Kerja Part-Time, Mengaku Diperkosa

 

 
MALANG – Panik membuat mahasiswi semester akhir berinisial UYR, 23 tahun, membuang bayi yang baru saja dilahirkannya. Jenazah bayi itu ditemukan warga di pintu air selokan kali Putuk pertigaan Jalan Joyo Tambaksari-Jalan Simpang Gajayana (belakang Sardo, Red) pada pukul 11.00 kemarin. UYR yang sudah diamankan polisi, mengaku berbadan dua karena diperkosa.
Ya, pasca penemuan bayi di belakang Sardo, warga Joyo Tambaksari RT 01 RW 01 Kecamatan Lowokwaru menggerebek rumah kos di Jalan Tambaksari, semalam. Warga juga mengamankan UYR yang kemudian dibawa ke Polsek Lowokwaru didampingi oleh aktivis Women Crisis Centre (WCC). Kepada aktivis WCC Mariam Jamilah, UYR mengaku diperkosa hingga berbadan dua. Karena kalut dan bingung ketika melahirkan, ia pun membuang darah dagingnya itu. 
“Dia mengaku kerja part-time sebagai penjaga toko, asli dari Sumenep dan ibunya sedang sakit kanker stadium empat,” ujar aktivis itu kepada Malang Post. 
Terkait kasus pemerkosaan yang dialami UYR, belum bisa digali lebih banyak, karena dia masih histeris. Namun UYR sempat bercerita bahwa pelakunya adalah teman dari temannya. Awalnya, dia tidak mengejar pelaku yang memperkosanya. Namun ketika tahu hamil, UYR berusaha mencari si pelaku, namun sang pria telah kabur ke Kalimantan.
Versi UYR, sebenarnya ia berniat menjaga bayinya hingga lahir. Tapi karena melihat situasi ibunya yang sakit, maka ia tak berani bercerita. Ia sendiri melahirkan pada Rabu (10/1) sekitar pukul 18.00, yang masih menurut pengakuannya bayi itu dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa. Saat tengah malam, ia membuang bayinya itu ke sungai.
“Ia mengaku sempat cuti, sekarang kuliah lagi,” tegas Mariam.
Sesuai data yang ditelusuri Malang Post, UYR diduga adalah mahasiswi di PTN di kampus Jalan Veteran. Data yang ditelusuri Malang Post forlap.ristekdikti.go.id, namanya identik dengan nama mahasiswi di Fakultas Ilmu Administrasi. Perempuan ini adalah salah satu penghuni rumah kos di samping makam Merjosari.
"Warga mulai curiga setelah mengamati perubahan fisik terduga. Sebelumnya terlihat besar tapi kok hari ini kempes. Kami masih menduga," kata Ketua RT 01 RW 01 Edy Harianto, kepada wartawan tadi malam di Polsek Lowokwaru. 
Usai penemuan jasad bayi, Edi menerima laporan warga terkait terduga pelakunya. Barang-barang milik terduga sudah ditaruh di depan kos-kosan. Sesaat kemudian, perempuan itu kedatangan sebuah mobil yang disebut Grab.
"Kami usir mobil yang datang mau menjemput, sebelum dia pindah saya datangi dulu. Ada juga bercak darah di kos tersebut walaupun kami tidak tahu pasti apakah ini darah karena bekas melahirkan atau darah yang lain," sambung Edy. 
Bayi malang tersebut ditemukan Dulhasim 64 tahun warga Jalan Joyo Tambaksari RT 10 RW 02 Merjosari. Pria yang kesehariannya adalah petugas kebersihan di lingkungan itu, tak menyangka ada bayi terapung di selokan. 
“Saya sedang piket bersih-bersih kali. Saya kira anak kambing, ternyata mayat bayi yang menyangkut di besi pintu air kali,” kata Dulhasim kepada wartawan kemarin siang.
Dulhasim yang melihat ada bayi di kali, langsung berteriak minta tolong kepada warga sekitar. Tak lama, kerumunan warga menyemuti lokasi selokan penemuan bayi. Beberapa ibu yang ada di lokasi, tak kuasa menahan histeria ketika melihat ada mayat bayi masih tertelungkup dan mengapung tanpa nyawa.
Warga Jalan Gajayana 1/C 699A Dinoyo Lowokwaru, Zainal 49 tahun, adalah orang pertama yang memberanikan diri turun ke kali. Dengan hati-hati, dia mengangkat bayi yang ternyata diketahui berjenis kelamin perempuan itu. Ibu-ibu dan warga sekitar yang melihat, menangis menyaksikan bayi tersebut diangkut.
“Ya Allah, ya Allah, Astaghfirullah,” seru warga. 
Dua orang ibu di pinggir selokan, juga tampak menutupi mukanya karena bergidik melihat jenazah bayi ini. Setelah mengangkat bayi, Zainal menempatkannya di dalam kardus. Warga lain, sudah menelepon Polsek Lowokwaru dan diikuti Unit Inafis Polres Makota yang langsung meluncur ke lokasi setelah menerima laporan.
Setibanya di lokasi, polisi langsung melakukan olah TKP dan identifikasi. Dari data yang dihimpun dari petugas forensik, bayi tersebut berjenis kelamin perempuan, dengan perkiraan usia bayi antara 7-8 bulan alias lahir prematur. Berat bayi diperkirakan antara 2,5 sampai 3 kilogram dengan kondisi kulit pucat.
Luka fisik tidak terlihat dari jenazah bayi kecuali beberapa lecet. Saat ditemukan jenazah tersebut belum mengeluarkan bau busuk. Sehingga polisi, sementara membuat estimasi bahwa pembuangan bayi ini terjadi tidak lama sejak bayi ditemukan. Dalam istilah forensik, bayi ini memasuki fase rigor mortis, yakni fase di mana keseluruhan otot tubuh menjadi kaku.
Fase rigor mortis terjadi satu sampai empat jam setelah kematian. Sebab, di atas empat jam, kondisi tubuh jenazah akan berubah. Yakni, darah yang berkumpul dalam tubuh mati lalu warna kulit menghitam. Tapi, dari pantauan Malang Post, kondisi bayi masih memerah dan belum ditemukan penghitaman warna kulit.
Kaki, bibir dan jemari bayi memucat. Sehingga, kesimpulan forensik menyempitkan waktu pembuangan bayi, antara pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB. Selain itu, petugas forensik menduga bayi ini masih sempat merasakan kehidupan sebelum akhirnya dibunuh oleh pelaku yang membuangnya ke selokan.
Kapolsek Lowokwaru, Kompol Pujiyono mengatakan kepolisian telah melakukan olah TKP, serta memulai proses penyelidikan untuk mengungkap kasus pembuangan bayi pertama di Kota Malang tahun 2018. 
“Kasus ini kami dalami dengan penyelidikan awal,” kata Pujiyono kepada wartawan, saat memimpin olah TKP kemarin.
Polisi masih menunggu hasil otopsi tim dokter forensik RSSA Malang, apakah bayi sudah meninggal saat dilemparkan ke saluran air, atau malah dibuang dalam keadaan hidup. (fin/ary/han)

Berita Lainnya :