Mulai Berani Menatap Orang

 
MALANG - Kondisi psikis ketiga korban penyekapan ibu kandung, menjadi perhatian serius beberapa pihak. Tak terkecuali Polres Malang yang kemarin mengirim Tim Trauma Healing dan Konseling dari Sie Dokkes. Selain mengecek kesehatan, tim juga membantu proses penyembuhan trauma ketiga bersaudara KN (13), ZN (11) dan DNZ (6).
"Ada tiga orang yang kami kirim dari Sie Dokkes Polres Malang untuk mengecek kondisi ketiga anak tersebut. Karena untuk mengembalikan kondisi psikis mereka, menjadi tanggungjawab negara termasuk Polri," ungkap Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung.
Hanya dalam kunjungannya, ketiga korban masih belum bisa diajak komunikasi lebih banyak. Sama seperti sebelumnya, mereka masih trauma dengan orang asing. Tim Trauma Healing dan Konseling pun, hanya sekadar mengamati aktivitas mereka.
"Pendampingan ini akan terus kami lakukan sampai kondisi ketiganya normal. Setiap hari tim ini akan mendatangi mereka," ujar perwira menengah dengan pangkat dua melati.
Ujung menambahkan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat, untuk mengirimkan Tim Trauma Healing dan Konseling. Harapannya agar kondisi psikis ketiga korban bisa segera pulih dan tidak lagi trauma.
"Untuk proses hukum, saat ini masih menunggu hasil diagnosa ibu kandungnya dari dokter RSJ Lawang. Hasil observasi sementara, memang ada gangguan kejiwaan," tegasnya.
Sementara itu, tim kesehatan dari Puskesmas Bululawang, juga terus memantau perkembangan KN, ZN dan DNZ setiap jam. Kemarin tim yang terdiri empat orang, kembali mendatangi rumah M Romli, di Jalan Wangkit, Desa Sudimoro, Bululawang tempat ketiga korban saat ini dirawat.
Tim medis ini terdiri dari dokter umum dr. Mega Wiragendra, Dian Romadhoni selaku ahli gizi, seorang perawat serta Bidan Desa Sudimoro, Ririn Restatiningrum. Kedatangan tim ini, selain untuk memantau kesehatan juga membawa kebutuhan ketiga bersaudara yang menjadi korban penyekapan ibunya selama setahun.
Mulai dari beras, snack dan makanan ringan, biskuit serta empat kardus susu protein. Susu yang harus habis dalam waktu tiga hari tersebut, adalah susu protein yang biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami kekurangan gizi ataupun gizi buruk.
Namun ketika dikunjungi kemarin pagi, ketiga korban masih terlihat tidur pulas dalam kamar. Mereka seakan masih takut berinteraksi dengan orang luar. "Sebetulnya kedatangan kami ini, ingin menimbang berat badan mereka. Namun ternyata mereka masih tidur pulas, sehingga terpaksa harus menunggu sampai mereka bangun dulu," ungkap Ririn, Bidan Desa Sudimoro.
Ririn juga mengatakan, dirinya setiap hari terus memantau kondisi ketiga korban. Mulai pagi, siang, sore dan malam Ririn terus mendatangi ketiga korban untuk mengetahui setiap perkembangan kesehatannya.
"Semalam (Rabu malam, red) saya juga datang ke sini (rumah M Romli, ayah ketiga korban, red). Anak-anak mulai ada perkembangan dan mau makan pangsit. Termasuk sudah berani menatap mata orang yang mengajaknya bicara. Kalau sebelumnya, mereka hanya menundukkan kepala," terang Ririn.(agp/han)

Berita Lainnya :