Longsor Supit Urang, Kerahkan Anjing Pelacak dan Drone

 
MALANG – Hingga hari kedua, pencarian korban longsoran sampah, Agus Sujarno, 45, di TPA Supit Urang Mulyorejo Sukun, belum juga membuahkan hasil. Bahkan petugas harus mengerahkan berbagai alat pencarian. 
Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri menyebut pencarian harus dilakukan secara manual untuk memaksimalkan penggunaan alat.“Pertama, petugas lapangan sedang meratakan longsoran sampah, tempat diduga kali terakhir korban terlihat. Lalu, tim pencarian memakai alat sensor yang bisa mendeteksi tubuh korban dengan maksimal kedalaman sensor sekitar 10 meter. Kami juga mengandalkan drone,” kata Asfuri kepada Malang Post, di TPA Supit Urang, Kamis siang.
Menurut perwira polisi dengan pangkat dua melati emas di pundaknya itu, drone digunakan untuk memetakan dan mengisolasi area yang akan menjadi lokasi pencarian utama. Selain itu Police line dipasang untuk memudahkan petugas melakukan pencarian di lokasi ini. Setelah itu, area longsor diratakan terlebih dahulu.
Pemerataan lokasi pencarian yang sudah diisolasi, untuk memudahkan petugas melakukan pencarian. Pasalnya, kendala utama proses penemuan korban adalah kemiringan longsoran sampah yang tinggi dan curam. Asfuri mengatakan, longsoran ini membentuk curaman dengan kemiringan 70 derajat.
“Kami harus meratakan area longsor karena menghalangi proses pencarian. Kemiringan longsornya 70 derajat. Setelah meratakan area, alat sensor pencari korban bisa lebih dimaksimalkan,” ujar Asfuri. 
Selain mengerahkan alat sensor pencari korban, tim pencarian juga mengerahkan Unit K-9 Polres Makota. Penggunaan anjing pelacak di area sekitar tumpukan sampah, diharapkan bisa memperkecil skala area yang disisir. Asfuri menyebut semua personel yang melakukan pencarian masih memaksimalkan cara manual. Yaitu menggali sampah dan membuangnya ke area di luar lokasi yang telah diisolasi.
Asfuri mengatakan, penggunaan alat berat tidak direkomendasikan karena kurang efektif. Dia merinci, untuk menggunakan alat berat, petugas harus membuka jalan di sekitar gunungan sampah dengan alat berat. Proses membuka jalan baru ini membutuhkan waktu sekitar tiga hari agar pencarian dengan alat berat berjalan maksimal.
“Kami tidak menggunakan alat berat karena akan memakan waktu lama, minimal tiga hari. Waktu tersebut dipergunakan untuk membuka jalan, agar alat berat bisa bergerak dengan baik. Dengan harapan mempercepat pencarian, kami memakai cara manual, dibantu alat sensor,” tutup Asfuri.
Sementara itu, anggota BPBD Kota Malang, Andi menyebut tumpukan sampah menyebarkan amonia dan gas metan. Sehingga, para peserta pencarian korban, harus bergantian turun ke bawah selama 15 menit sekali. Selain itu, peserta pencarian juga dilarang merokok agar tak menyulut gas metan di sekitar tumpukan sampah.
Kepala DLH Kota Malang, Agus Edi Poetranto meminta para peserta pencarian untuk mengutamakan keselamatan diri sendiri. “Jaga keselamatan diri sendiri terlebih dahulu. Jangan sampai ada tambahan korban lagi karena tidak memperhatikan keselamatan,” tambah Agus Edi.
Sore kemarin, sekitar pukul 15.00 WIB, para anggota tim pencarian, menghentikan penyisiran. Pasalnya, gundukan sampah mengeluarkan suara seperti tanah yang retak yang sangat membahayakan bagi regu penolong. (fin/jon/mar)

Berita Lainnya :