Mahasiswi yang Buang Bayi , Tak Pegang Uang Sepeserpun


MALANG – UYR 23 tahun, mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jalan Veteran yang membuang bayinya, ditangani Polres Malang Kota. Wanita ini tak memegang uang sepeserpun saat melahirkan bayinya di kamar kos. Kehidupan individualistis di lingkungan kos mahasiswi, menyebabkan kehamilannya tak terdeteksi.
Dari pantauan Malang Post hingga Kamis malam, rekan-rekan kos pelaku tidak tahu menahu soal pembuangan bayi. Penghuni kos malah baru tahu ada kasus ini, setelah warga ramai-ramai menggerebek rumah kos tersebut.
Salah satu penghuni kos, Fastabikhul Khoirot, 22 tahun mahasiswi Ilmu Politik FISIP UB, mengaku hanya mengenal sosok UYR dari rutinitas harian di rumah kos.
“Di sini kan individualis, gak banyak komunikasi antar penghuni kos. Saya saja hanya say hai dengan dia (UYR),” katanya.
Dalam kesehariannya, penghuni kos tersebut tidak banyak berinteraksi walaupun satu rumah. Karena, kebanyakan dari mereka, seperti Fasta dan UYR, adalah mahasiswi semester akhir yang sedang memperjuangkan kuliah agar segera lulus. Interaksi dengan rekan satu kos juga tak banyak terjadi.
Karena itulah, dia mengaku tidak tahu apakah UYR pernah hamil atau tidak karena memang tidak terlihat dari kehidupan sehari-hari. Fasta sendiri ikut datang ke kantor Polsek Lowokwaru, untuk mengantarkan kue dan makanan untuk UYR, atas permintaan dari Women’s Crisis Center Dian Mutiara yang melakukan advokasi serta pendampingan.
Mariam Jamilah, aktivis WCC Dian Mutiara, mengatakan UYR dalam kondisi tidak memiliki uang, bahkan ketika dia mengalami kontraksi di kamar kos.
“Dia memang sedang tidak memiliki uang, dia juga belum makan seharian. Karena itulah kami minta penghuni kos antarkan makanan, saya juga belikan makanan,” jelas Mila, sapaan akrabnya.
“Dia tulang punggung keluarga, kuliah dan kerja serabutan part time. Saat kandungan sudah 9 bulan, dia mau melahirkan dan tidak memiliki uang. Dia bingung saat kontraksi terjadi. Dia mau ke RS tapi tak ada uang, akhirnya memutuskan melahirkan sendiri,” beber Mila. Sebelumnya, UYR sudah mempersiapkan diri untuk pindah dari kos tersebut karena diusir setelah menunggak uang sewa kamar.
Setelah melahirkan, dia berharap membawa bayinya ke tempat baru, agar tak ada orang yang mengenalinya. Tapi ternyata bayinya meninggal saat dilahirkan. Karena itulah, Mila menyebut UYR sebagai korban situasi. Dia meminta kepolisian, tak hanya menghakimi UYR sebagai pelaku saja.
 “Klien kami ini juga korban,” tutupnya.

Berita Lainnya :

loading...