakukan klarifikasi kepada pihak terkait. Kalau terbukti ada pelanggaran, tentu akan ada sanksi,” tutupnya..(fin/tea/han)

Berita Lainnya :

loading...