Sudarsono: Saya Tidak Menyangka Kok Tega


Malang Post, Keluarga korban sangat syok mendengar kabar kematian Fenna Selinda Rismawati. Sudarsono, 47, ayah tirinya gemetaran saat mengetahui kronologi brutalnya Nadia Fegi Madona, 18, menghabisi nyawa putrinya tersebut.
“Saya tidak menyangka kok sampai ada yang tega. Saya ingin ketemu pelakunya dan tanya langsung kepadanya, kenapa sampai tega,” ungkapnya dengan mata memerah di kamar jenazah RSSA Malang. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya.
Warga Kepanjen tersebut, berupaya sekuat tenaga menahan tangis ketika mendengar putrinya tidak hanya ditusuk sekali. Setidaknya, ada enam luka tusukan di tubuh Fenna, sapaan korban. Satu luka menganga di leher sebelah kanan, serta lima tusukan di bagian perut depan.
Menurut pria berkacamata ini, dia sudah satu bulan tak bertemu Fenna. Sehari-harinya, dia yang bekerja di Kepanjen, hanya bisa berkomunikasi lewat telepon karena Fenna bersekolah di SMAN 1 Brantas Kalipare. “Tahu-tahu kok begini,” ungkapnya.
Dia menceritakan bahwa sehari sebelum kejadian tragis ini, Fenna memang sempat cekcok dengan Nadia. Hal ini diceritakan oleh keluarga Fenna di Donomulyo. Pertengkaran tersebut diakhiri setelah pihak keluarga Fenna melerai. Pertengkaran tersebut terjadi karena permasalahan uang pembelian bedak secara online yang ditawarkan Nadia.
Setelah korban menyetorkan uang Rp 1 juta kepada Nadia, bedak yang dijanjikan ternyata tidak segera diberikan. Sehingga, korban menagih barang kosmetik kepada temannya tersebut. Beberapa kali ia menagih, namun tetap tidak ada realisasi.
Setelah adu mulut, Fenna dijemput dan diajak keluar oleh Nadia. Setelah itu, keluarga tak mendengar kabar lagi. Hingga siang hari, Fenna ternyata sudah ditemukan bersimbah darah dengan banyak luka tusuk di sekujur tubuhnya.
“Saya awalnya hanya ditelepon bahwa Fenna sakit dan mengalami kecelakaan, tapi tidak tahunya kok seperti ini. Ya Allah,” ratapnya. Menurut dia, Fenna yang dulu bersekolah di SMPN 1 Donomulyo, adalah remaja yang gaul dan memiliki banyak teman.
Saat Fenna sakit serta tidak masuk sekolah, kawan-kawannya perempuan banyak yang menjenguk. Sudarsono menyerahkan semua tindakan hukum kepada aparat yang berwenang. Dia berharap pelaku dihukum setimpal dan seadil-adilnya
“Soal hukum saya serahkan kepada kepolisian untuk menindak,” tambahnya. Jenazah Fenna tiba di kamar mayat RSSA Malang, sekitar pukul 16.30. Semalam, jenazah Fenna diberangkatkan pulang ke Donomulyo untuk dimakamkan di sana. (fin/mar)

Berita Lainnya :