Ayah Fenna Tak Dendam


MALANG – Pembunuhan sadis yang dilakukan Nadia Fegi Madona, 18, warga Dusun Umbulsari, Desa Kaliasri, Kalipare terhadap Fenna Selinda Rismawati, 16, warga Desa Mentaraman RT06 RW01 Donomulyo tak pernah diduga oleh ayah Fenna, Iswanto, 44. Ditemui di rumahnya, Iswanto terlihat tegar menghadapi tragedi yang dialami oleh putrinya yang masih duduk di bangku SMK Brantas, Karangkates kelas X Jurusan Mesin itu.
“Saya tidak menyangka sebelumnya dengan peristiwa yang dialami anak saya. Padahal permasalahannya hanya bedak kosmetik yang dibeli Fenna kepada Nadia,” ujar Iswanto dengan wajah tegar ketika ditemui Malang Post di rumahnya Senin (1/2) .
Diceritakan Iswanto, ia tidak pernah mendapat firasat buruk sebelumnya dengan takdir yang harus dihadapi oleh anak satu-satunya itu. Apalagi, dikatakannya jika ada masalah, putrinya selalu bercerita kepadanya.
“Saya hanya hidup berdua dengan Fenna, karena ibunya sudah berpisah namun kami tetap menjalin hubungan dengan baik. Jadi saya tahu betul jika putri saya terlibat permasalahan,” terangya.
Menurutnya, putrinya adalah anak yang periang dan memiliki banyak teman. Selain itu, juga selalu terbuka dengan permasalahan apapun. Hal itu terbukti saat duduk di bangku SMP, saat Fenna memiliki pasangan juga dikenalkan kepadanya. Sehingga ia tidak pernah membatasi pertemanan putrinya tersebut.
“Saya tidak pernah membatasi putri saya bertemen, setiap temannya pasti sering main ke rumah. Bagitu juga dengan Nadia yang sempat ke rumah hingga tiga kali. Pertama dua minggu sebelum kejadian, sehari sebelum kejadian dan di hari saat peristiwa tersebut,” beber laki-laki yang sehari-harinya membuka usaha mebel di rumahnya itu.
Hingga pada hari memilukan yang menimpa putrinya, tersebut ia juga masih tidak percaya. Pasalnya Nadia terlihat seperti anak baik dan tidak mungkin melakukan hal seharusnya terjadi kepada putrinya itu.
“Saya masih tidak percaya, tapi saya ikhlas menerima takdir Tuhan ini dan sepenuhnya permasalahan ini saya percayakan kepada pihak yang berwajib,” ucapnya dengan raut wajah yang terlihat masih menyimpan duka itu.
Meski ada rasa sakit yang mendalam dari tragedi yang dialaminya putrinya itu, Iswanto mengungkapkan tidak akan pernah menyimpan dendam atas kematian anaknya. Pasalnya rasa dendam tidak akan menyelesaikan masalah.
“Saya tidak menyimpan dendam, saya terima ini sebagai takdir. Karena balas tidak akan menyelesaikan masalah dan malah akan memperpanjang masalah. Ini negara hukum, sepenuhnya saya percayakan kepada pihak kepolisian dan saya minta pelaku diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya,” ungkapnya.
Sementara itu, usai peristiwa tragis yang menimpa Fenna, beberapa kolega, rekan, pihak pemerintah desa telah berkunjung untuk mengucapkan bela sungkawa. Namun dari pihak keluarga pelaku, dikatakan Iswanto masih belum mendatanginya.
Selain itu, dukungan moril juga datang dari teman-teman Fenna satu sekolah diantaranya Indah Permata Sari, 16, Choiras Deni, 16,  kelas X Jurusan Otomotif, Titik Krianawati, 16, kelas X Jurusan Listrik dan kakak tingkatnya Muhammad Gandis Eka Setiawan, 19, kelas XII Jurusan Otomotif SMK Brantas Karangkates. Mereka datang ke rumah alm Fenna Senin (1/1).
Dikatakan, Indah Permata Sari  jika ia sangat kehilangan teman baiknya yang terkenal riang itu. Apalagi ia sangat kaget dengan apa yang menimpa temannya itu.
“Fenna anaknya riang, suka ngajak ngobrol dulu waktu baru masuk sekolah. Selain itu, selama berteman dengan Fenna ia tidak pernah terlibat masalah di luar maupun di dalam sekolah,” terang Indah.
Dikenang Indah, saat terakhir ngobrol dengan teman dekatnya itu sebelum liburan sekolah tiba. Tepatnya saat class meeting sekolah dalam perlombaan olimpic skills tangal 13-15 Desember 2017. Bahkan ia sempat bertukar sepatu dengan Fenna.
“Terakhir saya sempat tukar sepatu dengannya, karena saat akan perlombaan Fenna menggunakan sepatu olahraga sehingga ia meminta saya untuk pinjam sepatu sebagai persyaratan lomba,” kenangnya.
Begitupula Muhammad Gandis Eka Setiawan, kaka tingkat Fenna yang sangat kaget dengan kejadian seharusnya bisa diselesaikan dengan cara baik-baik.
“Kita memang tidak tahu kehendak Tuhan terhadap seseorang, seperti yang dialami Fenna. Namun dengan kejadian itu kita bisa mengambil hikmahnya. Sehingga tidak berlarut dalam kesedihan,” ungkap Eka.
Dari apa yang dialami adik tingkatnya tersebut, Eka berpesan kepada teman-temanya agar setiap ada permasalahan yang datang sebaiknya dibicarakan baik-baik terutama kepada orangtua.
“Dengan kita bercerita dengan orangtua atau teman setidaknya bisa mencegah hal yang merugikan. Sehingga keluarga maupun teman dapat membantu menyelesaikan masalah agar tidak terulang lagi kejadian yang menimpa Fenna,” pungkasnya. (eri/jon)

Berita Lainnya :