Mertua Picik, Suami Pencemburu

 
BOLEHKAH mertua menengahi pertengkaran anak dan menantunya? Tentu saja boleh. Tapi, bila malah mengadu domba anak dan menantu agar bertengkar, istilah picik sungguh cocok bagi si mertua. Mertua semacam inilah yang dihadapi oleh Amel, 52, warga Kelurahan Pandanwangi, Blimbing.
Kedurhakaan mertua, ditambah dengan mulut kotor serta kekerasan fisik dari Ronald 54 tahun, membuat Amel tak tahan dengan biduk rumah tangganya. Dia mengajukan gugatan cerai karena tak mau lagi diadu oleh mertuanya dengan si Ronald. 
Bahtera pernikahan Amel dan Ronald yang menikah pada 1992, sejatinya sangat indah di awal-awal pernikahan. Pasalnya, semua percekcokan bisa diselesaikan dengan cara damai. Namun, pada tahun 2014 lalu, hidup rumah tangga Amel mulai seperti neraka. 
Ronald yang sepertinya memasuki puber kedua, mulai cemburu berlebihan. Gilanya, Ronald mencemburui mantan suami Amel yang sudah meninggal. Ronald terus mengajak Amel bertengkar, menuduhnya berselingkuh dengan pria lain. 
Dia juga melontarkan makian kotor kepada Amel. Tak jarang, benda-benda dilemparkan kepada Amel. Bahkan, kalimat ancaman pembunuhan pun terucap dari bibir Ronald. Neraka ini semakin membuat Amel menderita, karena dia masih harus satu rumah dengan mertua.
Bukannya menjadi orangtua yang bijak agar rumah tangga anaknya bisa bertahan sampai akhir hayat, mertua Amel malah memanas-manasi Ronald. Semua tindak tanduk Amel, dilaporkan kepada Ronald oleh si mertua picik. 
Tiga anak hasil perkawinan Amel dan Ronald, tak bisa merekatkan tali pernikahan keduanya. Anak pertama dan kedua, sudah lama meninggalkan rumah yang penuh amarah dan kepicikan. Hanya anak bungsu saja yang harus menderita dengan pertengkaran keduanya. 
Kekerasan dari Ronald tak hanya mengenai Amel saja, tapi juga anak bungsu yang masih berusia 14 tahun. Dengan semua dalil yang diajukan oleh Amel di sidang PN Malang, ketua majelis hakim M Fatkur Rochman SH, MHum, mengabulkan pengajuan gugatan cerai Amel. 
“Menerima dan mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat pada 31 Desember 1992, putus karena perceraian dengan segala akibat hukumnya,” tutup Fatkur. (fin/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :