magista scarpe da calcio Akui Gelar Pengajian Hingga Ritual Setiap Hari


Akui Gelar Pengajian Hingga Ritual Setiap Hari

 
MALANG - Ada kisah lain di balik hanyutnya Eris Maulidina, 13 tahun, santriwati Pondok Surya Rahmatullah, Jalan Terong, Bumiayu, Kota Malang. Ternyata, pondok tempat dia menimba ilmu korban,  ternyata tidak disetujui warga sekitar. Kepada Malang Post, warga yang rumahnya berjarak sekitar sepuluh meter dari pondok itu mengatakan kehadiran pondok tersebut sudah 22 bulan. 
“Mereka ini datangnya dari luar kota. Sang pemilik berasal dari Mojokerto. Ketika datang dan membangun pondok, tidak meminta izin terlebih dahulu dengan kami,” terang salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya.
Selain itu, tamu yang datang pada pondok tersebut kebanyakan dari luar kota dan dinilai warga tidak punya sopan santun ketika berkunjung. 
“Mereka terkadang kalau mengaji dan melakukan ritual terkadang sampai tengah malam dan mengganggu kenyamanan warga sekitar,” tukas dia.
Lebih lanjut, ia menuturkan seluruh penghuni pondok cenderung menutup diri dengan masyarakat sekitar. 
“Nah, ketika ada kejadian begini baru menghebohkan warga. Banyak orang-orang yang datang biasanya berobat alternatif juga disana,” lanjut dia.
Selama pencarian korban, dikatakannya pemilik pondok tersebut lebih sering mengurung diri di dalam kamar. 
“Saya tidak tahu dia sedang apa. Kemungkinan menjalani ritual. Karena memang pondoknya itu mengajarkan Islam Kejawen,” tukas dia.
Ia berharap, para penghuni pondok tersebut agar berbaur dan membuka diri kepada warga sekitar.
“Supaya tidak terjadi salah paham dan lebih enak dalam menjalin komunikasi. Toh mereka juga tinggal di lingkungan kami. Biar sama-sama enak,” tandas dia.
Sementara itu, pemilik pondok Gus Samiaji  merasa keberadaan pondoknya tersebut tidak mengganggu kenyamanan warga. 
“Dengan keberadaan pondok saya ini, warga merasa terbantu. Karena banyak tamu dan pondok saya bisa menerangi jalan yang biasanya gelap. Jalan tersebut bisa tembus ke Gadang Gang 15. Berkat pondok saya jadi terang jalannya,” tandas dia singkat.
Gus Samiaji juga mengaku sudah melakukan berbagai usaha untuk menemukan, Dina sapaan akrabnya Eris Maulidina, santrinya yang hilang tersebut. 
“Dina ini sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Sudah seperti anak. Saya sudah mengadakan pengajian dan beberapa ritual setiap hari, biar segera ketemu,” papar dia kepada Malang Post.
Ia mengatakan, ketika kejadian, Dina pergi ke sekitar sungai bersama dengan anaknya dan juga dua keponakannya. 
“Jumlahnya sekitar delapan orang. Mereka pergi tidak pamit. Sebetulnya saya sudah melarang seluruh santri saya untuk bermain-main di sekitar daerah sungai,” lanjut dia.
Hingga memasuki hari ke enam, pencarian terhadap Eris Maulidina, masih terus belangsung. Ibu kandung korban Lilis Purwanti, 35 tahun dan ibu asuh korban, Fatimah, 55 tahun, mengaku ikhlas dan mempercayakan pencarian kepada seluruh tim SAR. Lilis mengaku sempat kaget ketika diberi kabar bahwa anaknya hanyut terbawa sungai. Ketika itu, paman Dina meminta izin kepada dirinya untuk membawa anaknya ke sebuah pondok untuk mengaji. 
“Kemudian, sekitar 14 hari, saya diberi kabar kalau Dina hanyut, saya kaget sekali. Hati saya hancur, bagaimana dengan perasaan ibu, pasti lebih hancur lagi,” terang dia.
Selanjutnya, Lilik bersama Fatimah mendatangi pondok tersebut guna memastikan kabar. Ternyata benar, Dina hanyut ketika bermain di sekitar sungai bersama tujuh orang temannya. 
“Ibu langsung histeris. Sejak itulah saya dan beberapa saudara menginap disini. Sebetulnya juga sungkan, tapi saya juga ingin tahu langsung perkembangan pencarian anak saya,” jelas dia.
Lebih lanjut, ia mengaku sudah mengikhlaskan dan memasrahkan peristiwa tersebut kepada Yang Maha Kuasa. 
“Saya sudah ikhlas, saya pasrah. Saya hanya berharap segala sesuatunya disempurnakan. Moga-moga cepat ketemu. Dina itu anak yang baik dan penurut,” imbuh dia sambil menangis.(mg16/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang