Nadia, Ditinggal Ayah Sejak dari Kandungan


Malang Post, NADIA Fegi Madona, terlihat cukup tenang. Ia sama sekali tidak terlihat gelisah, meski sehari sebelumnya ia usai membunuh Fenna Selinda Rismawati. Termasuk ketika menjalani pemeriksaan di UPPA Polres Malang pun, siswi SMA Hasanudin, Wates, Blitar ini tidak terlihat tegang.
Karena ketengannya itulah, membuat banyak orang tertipu. Mereka tidak menyangka gadis muda itu bisa menghabisi nyawa Fenna, temannya sendiri dengan kejam. Termasuk orang terdekat serta kakek-neneknya. “Terus terang saya sangat kaget. Terlebih neneknya, Tukirah, langsung syok dan pingsan begitu mengetahui Nadia membunuh,” ucap Sukari, kakek Nadia. Cucunya itu, sejak kecil tinggal bersama dengan mereka. Kedua orangtuanya sudah lama bercerai. Ayah Nadia, Susianto, menikah lagi dengan perempuan lain. Sedangkan Yanik, ibunya merantau ke luar negeri dengan bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW).
“Sejak bayi, dia tinggal dengan saya. Kalau ayahnya, sama sekali tidak pernah peduli sejak Nadia dalam kandungan usia enam bulan. Kemudian saat usia kandungan enam bulan, ditinggal pergi sama ayahnya,” terang Sukari.
Jumat pagi, sebelum kejadian pembunuhan, Nadia berpamitan kepada neneknya akan pergi sebentar. Nadia tidak memberitahu kemana. Karena terlihat buru-buru dengan mengendarai sepeda motor. “Kami mengira pergi ke rumah Rian (kekasihnya) saat itu,” katanya.
Namun siang harinya, tiba-tiba ada beberapa polisi datang ke rumah mereka. Petugas langsung menanyakan keberadaan Nadia. Sukari dan Tukirah sempat kaget dan penasaran. Begitu diberitahu bahwa Nadia baru saja membunuh, keduanya syok.
“Padahal selama ini dia itu anak yang baik dan pendiam. Dia masih mau bantu neneknya bersih-bersih rumah. Anaknya juga selalu terbuka kalau ada masalah. Namun tentang masalah ini, tidak pernah bercerita,” jelasnya.
Dengan dijadikannya Nadia sebagai tersangka kasus pembunuhan, keluarga hanya bisa pasrah. Mereka tidak dapat melakukan apa-apa karena peristiwa sudah terjadi. Sebagai orangtua, mereka hanya bisa mendokan yang terbaik saja untuk Nadia.
“Mau bagaimana lagi, kalau namanya salah ya harus diakui salah. Apalagi sudah terbukti melakukan pembunuhan. Kami sebagai orangtua hanya bisa pasrah saja,” tuturnya. Sementara itu, beberapa tetangga juga terkejut dengan pembunuhan sadis yang dilakukan Nadia.
Pasalnya, di kampungnya Nadia dikenal sebagai anak periang dan pendiam. Nadia sama sekali tidak pernah banyak tingkah. “Anaknya baik. Semua tetangga jelas kaget dengan kabar pembunuhan itu. Kami semua heran kok bisa Nadia bisa seperti itu,” ujar Sukidi, tetangga korban. (agp/mar/han)

Berita Lainnya :