magista scarpe da calcio RSSA Klaim Ita Daftar Donor Sejak 2015


RSSA Klaim Ita Daftar Donor Sejak 2015

 
MALANG – Yassiro Ardhana Rahman SH MH, dari LKBH Aisyiyah Kota Malang yang mewakili Ita Diana 41 tahun, belum mendapat jawaban memuaskan dari RSSA Malang. Dalam pertemuan tertutup di ruang Singhasari lantai 3 RSSA pukul 13.00 WIB hingga 14.00 WIB, Yassiro belum mendapat jawaban jelas dari pihak RSSA.
“Kami bertanya soal prosedur transplantasi ginjal yang dijalani klien kami, dan mereka menjawab sedang melakukan legal audit dan dipelajari,” kata Yassiro usai menghadiri pertemuan kepada wartawan. 
Menurut pengacara yang berkantor di Jalan Gajayana itu, pihaknya diberitahu oleh pihak RSSA Malang bahwa ada beberapa berkas surat terkait prosedur transplantasi ginjal yang ditandatangani oleh Ita.
Tapi, Yassiro mengaku belum melihat surat apa saja yang ditandatangani kliennya. Dia menyebut RSSA Malang berjanji dalam waktu dekat, menunjukkan surat tersebut. Namun demikian, Yassiro tetap mempertanyakan soal keabsahan izin keluarga Ita terkait transplantasi ginjal.
“Apakah ada izin keluarga atau suami Ita, apakah sudah ada juga surat pernyataan secara resmi dan otentik, yang didaftarkan secara sukarela oleh Ita, untuk transplantasi. Lalu, apakah upaya transplantasi sudah didaftarkan ke Komite Transplantasi Nasional,” ujar Yassiro.
Sementara itu, legal konsultan RSSA Malang, Eko Budi Prasetyo menyebut RSSA membuat tiga tim audit untuk menelusuri permasalahan ini.
“RSSA membuat tiga tim, yakni audit medik, audit etikdan audit legal. Proses audit sudah berjalan 80 persen, setelah 100 persen baru akan kami sampaikan. Dalam waktu dekat akan diselesaikan,” jelas Eko menjawab pertanyaan wartawan soal dugaan adanya oknum yang menjanjikan uang pada Ita sebelum proses transplantasi dimulai.
Meski demikian, menurut Eko, Ita Diana mendaftar secara sukarela sebagai donor pada tahun 2015. Tahun 2016 dia sempat akan mendapat resipien donor ginjal tapi hasil pengujian tes medis tidak cocok. Pada tahun 2017, ginjal Ita akhirnya mendapat penerima, yakni Erwin Susilo yang menjalani transplan pada Februari 2017.
“Setahu kami, bu Ita donor secara sukarela, kasus ini kan baru mencuat 6-8 bulan setelah dia transplan. Kalau ada oknum perawat yang katanya menjanjikan uang kepada bu Ita, kami persilakan untuk beritahu kami, siapa namanya dan kerja di bagian apa,” sambung pria berkacamata itu.
Eko sendiri menyebut RSSA Malang mengaku tidak mendeteksi adanya dorongan ekonomi dari Ita yang berniat menjadi donor pada tahun 2015. Jika niatan itu terdeteksi pada awal screening, maka RSSA Malang akan menolak Ita sebagai donor.
“Kita akan tolak kalau tahu ada donor yang memiliki motif ekonomi. Karena, saat interview tak ada satupun formulir yang mengungkap latar belakang dan motivasi ekonomi Ita,” tambah Eko.
RSSA Malang sendiri siap menerima panggilan dari Polda Jatim yang sudah melakukan pemeriksaan kepada Ita Diana. Dia menyebut, institusi RSSA Malang patuh kepada hukum dan siap memenuhi panggilan bila Polda Jatim melayangkan surat pemeriksaan.
“Soal pemanggilan dari Polda, kami tidak masalah. Polda sudah periksa bu Ita, nanti kan ada giliran pak Erwin, lalu RSSA Malang sebagai institusi patuh pada hukum dan siap penuhi panggilan itu. Kami ada data dan bukti,” paparnya.
Ketua tim audit etik dan legal RSSA Malang, dr Putu Moda Arsana SpPD, K-EMD, FINASIM menyebut pihaknya sedang melakukan audit etik. Psikiater yang mendampingi Ita pada awal masa screening sebelum menjadi donor, masih dalam pemeriksaan. Putu berjanji akan memeriksa dokter psikiatri pendamping sebelum Ita dijadikan donor.
Karena, screening calon donor berupa wawancara, dilakukan oleh dokter psikiatri pendamping. Apakah dokter psikiatri gagal mendeteksi adanya motif tersembunyi berupa tekanan ekonomi dari Ita, Putu mengaku masih belum tahu. 
“Kita masih belum audit dokter psikiatri pendamping calon donor dan resipien. Kita akan periksa hasil wawancara sekaligus melihat apakah ada yang tidak sesuai prosedur hukum, atau tidak sesuai prosedur etik,” jelas Putu.
Sedangkan, dr Atma Gunawan SpPD ketua tim transplantasi ginjal, menjelaskan sekilas tentang latar belakang transplan yang dilakukan oleh para dokter di RSSA Malang. Dia menyebut Permenkes nomor 38 tahun 2016 adalah panduan dari para dokter untuk melaksanakan transplantasi ginjal.
“Dari situ ada Standar Prosedur Operasional (SPO) transplantasi organ. Soal kapasitas dan kompetensi kami, para dokter sudah belajar ke pusat transplan di Cikin, juga sudah belajar ke India dan Filipina dalam hal transplantasi organ,” tutupnya.(fin/han)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top