Hati-hati Tulis Status atau Diperiksa Polisi


MALANG – Jangan asal membuat status di akun facebook (FB), jika tidak ingin bermasalah dengan hukum. Kejadian yang menimpa VAM, remaja berusia 14 tahun, asal Jalan Saudara, Desa Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, bisa menjadi pelajaran. Kemarin VAM diamankan Polres Malang karena status yang dibuatnya.
Pada hari Minggu lalu, lewat akun FB bernama Khenyott Dhellown, VAM membuat status yang dianggap melecehkan Pancasila. Bunyinya, ‘Hee rekk pancasila saiki onok seng anyar: 1. Kenalan disek, 2. Pacaran, 3. Sex, 4. Meteng, 5. Mbayii’. Karena statusnya tersebut, banyak membuat netizen geram.
Untung permasalahan ini tidak sampai berlanjut. Meski sempat menjalani pemeriksaan di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang, VAM tidak sampai diproses hukum. Pihak pelapor dan perangkat desa sudah bertemu, dan sepakat untuk tidak dilanjutkan.
Mengingat selain karena usianya masih di bawah umur, VAM juga tidak ada niatan untuk mencederai dasar negara. VAM juga telah membuat surat pernyataan tertulis permohonan maaf, serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
“Saya minta maaf dengan status di akun Facebook, yang dianggap melecehkan dasar negara. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” kata VAM, dengan wajah tertutup kerudung usai menjalani pemeriksaan.
Dalam surat pernyataan tertulis, VAM menjelaskan, dirinya memosting kata-kata tersebut pada Minggu 21 Januari lalu. Ia mengakui membuat status itu bersama dengan temannya bernama Paijo (nama julukan), di halaman Stadion Kanjuruhan Kepanjen.
Sementara itu, Axel Karisma, anggota Komunitas Arek Kepanjen merupakan pelapor dugaan kasus pelecehan Pancasila yang dilakukan oleh VAM. “Saya melihat postingan VAM di media sosial pukul 13.30, yang membuat tulisan mengubah isi Pancasila,” ungkap warga Desa Kedungpedaringan, Kepanjen ini.
Temuannya itu, kemudian disampaikan pada grup komunitas Kepanjen. Selanjutnya agar permasalahannya tidak berlanjut, Axel bersama dengan teman sesame Komunitas Arek Kepanjen, mendatangi rumah VAM dengan diantarkan Prayit, Ketua RT04 setempat. Tetapi VAM tidak ada di rumah, hanya ada neneknya saja.
“Ketika kami datang neneknya sempat kaget. Saya langsung menjelaskan semuanya, dan meninggalkan nomor telepon, supaya ketika pulang VAM menghubunginya,” jelasnya.
Tetapi sampai Senin pagi, VAM tidak menghubungi Axel. Kemudian Axel berkoordinasi dengan anggota Pemuda Pancasila Kepanjen, untuk kembali mendatangi rumah VAM. “Ternyata saat itu VAM sudah diamankan di Balai Desa Tegalsari. Ia (VAM) membuat surat pernyataan serta diinterogasi, kemudian dibawa ke Polres Malang,” terangnya.
Persoalan pelecehan Pancasila sebagai dasar negara ini, menjadi viral di media sosial. Baik di grup Komunitas Peduli MAlang (KPM) ataupun Informasi Malang Raya (IMR). Banyak netizen yang memberikan komentar pedas, terkait dengan status yang dibuat oleh VAM.
Salah satunya adalah pemilik akun Sony Vaio Eneos. ‘Oleh2 e lek kakean micin yo ngunu iku’. Kemudian komentar pemilik akun Brown Shirt: ‘Sek licek y owes ngomg meteng, mbayi…oalah jaman e wes edan’.
Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda mengatakan, dalam pemeriksaan VAM memang mengakui membuat status tersebut. Namun tidak ada niatannya untuk melecehkan dasar negara. Ia membuat status tersebut hanya spontanitas saja. VAM ingin mencari ketenaran semata, karena usianya yang masih anak-anak.
“Dari pihak pelapor dan perangkat desa, sudah kami pertemukan dan sepakat untuk tidak melanjutkan permasalahan ini. VAM sudah meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Apalagi usianya juga masih di bawah umur,” tegas Adrian Wimbarda.(agp/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :