Pemakaman Korban Bus Medalis Mas

MALANG – Salib kayu tanpa nama terpancang di atas makam Markami (64 tahun), korban meninggal kecelakaan maut bus Medali Mas di Probolinggo. FX Sukatman, suami Markami, berusaha tetap tegar pada pemakaman istrinya, kemarin pagi. Ketika musibah itu terjadi, ia terbangun, tergeletak tak berdaya di antara pecahan kaca dan jasad para penumpang, termasuk istrinya.

Markami dimakamkan di TPU Jalan Balean Barat, Kedawung. Sedangkan jenazah putri Markami, Maria Yustina Eni Budoyo dibawa ke Gianyar Bali.  Kepedihan begitu terasa di pemakaman Markami. Utamanya saat rapalan doa pastur terdengar lirih di dekat pusara. Dengan wajah tenang, Sukatman mengantarkan peti jenazah istrinya untuk dikebumikan. Ekspresi Sukatman yang seperti lelah dan pasrah, sesekali tersirat saat melihat jenazah istri yang dinikahinya puluhan tahun, dikembalikan ke dalam tanah.
Satu genggam bunga yang dibawanya, ditabur di atas makam sang istri. “Nanti tolong dibuatkan salib yang ada namanya ya. Salib kayu ini sementara saja,” ujar Sukatman lirih. Anak-anak, serta cucu Markami pun hadir untuk melepas kepergian wanita yang meninggal dalam perjalanan pulang dari pulau Dewata Bali ke Malang.
Walau tegar, Sukatman sama sekali tak menyangka, perjalanan sepulang dari pulau pelesir tersebut, berubah jadi duka nestapa. “Kami berangkat berlima, dari Bali ke Malang bareng anak-anak juga,” kata Sukatman kepada wartawan kemarin. Dari Terminal Ubung, dia memesan bus Medali Mas dengan kursi nomor 2, 3 dan 4 secara berurutan.
Markami, istrinya mengambil kursi di belakang nomor tersebut, karena sudah diisi orang lain.
Walaupun demikian, takdir tetaplah takdir, karena Markami memilih duduk di jajaran kursi sebelah kanan. Sementara, Sukatman, menantu serta cucu-cucunya, berada di jajaran tengah deret kursi kiri.
Ketika tabrakan terjadi, dia hanya bisa tergeletak tak berdaya di antara pecahan kaca dan mayat-mayat. “Istri saya tetap duduk di kursi deret kanan,” sambungnya.
Dia menyebut bahwa kondisi bagian kanan bus Medali Mas rusak parah. Lokasi tertabraknya badan bus, juga menjadi tempat istrinya duduk. Dia serta keluarganya yang lain syok berat melihat Markami langsung menghembuskan nafas untuk kali terakhir. Kendaraan yang harusnya mengantarkan mereka dengan selamat sampai di Malang Jumat pagi, digempur musibah.
“Saya baru tiba di Malang pukul 11 malam hari Jumat lalu,” tambah Sukatman.

Berita Terkait

Berita Lainnya :