Si Kembar Korban Penjambretan Minta Dirawat Satu Kamar

 
SURABAYA - Linangan air mata masih menggenangi pipi Winarsih. Perempuan 40 tahun itu masih sulit menghilangkan kesedihan yang dialami dua keponakan kembarnya, Andiana-Andiani. Apalagi, Ani, panggilan Andiani, harus kehilangan kaki kanannya. Ya, Andiana dan Andiani merupakan korban penjambretan di kawasan Pakal, Surabaya pada Selasa malam (18/7). Itu terjadi setelah mereka melakukan aksi heroik mengejar penjambret yang merampas handphone-nya.
Kini kondisi keduanya menunjukkan perkembangan yang positif. Winarsih, sang bibi, juga telaten menemani dua keponakannya itu di rumah sakit. Dia pula yang pontang-panting membantu. Terutama bila dalam perawatan dibutuhkan ini dan itu. Maklum saja, dua gadis tersebut tidak lagi memiliki ibu.
’Tadi dokter bilang kondisi Andiani turun. Hb-nya turun lagi,’’ jelas perempuan asli Gresik tersebut sembari berlinang air mata.
Meski sudah berusaha tegar, dia tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Maklum saja, kedekatannya dengan si kembar memang begitu terlihat. Sepeninggal ibundanya, Andiana dan Andiani memang lebih banyak hidup dengan sang bibi. Sementara itu, kondisi Andiana sudah stabil. Jika pada hari sebelumnya, dia sempat sulit diajak berkomunikasi, kemarin Ana, panggilan akrabnya, sudah bisa berbicara dengan jelas.
’’Tetapi yang sering ditanyakan ya kondisi Ani,’’ tutur Winarsih.
Bahkan, mereka minta dirawat dalam satu kamar. Namun, Winarsih beralasan bahwa ruangan tidak cukup untuk berdua. Padahal, yang terjadi, penanganan tim dokter berbeda. Ani baru saja menjalani amputasi kaki kanan.  Meski begitu, Ana terus mendesak Winarsih. Namun, beragam upaya dilakukan untuk membujuk keponakannya. Dia terus berupaya mengalihkan perhatian dan pikiran Ana. Misalnya, dengan bercerita soal pelaku penjambretan yang mencelakakan keduanya.
’’Tadi dia juga bilang, semoga cepat ketangkap penjambretnya,’’ ujarnya.
Tangis Winarsih kembali pecah ketika aparat kepolisian mengunjungi Ana dan Ani di RSUD dr Soetomo. Mereka dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal. Kasatbinmas Polrestabes Surabaya AKBP Minarti sampai harus menenangkan Winarsih.
’’Ibu harus tegar ya Bu. Ini ujian saja dalam hidup,’’ ungkap Minarti. ’’Saya nggak sanggup Bu. Apalagi memikirkan salah satu dari mereka tidak bisa berjalan dengan sempurna,’’ sahut Winarsih.
Memang miris, kesedihan tersebut sepertinya menular. Seluruh petugas yang mendengar jeritan hati Winarsih pun tidak sanggup membendung air matanya. Mereka seperti ikut merasakan kesedihan si kembar tersebut.
Sementara itu, Kepala IGD RSUD dr Soetomo dr Adria Hari Astawa SpBA mengungkapkan, meski kadar darah merah Ani turun, kondisinya berangsur stabil.
Alat bantu pernapasan di mulut Ani pun sudah dalam proses pelepasan meski belum benar-benar dilepas secara sempurna.
’’Ini terus kami observasi kondisinya seperti apa. Terutama bagian kaki yang diamputasi. Kita lihat apakah masih ada tanda-tanda kematian jaringan atau tidak,’’ ungkapnya.
Sementara itu, Ana saat ini juga masih diobservasi. Dokter sedang merencanakan tindakan untuk memasang pen pada kakinya yang patah.
’’Masih kami rencanakan. Tidak bisa ditentukan kapan pastinya,’’ tutur Adria.
Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal mengungkapkan akan bekerja keras menangkap pelaku penjambretan tersebut. Dia menyatakan bahwa anak buahnya sudah melakukan pemetaan. Terutama di wilayah mana saja penjambret biasa beraksi.
’’Karena wilayah tengah sudah kami perkuat, kini mereka menyasar perbatasan kota,’’ ucap perwira dengan tiga melati di pundak itu.
Kendati begitu, dia mengaku tidak akan berputus asa. Pemerataan pengamanan akan dilakukan. Termasuk pada wilayah-wilayah yang cenderung jarang mendapatkan penjagaan.
’’Pelaku ini juga sudah tahu kapan harus melakukan tindak kejahatan, mereka selalu memilih jam di mana polisi jarang berada di tempat,’’ ujarnya.(dwi/bin/c20/git/jpg/jon) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :