Keberadaan Pondok Surya Rahmatullah Bumiayu Diresahkan Warga, Gus Samiaji Turuti Ketua RT

MALANG – Keresahan warga terhadap keberadaan Pondok Surya Rahmatullah di Jalan terong Kelurahan Bumiayu Kecamatan Kedungkandang makin mencuat pasca hanyutnya Eris Maulidina (13), salah santu santri di pondok tersebut, yang hingga kemarin tubuhnya belum ditemukan. Sebelumnya warga sudah sempat mengeluhkan keberadaan pondok yang diasuh oleh Supriadi alias Gus Samiaji.
Sahid (35), ketua RT setempat mengaku sudah pernah berusaha meredam keresahan warganya tersebut. Kepada Malang Post, Sahid membenarkan adanya aduan warga terkait ketidak nyamanan mereka terkait keberadaan pondok tersebut. Warga merasa pemilik pondok tersebut tidak ‘permisi’ terlebih dahulu kepada warga sekitar. Selain itu, sang pemilik pondok juga tidak pernah srawung alias membaur  dengan warga setempat. 
“Iya, saya mendengar hal itu. Sempat ada keluhan warga juga. Tapi, sebagai ketua RT saya sudah berusaha menengahi dan tidak ada masalah,” terang dia.
Sahid mengatakan, soal pembangunan pondok tersebut sudah mendapatkan izin dari dirinya. “Ketika itu, Pak Priadi (Supriadi, nama asli Gus Samiaji, red) ke sini meminta izin untuk membangun musala. Dia bilang juga akan menampun anak-anak yatim juga. Namanya orang ingin membangun tempat ibadah dan berbuat baik, ya masa kami mau larang,” jelasnya.
Kemudian, lanjut Sahid, setelah kedatangan warga Mojokerto dengan aktifitas pondoknya tersebut, membuat warga sedikit terusik. Sahid pun langsung ambil tindakan. Ia meminta Gus Samiaji untuk segera membuat surat pindah. 
“Akhirnya, sekitar bulan Januari 2017 itu dia berikan surat tersebut kepada saya. Saya juga bilang ke beliau kalau warga sedikit terganggu dengan kegiatan yang dia lakukan ketika malam hari,” beber Sahid.
Setelah itu, pemilik pondok pun memutuskan untuk mengalah. Ia memilih untuk melakukan dzikir dan mengaji di ‘basement’ pondok dan melirihkan suaranya ketika sedang mengaji. “Saya juga sudah komunikasikan dengan warga. Tak hanya itu, saya juga sudah diskusikan hal ini dengan Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas daerah sini,” lanjut dia.
Sahid juga menjabarkan, menjadi warga ataupun tamu yang hanya datang bertandang sangat tidak mudah. Ia memperketat aturan dan langsung menegur warganya jika melanggar. “Sebab, pada tahun 2015 lalu, ada salah satu warga saya yang ditangkap Densus 88, diduga, dia dan temannya ikut aliran ISIS. Dari situlah saya belajar dan semakin memperketat aturan yang ada,” tandasnya.
Seluruh tamu yang datang menginap, jika lebih dari 1x24 jam harus melakukan laporan tertulis kepada dirinya. Selain itu, jika ada warga yang datang dan hendak menetap, juga akan dimintai surat keterangan dan harus disiplin mengikuti aturan yang ada di sana. 
“Kalau ada warga yang merasa tidak nyaman, saya langsung datangi yang bersangkutan. Langsung saya ajak duduk bersama dan langsung selesai saat itu juga,” imbuh dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa warga merasa tidak nyaman dengan keberadaan pondok tersebut karena dinilai menutup diri. Para warga meminta sang pemilik pondok dan seluruh penghuninya melakukan komunikasi dengan warga supaya tidak terjadi salah paham. 
Sementara itu, Gus Samiaji merasa keberadaan pondoknya tersebut tidak mengganggu kenyamanan warga. “Dengan keberadaan pondok saya ini, warga merasa terbantu. Karena banyak tamu dan pondok saya bisa menerangi jalan yang biasanya gelap. Jalan tersebut bisa tembus ke gadang gang 15. Berkat pondok saya jadi terang jalannya,” tandas dia singkat.(mg16/lim)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...