Dituntut Dua Tahun, Nanik Lemas


 
MALANG - Nasib Nanik Indrawati alias Suparmie, 53, lemas saat mendengar tuntutan JPU Kejari Malang, Suhartono SH. Terdakwa kasus dugaan penggelapan dalam jabatan di PT Sapta Tunggal Surya Abadi (STSA) dituntut dengan hukuman penjara dua tahun. 
Tuntutan tersebut dibacakan dalam sidang di PN Malang, Rabu (27/12) sore lalu. Suhartono menyebut, hal yang membuatnya menuntut dua tahun penjara, karena beberapa kesaksian yang memberatkan Nanik. 
“Beberapa hal yang memberatkan, antara lain uang Rp 800 juta yang tak sesuai peruntukannya. Ini merugikan perusahaan tempat terdakwa bekerja,” kata Suhartono kepada wartawan.
Menurutnya, terdakwa tak bisa menjelaskan dengan jelas uang Rp 800 juta yang diberikan kepada almarhum Elang, pria dari tim pembebasan lahan yang menjadi objek kasus ini. Sementara, hal yang meringankan Nanik adalah sikap kooperatif selama persidangan serta tak ada catatan kriminal sebelum kasus ini bergulir.
“Sebelum kasus ini, terdakwa belum pernah tersangkut kasus dan belum pernah dipenjara. Tuntutan ini terhitung ringan, lebih rendah tiga tahun dari ancaman normal dari pasal yang dikenakan pada terdakwa, yakni lima tahun penjara,” sambung Suhartono.
Sementara itu, ketua majelis hakim persidangan, Isnurul Syamsul Arif SH, MHum memberi waktu bagi terdakwa untuk mempersiapkan pledoi. Pekan depan, Nanik diberi waktu untuk mengajukan pembelaannya, baik pledoi yang diajukannya sendiri, maupun pledoi lewat kuasa hukum.
“Terdakwa kami beri waktu untuk mengajukan pledoi atau pembelaan,” tandas Isnurul.
Sementara itu, General Manager PT STSA, Hani Irwanto meyakini jaksa memiliki pertimbangan tersendiri dengan menuntut Nanik dengan hukuman dua tahun penjara. Meski demikian, Hani mengakui tuntutan tersebut terhitung ringan. 
“Kami serahkan proses pada sistem peradilan, walaupun menurut saya hukuman itu ringan. Tuntutan yang dibacakan oleh jaksa, menguatkan tindak pidana terdakwa,” terangnya. 
“Termasuk putusan itu tak asal atau mengada-ada karena ada kerugian perusahaan dalam proses pembebasan lahan,” sambung Hani.
Menurutnya, PT STSA juga sudah melaporkan kasus dugaan penggelapan lain yang disinyalir dilakukan oleh Nanik. Laporan dilayangkan ke Satreskrim Polres Malang Kota Makota. Uang sejumlah Rp 3,9 miliar, Rp 500 juta, Rp 150 juta dan Rp 750 juta, ditransfer oleh Nanik ke rekening atas nama Riza Dwi Rahayu.
“Kasus ini sudah dilaporkan ke Polres Makota November 2017 lalu,” tambahnya.
Gunadi Handoko SH, kuasa hukum terdakwa, menghormati tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum. Gunadi mengaku mempersiapkan pledoi.
“Kami menghormati tuntutan JPU, tapi kami sebagai kuasa hukum akan mempersiapkan pledoi, sehingga hakim bisa membuat keputusan yang adil bagi klien kami,” tutupnya.
Nanik adalah mantan karyawan bagian keuangan PT STSA yang didakwa dengan pasal penggelapan dalam jabatan. (fin/mar)

Berita Lainnya :