Dikira Dirangkul Anaknya, Ternyata Pelaku Jambret

 
Tutik Tusikah, 65, warga Desa Talok, RT2 RW 3 Kecamatan Turen sebelumnya tidak menyangka pagi itu akan menjadi korban penjambretan. Semula dirinya bermaksud hendak berbelanja sayur di depan gang rumah. Namun, nasib apes dialami ketika seorang penjambret menghampiri dirinya dan merampas kalung emas seberat 7,5 gram.
Ibu enam anak ini memiliki cerita tersendiri sebelum mengalami penjambretan. Saat hendak berbelanja, dirinya dihampiri anaknya yang nomor lima yang kemudian menyerahkan makanan untuknya. Setelah menyerahkan makanan, anaknya tersebut pamit pulang. Karena anaknya tidak tinggal serumah dengan Tusikah.
Saat anaknya hendak pulang itu, Tutik Tusikah memberikan uang. Kemudian, korban melanjutkan perjalanan untuk berbelanja sayur. 
“Saat belanja sayur, saya dirangkul oleh seseorang. Saya kira itu anak saya, malah saya bilang kenapa balik lagi, kan sudah saya beri uang?,” kata Tutuk Tusikah saat ditemui Malang Post di rumahnya, kemarin.
Setelah menengok kebelakang, baru tahulah yang merangkulnya tersebut bukan anaknya, melainkan penjambret. Seketika Tuslikah lemas, apalagi diancam menggunakan pancor. Tidak cukup itu, pelaku juga mengancam akan menghabisi nyawanya.Dalam waktu sekejap, elaku mengambil kalung emas yang melingkar di lehernya, kemudian kabur. “Saya sudah curiga kalau penjual sayur itu mukanya ketakutan,” imbuhnya. 
Tak bisa berbuat apa-apa, dia pasrah ketika kalungnya diambil. Termasuk dia harus merasakan sakit ketika didorong pelaku hingga tersungkur di tanah. Saat pelaku pergi, korban memberanikan diri berteriak minta tolong yang menghebohkan warga sekitar.
“Saat berteriak tolong, warga sudah banyak yang mengejar. Termasuk pak Polisi yang patroli juga mengejar,” terangnya. Kemudian, dia melihat dari kejauhan kedua pelaku sudah dihajar massa. 
Sekitar pukul 09.00 WIB, dirinya diminta datang ke Polsek Turen untuk membuat laporan atas peristiwa yang baru saja dialami tersebut.
“Yang saya tahu mereka sudah babak belur. Yang ngancam saya yang memakai kaos hitam,” ucapnya berapi-api. 
Menurutnya, di Jalan Raya Desa Talok, Kecamatan Turen, sudah berulang kali terjadi penjambretan. Namun, saat itu dirinya tidak menyangka jadi korban penjambretan, lantaran menggunakan kalung di lehernya.
Pasca kejadian itu, dia akan lebih berhati-hati lagi saat beraktivitas di luar rumah. “Saya tidak akan memakai perhiasan mencolok lagi untuk berjaga-jaga diri,” pungkasnya. (big/jon)