Razia Toko Jamu, Temukan 153 Miras


MALANG - Satpol PP kota Malang bersama jajaran Bakesbang Kota Malang, Bea Cukai dan TNI-Polri merazia ratusan botol miras dalam Opsgab Jumat malam lalu. Dalam kegiatan razia yang dimulai pukul 20.45 sampai 23.20,  Kasatpol PP Kota Malang Priyadi memimpin tim operasi.
Personel yang terlibat dalam operasi ini berjumlah 25 personel. Yakni, gabungan Satpol PP Kota Malang, Bea Cukai Malang, Bakesbangpol Kota Malang,  Denpom V-3/Malang, Denintel Kodam V/BRW, Sabhara Polres Malang Kota, Kodim 0833/Kota Malang, dan Intelkam Den Brimob Ampeldento Malang.
Setelah berangkat, iring-iringan tim opsgab, langsung menyasar toko jamu Leo di Jalan Borobudur Blimbing Kota Malang. Setelah melakukan inspeksi dan pemeriksaan, tim opsgab menemukan 153 botol minuman keras berbagai merek. Botol-botol yang tersimpan dalam kardus ini, tersimpan di lemari bagian bawah, dan tidak dipajang di etalase toko.
Jenis minumannya antara lain Tomy Stanley, Smirnoff, JJ hingga Balihai. Kasatpol PP Kota Malang mengatakan, peredaran miras sudah dilarang oleh Wali Kota Malang Sutiaji memasuki bulan puasa. Sehingga, tidak seharusnya ada tempat usaha yang menaruh miras di dalam toko, karena berpotensi dibeli oleh konsumen.
“"Hasil operasi,  telah disegel minuman Golongan A hingga C yang belum berizin sebanyak 153 botol. Kami sita karena tidak memiliki izin resmi dan melanggar perda. Barang yang disita, diamankan oleh Bea Cukai Malang, " ujar Priyadi kepada Malang Post.
Ungkapan mantan Kabag Pemerintahan Pemkot Malang ini diamini oleh Kasi Intel dan Penindakan Bea Cukai Malang, Arif Hartono. Arif mengungkapkan, seluruh miras di toko Leo langsung disegel. Karena, pihak toko Leo tidak bisa menunjukkan izin cukai yang ternyata sudah kadaluarsa.
Menurut Arif, selama izin belum keluar atau diurus, barang-barang tersebut tidak bisa dipindah. “Barang-barang di toko ini dalam penyegelan karena sedang proses perizinan. Izin mereka habis 6 Mei 2019, dan sedang dalam proses pembaharuan. Tapi, kami segel dulu sampai izin keluar baru barang bisa dilepas,” sambung Arif.
Sementara, Leo Chandra Wijaya mengungkapkan kepada wartawan, bahwa pihaknya sudah berjualan di toko ini sejak tahun 1970-an. Dia mengaku tidak mendapatkan edaran tentang imbauan Wali Kota Malang saat bulan ramadan. “Tahun lalu kami dapat, tahun ini belum. Tapi kami tahu, bahwa ini bulan puasa, makanya kami tidak taruh barang di etalase,” kilahnya.
Setelah mendatangi toko Leo, tim Opsgab bergerak ke lima lokasi lain, yakni tiga tempat usaha dan satu hotel sebelum mengakhiri operasi. Wali Kota Malang Sutiaji menekankan pentingnya langkah operasi berkelanjutan. Karena nyatanya tim Opsgab menemukan minuman beralkohol tak berizin di toko saat bulan puasa.
“Kewaspadaan dan kecermatan harus terus dibangun. Prihatin karena ini bulan ramadan,  dan sudah ada surat edaran. Ini memberi pelajaran,  untuk terus membangun semangat toleransi, kebersamaan, kerukunan dan kekompakan dalam membangun kota bermartabat," tegas Sutiaji.(fin/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :