Pengedar LL Kebobang Dibekuk


MALANG – Penyalahgunaan obat keras sebagai alat untuk nge-fly adalah modus lama pengedar. Satresnarkoba Polres Malang membekuk pelaku diduga pengedar dobel L di Kecamatan Wonosari. Mawan Supriono alias Gondrong, 22 tahun warga dusun Karangpandan desa Bendo Pakisaji, digelandang setelah tak bisa mengelak karena terbukti membawa ratusan pil dobel L.
Dari informasi yang diterima Malang Post, penangkapan polisi berawal dari keresahan warga Wonosari tentang adanya anak-anak remaja yang menggunakan dobel L untuk nge-fly. Keresahan ini diteruskan kepada pihak kepolisian yang melakukan pendalaman informasi tersebut.
Tidak disangka, polisi semakin mendapat informasi kuat bahwa memang ada pengedar dobel L yang menjadi langganan remaja yang ingin fly tapi tidak memiliki uang. Sehingga, dobel L menjadi alternatif yang lebih murah untuk mabuk daripada beli sabu atau ganja. Pendalaman petunjuk akhirnya mengarahkan polisi kepada sosok Mawan Gondrong.
Polisi yang membuntuti terduga pelaku, akhirnya melakukan penyergapan di Jalan raya Kebobang, desa Kebobang Wonosari pada 6 Januari lalu. Petugas yang menyergap, membuat Mawan terkaget. Dia langsung grogi karena polisi menggeledah bungkusan kertas grenjeng miliknya.
Dari hasil penggeledahan, polisi melihat ada ratusan butir pil LL yang tersembunyi dalam kertas grenjeng tersebut. Kontan saja, Mawan yang tertangkap basah tak bisa menghindari penangkapan. Buruh serabutan berambut gondrong tersebut dikeler ke markas polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Lewat penyidik, polisi menghitung barang bukti pil tersebut, sejumlah 224 butir yang rencananya akan dijual. Meski demikian, Satresnarkoba masih mendorong pendalaman penyidikan karena ingin menggali keterangan Mawan tentang modus penjualan, harga barang serta target pemasaran produk kesehatan yang harusnya dikonsumsi dengan resep dokter itu.
“Penyidikan masih berjalan, tersangka dikenai pasal 197 sub pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,” terang Kasubbag Humas Polres Malang, Kompol Farid Fathoni. Ancaman penjara maksimal bila Mawan terbukti melanggar UU Kesehatan adalah 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.(fin)

Berita Terkait

Berita Lainnya :