Please disable your adblock and script blockers to view this page


Polda Instruksikan Pengamanan Tempat Ibadah


RSJ Lawang Belum Diajak Koordinasi
Maraknya kasus penyerangan terhadap ulama yang disebut dilakukan oleh orang gila, sudah diketahui oleh Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Radjiman Wediodiningrat, Lawang. Hanya saja, pihak Rumah Sakit sama sekali belum diajak koordinasi oleh kepolisian terkait pendataan orang dengan gangguan kejiwaan.
Kepala Sub Bagian Hukum Organisasi dan Hubungan Masyarakat (Kasubbag Hukormas) RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Ribut Supriyatin, SST, MM mengatakan, terkait masalah ini pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian.
“Besok (hari ini) saya akan berkoordinasi dengan Polres Malang. Intinya, apabila kami diminta kepolisian untuk membantu, kami menyambut dengan baik,” ujarnya kepada Malang Post. Dia menjelaskan, kepolisian belum berkoordinasi dengan pihaknya, lantaran belum terjadi kasus serupa di Malang.
“Kondisinya berbeda ketika kasusnya sudah terjadi. Biasanya dari pihak kepolisian meminta bantuan kepada kami,” kata dia.
Menurutnya, masalah ini memang harus disikapi secara serius. Lantaran marak beredar penyerangan terhadap ulama diduga dilakukan orang dengan gangguan kejiwaan, harus diselidiki lebih lanjut. “Maka dari itu, yang berhak memutuskan orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan adalah yang berkompeten dalam hal ini RSJ Lawang,” kata dia. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kesehatan (Dinkes). Karena kedua instasi tersebut sangat berkaitan erat dengan masalah ini.
Sementara itu, Kepala Dineks Kabupaten Malang, dr H Abdurachman MKes mengatakan, pihaknya bersama Dinsos akan terus melakukan pendataan terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Terutama fokusnya terjadap ODGJ yang masih terpasung serta berkeliaran dan membahayakan keselamatan warga.
“Perlu adanya pendataan ulang terkait ODGJ. Apalagi sebelumnya di Kabupaten Malang juga pernah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh ODGJ,” katanya. Dia mengatakan, ODGJ bisa disembuhkan. Maka dari itu, keluarga penderita ODGJ tidak boleh melakukan pasung terhadap mereka.

Terjunkan Polisi Cinta Masjid
Menanggapi isu orang gila yang menyerang ulama, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri SIK MH turun langsung memberikan arahan kepada anggotanya untuk ikut memberikan sosialisasi sebagai langkah antisipasi. Sejak Senin (19/2) dengan menerjunkan polisi RW dan juga polisi cinta masjid. “Dengan adanya kejadian yang ada di sekitar Jawa Timur dan di luar Jawa Timur, Polres Malang Kota langsung mengambil langkah antisipasi terkait hal tersebut,” papar dia kepada Malang Post.
Dengan adanya polisi cinta masjid dan juga polisi RW, pihaknya mengimbau kepada anggotanya untuk melakukan pendekatan pada tokoh agama dan warga setempat agar tidak mudah terprovokasi. “Saya mendatangi polsek-polsek jajaran untuk memberikan sosialisasi langkah antisipasi. Sehingga, Bhabinkamtibmas bisa melakukan pendekatan dan juga terjalin komunikasi yang baik antara kepolisian dengan masyarakat,” kata dia.
Asfuri menuturkan, pihaknya juga meminta anggotanya untuk melakukan patroli keliling secara rutin. “Kalau patroli tidak hanya keliling saja, mereka harus berhenti dan turun untuk melakukan komunikasi. Kemudian, juga disisipi dengan imbauan kamtibmas. Kalau perlu, tinggalkan nomor telepon supaya masyarakat bisa lebih mudah melapor jika terjadi sesuatu,” jelas dia.
Asfuri menambahkan, pihaknya tidak hanya fokus hanya pada tokoh ulama saja, ia juga memerintahkan patroli ke beberapa tempat ibadah. Mulai masjid, gereja dan lainnya. “Ini sebagai langkah antisipasi juga bagi pemeluk agama lain,” beber dia.
Di Kota Batu, Dinas sosial pun pernah melakukan pendataan terhadap orang gila. Siti Muawanah Mariyam, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri mengatakan, keluarga orang gila pasti akan memahami jika memang polisi melakukan pendataan. “Ya tidak apa-apa, karena itu merupakan respon dan tindakan yang perlu dilakukan, mungkin hal itu bisa membawa hal positif untuk masyarakat,” ujar Siti Muawanah.
Namun ia berharap pendataan orang gila itu tidak hanya berkisar pada identitas para orang gila saja, namun dilakukan menyeluruh.  “Kita pasti akan merasa sangat senang sekali, karena dari kepedulian pendataan itu mungkin ada penanganan khusus yang memang tidak bisa dilakukan oleh keluarga, tapi harus dilakukan oleh ahlinya, yakni tenaga medis,” ujar siti Muawanah. (fin/big/tea/dan/han)

Berita Lainnya :