Mengaku Pergi PSG, Siswi SMK Dijadikan Purel


MALANG –  Orangtua harus semakin hati-hati. Lakukan kroscek terhadap apapun alasan yang disampaikan oleh anak Anda saat berpamitan menginap di luar rumah dalam waktu lama.  Seperti yang diakui RKH (16 tahun), siswi SMK asal Kepanjen yang mengaku akan berangkat Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di sekolahnya, malah pergi bersama pria berinisial FR (19).
FR lalu melarikan RKH ke sebuah kos-kosan di kawasan Kepanjen selama tujuh hari tujuh malam. Selama itu pula, FR (maaf) menyetubuhi RKH yang masih di bawah umur. Aksi FR tidak berhenti sampai di situ, ia juga merayu RKH untuk mau menjadi Lady Companion (LC) karaoke dengan iming-iming bayaran Rp 200 ribu. Kasus ini terungkap setelah Polres Malang melakukan razia di karaoke-karaoke kawasan Kepanjen.
Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung melalui Kasatreskrim AKP Adrian Wimbarda menyebut, ada tiga orang yang diamankan dan diperiksa di Unit PPA Satreskrim Polres Malang.
“Korban masih duduk di bangku sekolah. Korban yang di bawah umur, diajak oleh terlapor FR ke kos-kosannya selama satu minggu, lalu dijanjikan uang Rp 200 ribu bila mau menjadi pemandu lagu,” ungkap Adrian kepada wartawan di Polres Malang, kemarin.
Dari keterangan tiga orang yang diamankan, yakni FR dan dua saksi lain, awal kasus persetubuhan anak itu terjadi pada 5 Februari 2018 lalu. Diduga, FR merayu RKH agar mau pergi dengannya. Sehingga, pada 5 Februari, RKH sebagai siswi kelas 11 salah satu SMK di Kepanjen, diajari mencari alasan untuk berpergian. Akhirnya, dia berdalih pamit kepada orangtuanya akan mengikuti PSG di sekolahnya.
RKH, tentu saja tidak berangkat PSG. Dia dijemput oleh FR dan merayu korban untuk mau diajak ke sebuah rumah kos milik teman terlapor di kawasan Kepanjen. FR tinggal bersama RKH selama tujuh hari tujuh malam di kos tersebut. Saat di kamar berdua, FR juga meminta berhubungan badan dengan RKH.
Setelah tujuh hari, FR dibantu seorang teman wanitanya, merayu RKH agar mau menjadi pemandu lagu atau LC. Dengan iming-iming uang Rp 200 ribu, RKH akhirnya terbujuk bibir manis FR. Apes bagi FR, pada hari pertama RKH bekerja sebagai pemandu lagu, Polres Malang juga menggelar razia di karaoke-karaoke di wilayah Kepanjen.
Secara otomatis, RKH yang tak bisa menunjukkan identitasnya, langsung terjaring operasi dan diinterogasi petugas. Dari pemeriksaan inilah, polisi mengetahui bahwa RKH masih berada di bawah umur. Ketika ditanyai siapa yang mengajaknya menjadi pemandu lagu, RKH langsung menyebutkan nama FR.
Kemarin, FR diciduk oleh Satreskrim Polres Malang, bersama dengan seorang ABG lain. Mereka lalu dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Menurut Adrian, pihak keluarga RKH, sudah diberitahu. “Keluarga korban yang selama ini mencari, sudah kita panggil. Terlapor FR dan dua temannya sudah diperiksa. Pendalaman masih dilakukan,” tegas perwira dengan tiga balok emas di pundaknya itu.
Penyidik Unit PPA masih terus mendalami keterangan para saksi, korban maupun terlapor. Dari hasil pendalaman sementara, terlapor bisa terjerat pasal 81, 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Terlapor juga bisa terjerat pasal 332 KUHP tentang persetubuhan anak di bawah umur. Ancaman hukumannya adalah 15 tahun penjara.
Lalu, ketika disinggung soal apakah ada unsur trafficking atau perdagangan manusia dalam kasus ini, penyidik masih melakukan pendalaman. “Kami masih mendalami dulu hasil penyidikan. Karena, korban diajak temannya untuk menjadi pemandu lagu. Di dalam kos, korban disetubuhi oleh FR. Terkait unsur human trafficking, akan disidik lanjut,” tambah Adrian.
Kasatreskrim menambahkan, korban mudah terayu bujuk manis pelaku karena hubungan keduanya. FR dan korban berpacaran.(fin/han)

Berita Lainnya :