Nanik Baca Pledoi, GM STSA Lapor Polisi Lagi


 
MALANG – Terdakwa kasus dugaan penggelapan dalam jabatan, Suparmie alias Nanik Indrawati, 54 , membaca pledoi di hadapan hakim sidang PN Malang, kemarin. Sidang yang digelar pukul 17.00 tersebut, diwarnai beberapa poin pembelaan dan tetesan air mata dari Nanik.
Mantan pegawai bagian keuangan PT. Sapta Tunggal Surya Abadi (STSA) membacakan pledoi di hadapan hakim Isnurul Syamsul Arif SH MHum dan JPU Suhartono SH.
“Saya merasa kasus saya dipaksakan. Karena saya tak pernah merasa melakukan seperti yang didakwakan kepada saya,” kata Nanik berurai air mata.
Menurut wanita yang tinggal di Pondok Blimbing Indah Malang tersebut, kasus yang menjeratnya ini tak masuk akal karena dia tak pernah menerima sepeser uang dari transaksi yang dilakukan saat pembebasan lahan. Karena itu juga, dia memiliki harapan besar untuk tidak dihukum penjara dalam kasus yang membuat PT STSA merugi. 
“Saya merasa sudah melakukan semua pekerjaan sebagai kasir dengan sebaik-baiknya,” katanya. 
“Saya juga tak pernah mencicip uang sepeserpun, kecuali dari keringat saya dan hak bulanan saya. Harapan saya adalah saya dibebaskan dari semua dakwaan,” tandas Nanik, saat menyatakan poin pledoinya.
Dia juga menyebut Elang, pria yang sudah meninggal, sebagai ketua tim pembebasan lahan, adalah sosok yang lebih bersalah dalam kasus ini. Sebab, dia sering  membawa banyak uang. Menurut Nanik yang berbicara dengan istri almarhum Elang, uang ini adalah uang hasil komisi penjualan lahan.
General Manager PT STSA, Hani Irwanto menyadari apa yang disampaikan Nanik dalam pledoi adalah hal wajar. Dia juga mengaku memahami niatan Nanik untuk membela diri. Dia menyerahkan kasus ini kepada hakim PN Malang yang mendengar semua fakta persidangan mulai awal sampai pembacaan pledoi.
“Apa yang dilakukan terdakwa adalah hal wajar, karena dia melakukan pembelaan diri. Saya meyakini hakim memiliki penilaian sendiri. Kami sudah melaporkan terdakwa ke polisi lagi, kasus yang serupa tapi transaksi lain,” tambah Hani.
Kuasa hukum Nanik, Gunadi Handoko SH, menyebut tidak ada dana mengalir ke rekening pribadi kliennya.
“Dalam persidangan tidak terbukti ada dana ke rekening pribadi klien saya. Saya rasa klien saya harus bebas, karena dia menceritakan semua apa adanya,” ungkapnya. 
Seperti diberitakan sebelumnya, Nanik adalah karyawan PT STSA yang didakwa penggelapan uang perusahaan sejumlah Rp 2 miliar, dari hasil mark up harga transaksi pembebasan lahan di kawasan Buring. (fin/mar/jon)

Berita Lainnya :