Gembong Curanmor Diciduk

 
MALANG – Jangan coba-coba melakukan aksi pencurian kendaraan bermotor. Jika tertangkap massa, bisa babak belur dihajar ramai-ramai. Jika tertangkap polisi, bisa mendekam di tahanan hingga bertahun-tahun. Seperti yang dialami Ardi Setiawan alias Jalal, 23 tahun dan Fikri Sunawan, 27 tahun. Keduanya warga Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Mereka terlibat pencurian sepeda motor Honda Scoopy dan CB 150 R. Keduanya ditangkap Unit Reskrim Polres Malang, Rabu (17/1) lalu. Akibatnya, mereka harus makan dan tidur di sel tahanan bersama pelaku kejahatan lainnya.
Kedua pelaku curanmor ini ditangkap secara terpisah. Jalal dibekuk di wilayah Desa Krebet, Bululawang sedangkan Fikri di rumahnya di Harjokuncaran. Penangkapan dua gembong curanmor ini berdasarkan hasil pengembangan dari tersangka Yuda, 24 tahun, warga Desa Harjokuncaran, yang lebih dulu ditangkap dan kini sudah meringkuk di Mapolsek Turen.
“Kedua tersangka ini merupakan satu jaringan. Mereka mengaku mencuri motor di dua lokasi, yakni di wilayah Kecamatan Turen dan Kepanjen. Namun tidak menutup kemungkinan, TKP pencurian bisa bertambah dan kini masih dikembangkan oleh anggota,” terang Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung.
Di Kecamatan Turen, mereka mencuri sepeda motor Honda Scoopy pada 12 Desember 2017 lalu. Motor tersebut dicuri ketika diparkir di pinggir jalan. 
“Namun motor itu gagal kami bawa kabur, karena ketahuan warga. Yuda ditangkap oleh warga, sedangkan saya dan Fikri saat itu berhasil kabur,” ujar tersangka Ardi Setiawan alias Jalal.
“Selama ini saya tidak kabur ke mana-mana, hanya bekerja di proyek bangunan di sekitar Bululawang. Ketika ditangkap, saat itu saya sedang mancing belut di sawah,” sambunya.
Sedangkan sepeda motor Honda CB 150 R, dicuri di Jalan Efendi Kepanjen, pada 30 Oktober 2017 lalu. Korbannya adalah Redi Sulamayong, 21 tahun, warga Desa Sukorejo, Blitar. Motor diembat oleh komplotan ini ketika diparkir di teras depan rumah kos, saat tidak dikunci setir.
Modus operandinya, mereka keliling mencari sasaran. Selanjutnya setelah mendapat incaran, mereka lalu berbagi tugas. Motor diambil dengan cara didorong, yang kemudian dibawa pulang dan dijual kepada Fikri seharga Rp 2 juta.
“Uang hasil penjualan motor kami gunakan untuk makan dan foya-foya. Namun setelah ini saya kapok dan tidak lagi melakukan pencurian,” tutur keduanya.(agp/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :