Masih Trauma, Enggan Temui Orang Baru


MALANG – Tiga bersaudara, KN (13), ZS (11) dan DNZ (6), akhirnya mendapat kehidupan lebih layak setelah sebelumnya disekap selama setahun oleh ibu kandungnya Alikah (47). Mereka saat ini bersama  sang ayah, M Romli (52). Kondisi kesehatan ketiganya membaik, namun masih mengalami trauma psikis.Saat Malang Post berkunjung ke rumah Romli di Jalan Wangkit, Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, mereka bertiga sedang tiduran dalam kamar. Ketiganya tidak mau bangun, meskipun sudah dirayu. Bahkan, mereka memalingkan wajah dan menutupinya dengan tangan. Mereka, seakan masih membutuhkan waktu untuk bertemu dengan orang baru karena selama setahun terakhir ketiganya hanya berada di dalam rumah, dan tidak bersosialisasi dengan siapapun.
“Ini ibu bawa ice cream. Ayo bangun, dimakan ice creamnya,” tutur Ririn Restaningrum, Bidan Desa Sudimoro, didampingi Emi Lispartina, Kasi Kesos dan Kepemudaan Kecamatan Bululawang, saat membujuk KN, ZS dan DNZ.
Namun berulang kali dibujuk, mereka bertiga tidak merespon. Ketiganya hanya diam dan menggelengkan kepala. “Tidak mau bangun, mungkin mau tidur. Jangan diganggu dulu ya, kasihan mereka,” ujar Emi Lispartina.
Ririn menyambung, kondisi ketiganya sudah sehat, tidak ada masalah. Namun trauma dan kondisi psikis tiga bersaudara itu masih terganggu. Butuh waktu untuk mengembalikannya. “Mereka kami serahkan kepada ayahnya, setelah kami periksa dan tidak ada masalah dengan kesehatannya,” terang Ririn.
Di rumah yang memiliki halaman cukup luas tersebut, KN, ZS serta DNZ tinggal bersama ayah dan neneknya. Banyak saudara mereka yang seumuran mengajaknya bermain, sehingga bisa membantu mengembalikan kondisi psikisnya. “Alhamdulillah mereka sudah bisa tersenyum dan bercanda,” kata M Romli, ayahnya.
Romli menceritakan, ia resmi bercerai dengan Alikah, sekitar 4 tahun. Perceraian itu terjadi karena tidak ada kecocokkan. Alikah sering marah tanpa sebab. Pasca perceraian, ketiga anaknya tinggal bersama dengan ibunya. Meski sudah bercerai, Romli sering menemui ketiga anaknya di rumah Alikah, di Jalan Wachid Hasyim, Desa Sudimoro, Bululawang. Kadang dua sampai tiga minggu sekali atau sebulan sekali. Ia datang untuk membelikan makanan dan sembako kepada anak-anaknya.
Namun ia tidak bisa lama tinggal di rumah untuk bercengkerama dengan anak-anaknya, sebab Alikah memintanya untuk segera pulang. Keanehan pada diri Alikah mulai dirasakan Romli selang setahun setelah bercerai. Romli pernah dilaporkan Alikah ke Polsek Bululawang dan Polres Malang atas tuduhan percobaan perkosaan terhadapnya.
“Saya sempat diperiksa, namun tidak terbukti karena memang saya tidak melakukannya,” ucap Romli.
Sekitar setahun lalu, keanehan Alikah semakin bertambah. Anak-anaknya tidak boleh keluar rumah dan berinteraksi dengan siapapun. Semua pintu dan jendela ditutup dengan kertas, terpal, kayu serta pakaian bekas. Ini dilakukan supaya tidak ada cahaya sekecil apapun masuk ke dalam rumah.
Mengetahui kejadian itu, Romli mengaku tidak bisa berbuat apapun. Mau mengambil ketiga anaknya, takut dengan Alikah. Ia juga tidak tahu bagaimana cara untuk mengeluarkan anak-anaknya dari dalam rumah. Selama setahun ini, ia hanya datang untuk melihat dan memberi makan.
“Ketika menemui anak-anak, saya hanya di ruang tamu. Tidak boleh masuk ke dalam kamar. Anak-anak biasanya langsung dipanggil, kalau saya datang membawa makanan,” jelasnya.
Penyekapan terbongkar, setelah Romli mengadukan permasalahan ini ke Bidan Desa. Selanjutnya, oleh Bidan Desa disampaikan ke Muspika Kecamatan Bululawang, hingga akhirnya dilakukan penggerebekan Selasa lalu.
“Kalau dari penuturan anak saya yang pertama, mereka memang tidak diperbolehkan keluar rumah. Ketika keluar rumah harus dengan ibunya. Itupun tidak pasti kapan waktunya,” bebernya.
Disinggung apakah selama berkunjung anak-anaknya tidak pernah bicara apapun? Romli mengatakan, anak pertamanya KN, sering meminta supaya Romli dan Alikah bisa berkumpul lagi. “Katanya mereka kangen kumpul bersama dan antar jemput sekolah,” katanya dengan kedua mata berkaca-kaca.
Selama disekap, anak-anak itu mendapat makanan dari sembako yang dibawa. Terkadang juga, Alikah berbelanja bekal makanan sendiri untuk dimakan setiap harinya. “Dia (Alikah, red) selama ini masih bekerja menjahit. Uang dari menjahit itulah, yang mungkin digunakan untuk makan setiap hari,” urainya.
“Saya akhirnya senang dan tenang, anak-anak bisa hidup normal kembali tidak di bawah tekanan. Mereka juga bisa sekolah lagi,” sambung Romli.
Kapolsek Bululawang Kompol Supari melalui Kanitreskrim, Iptu Ronny Marghas mengatakan, Alikah sudah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang. Begitu dieksekusi dari rumahnya, Alikah sempat dibawa ke Poskesdes untuk disuntik penenang. Baru kemudian, dirujuk ke RSJ Lawang.
“Hasil pemeriksaan dokter RSJ Lawang, Alikah memang positif mengalami gangguan kejiwaan. Sekarang ia dirawat di sana (RSJ Lawang, red),” tegas mantan Kanitreskrim Polsek Pakis ini.(agp/mp)

Berita Lainnya :