Puluhan Pengacara Desak Guru Andrias Ditahan


 
MALANG - Puluhan pengacara dibawah Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Cabang Malang dipimpin Diddin Syafruddin SH, beraudiensi dengan Kapolsekta Klojen, Kompol Andi Yudha Pranata di Mapolsekta Klojen, Senin (8/1). Para advokat ditemui oleh Andi dan membahas soal kasus yang menimpa Su'ud SH, kuasa hukum Yayasan Taman Harapan Malang Asmo Basuki Wijaya. Sebab, polisi hanya menetapkan laporan perbuatan tidak menyenangkan, berupa penodongan dengan celurit.
Peristiwa itu terjadi saat adu mulut dengan beberapa guru, saat yayasan baru hendak memasukkan furnitur untuk Kepala SD Taman Harapan yang baru, Rudi Subandrio. Namun kalangan advokat tidak puas dengan penerapan pasal perbuatan tidak menyenangkan tersebut.
“Kita meminta ada penangkapan terhadap pelaku yang mengacungkan celurit ke arah rekan sejawat kami saat peristiwa itu terjadi. Kedua, kami minta ada penambahan pasal. Yakni UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan atau 338 KUHP tentang percobaan pembunuhan,” kata Diddin. 
Dia berargumen bahwa upaya oknum guru bernama Andrias Lutfi Susiyanto S.Pd, yang memegang celurit dan menodongkannya kepada Su'ud, mencederai marwah profesi advokat sebagai penegak hukum. Menurutnya, perbuatan warga Perum Cempaka Putih II AS-33A RT07 RW06, Kelurahan Bumiayu, Kedungkandang, Malang ini sudah seharusnya, berbuntut penangkapan dan penahanan tersebut guru olah raga sekolah tersebut. 
Sumardhan SH, advokat Peradi Malang yang hadir dalam audiensi juga menyebut penahanan terhadap pelaku tidak bisa dilakukan bila memakai pasal 335 KUHP yang memiliki julukan pasal karet. Dia meminta Polsekta Klojen menegaskan status kasus yang dialami Su'ud.
Sedangkan, saksi sekaligus pengacara senior Dr Solehoddin SH MH menyebut upaya dari organisasi advokat saat ini adalah murni penegakan hukum. Para advokat datang dan meminta audiensi agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. 
Yakni, pengacara tidak lagi menjadi korban saat menjalankan tugas profesinya di lapangan. Solehoddin juga menampik anggapan bahwa ada upaya kriminalisasi terhadap guru. Sebaliknya, dia meragukan orang yang mengaku guru tapi mengacungkan celurit kepada orang lain. 
Menurutnya, guru adalah orang yang membawa kapur, ballpoint, buku dan penggaris serta mengajarkan budi pekerti serta moralitas orang berpendidikan.
“Ini adalah penegakan hukum terhadap perbuatan premanisme yang menimpa teman kami,” sambungnya.
Kompol Andi sendiri menerima semua uneg-uneg, usulan, kritik maupun argumen yang disampaikan oleh para pengacara yang hadir. Menurut mantan interpol ini, kedatangan para advokat ini akan menjadi masukan baginya untuk crosscheck serta pengarahan kepada para penyidik. 
Berbagai statemen dari para pengacara akan disampaikan kepada penyidik, tentang apakah ada fakta yang mungkin terlewat saat olah TKP maupun saat meminta keterangan saksi.
“Saat ini kasusnya sudah masuk penyelidikan,” ungkapnya. 
“Kami akan bertindak seobjektif mungkin, dan dalam konteks ini saya terima semua informasi untuk membantu penyidik menemukan fakta, bukan isu atau opini. Ini menjadi second opinion dalam penyelidikan,” tegas perwira ramah tersebut. (fin/mar/jon)

Berita Lainnya :

loading...