Terus Meningkat, Jadi ‘Sarang’ Narkotika

 
MALANG - Indonesia Darurat Narkoba. Pernyataan ini, pernah disampaikan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo pada tahun 2015 silam. Maknanya sangat dalam. Menggambarkan keseriusan permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia. Darurat, mengartikan harus segera ditangani, dan akan mengakibatkan masalah serius apabila tidak cepat teratasi.
Meski ancaman hukuman penjara untuk para budak narkotika ini sudah diperberat, yakni minimal 4 tahun, namun faktanya narkotika masih beredar bebas. Malang menjadi salah satu wilayah, yang masih ‘dijajah’ peredaran narkotika. Baik itu sabu-sabu (SS), daun ganja kering ataupun obat-obatan terlarang seperti pil koplo.
Bahkan lebih ironisnya lagi, barang haram itu tidak lagi menyasar orang dewasa. Melainkan sudah beredar pada kalangan anak muda, dan bahkan pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa. 
Fakta bahwa Malang masih ‘dijajah’ peredaran narkotika, adalah dari hasil ungkap setahun kasus narkoba di wilayah Kabupaten Malang. Mulai awal Januari sampai pertengahan Desember 2017 ini, Satuan Reskoba Polres Malang telah mengungkap sebanyak 231 kasus dengan 289 tersangka. 
Jika dirata-rata, maka setiap bulan mengungkap 19 – 20 kasus narkoba. Dan setiap pekannya bisa 3 – 4 kasus narkotika yang diungkap oleh Satreskoba Polres Malang. Dimana 215 orang tersangka merupakan pengedar, sedangkan sisanya 74 orang tersangka karena kedapatan membawa narkotika.Rinciannya adalah, untuk kasus sabu-sabu (SS) ada 152 kasus dengan 195 tersangka. Daun ganja kering 9 kasus dengan 11 tersangka. Dan pil koplo jenis dobel L, sebanyak 70 kasus dengan 83 tersangka. Barang bukti yang diamankan juga beragam. Untuk SS, barang buktinya 199,12 gram, ganja barang buktinya 197,07 gram, dan untuk pil koplo adalah 53.420 butir jenis dobel L, 4432 butir berlogo Y serta 700 butir berlogo DMP.
Jika dibandingkan dengan 2016 lalu, ada peningkatan yang cukup dramatis. Kasus sabu-sabu, ada peningkatan 22 persen. Sebelumnya hanya 136 kasus dengan 159 tersangka. Kemudian, ganja ada peningkatan hingga 200 persen. Tahun lalu hanya 3 kasus dengan tiga tersangka saja. Selanjutnya untuk obat farmasi, ada peningkatan 105 persen. Tahun lalu hanya 34 kasus dengan 46 tersangka.
Untuk jenis pekerjaan, dari 289 tersangka tersebut, 4 diantaranya adalah seorang pelajar, sedangkan sisanya 285 pekerja swasta. Usianya, untuk umur 16 – 21 tahun, ada 74 tersangka. Usia 22 – 30 tahun ada 100 tersangka dan 31 tahun ke atas ada 115 tersangka.
Ada banyak faktor, mengapa peredaran narkotika masih sangat tinggi. Selain karena jaringannya terus tumbuh, mata rantainya sulit terputuskan. Antara pengguna atau pemakai, dengan pengedar atau bandarnya tidak saling mengenal. Mereka biasanya hanya kenal lewat kurir, serta transaksinya melalui telepon selular dan barangnya diranjau.
Saat pemakai atau penggunanya tertangkap, pengedar atau bandar masih leluasa. Mereka akan mengembangkan jaringan baru, untuk mengedarkan narkotika. Sehingga, tak ayal dari 289 tersangka yang ditangkap tersebut, kebanyakan adalah orang baru.
“Kebanyakan memang orang baru. Mereka yang awalnya mencoba kemudian ketagihan, akhirnya ingin terus menggunakan narkoba,” ujar KBO Reskoba Polres Malang, Iptu Suryadi.
Pengedar atau bandar narkotika yang mengedarkan, juga bukanlah orang baru. Melainkan adalah pelaku lama, yang kembali beroperasi pasca menjalani hukuman. Bahkan, dari beberapa tersangka yang ditangkap pernah ada yang mengaku, bahwa narkoba dipesannya dari seseorang dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lowokwaru.
Untuk menekan peredaran narkotika di wilayah Kabupaten Malang pada 2018 nanti, ada beberapa upaya yang akan dilakukan oleh Satuan Reskoba Polres Malang. Selain terus memburu, pengguna atau pemakai, juga pengedar dan bandarnya. Termasuk mengadakan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat.
“Kami akan terus menggelar sosialisasi. Yakni tentang bahaya serta dampak yang diakibatkan dari mengkonsumsi narkoba,” tutur Suryadi.(agp/jon)

Berita Lainnya :