Sadis! Mutilasi di Pasar Besar!


MALANG – Setelah kasus mutilasi di Kediri dan Palembang, pembunuh berdarah dingin beraksi di Kota Malang. Sadis! Pelaku memutilasi tubuh seorang perempuan menjadi enam bagian. Eksekusi diduga dilakukan di area lantai dua gedung kosong bekas grosir Matahari Pasar Besar Malang. Setelah memutilasi, pelaku menyebar potongan tubuh, di bawah tangga dan kamar mandi, jasadnya ditemukan, Selasa (14/5).
Pelaku diperkirakan mengeksekusi korban di Pasar Besar kemudian kabur dan sampai kini masih berkeliaran. Yang bikin bergidik, pembunuh terlihat memiliki ciri-ciri psikopat. Salah satunya arogan dan bertindak tanpa penyesalan. Salah satu bukti arogansi dari pembunuh adalah dia masih sempat menata tubuh korban.
Pelaku menata potongan tubuh di bawah tangga, seakan-akan seperti teratur. Dia membungkus bagian tangan yang terpotong dengan kresek. Lalu, kepala korban dibungkus kresek.
Dia juga menempatkan sebuah tangan manekin, seakan seperti mengarahkan tangan ke arah potongan tubuh. Sementara, tubuh korban ditemukan di kamar mandi. Tubuh tanpa kepala, tangan dan telanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam warna hitam. Tubuh terpotong ini disandarkan disamping kakus kamar mandi. Tak hanya itu, pelaku meninggalkan tiga buah tulisan.
Tulisan pertama ditulis di atas kertas dengan warna hitam. Tulisan ini ditempel dengan selotip di dinding dekat tangga. Tulisan kedua, ditempelkan di atas kertas koran dengan warna merah. Kertas korannya memuat berita pembunuhan dengan judul Cairan Pembersih Pemudar Jejak.
Satu lagi, dituliskan di dinding pilar dekat penemuan mayat. Berikut adalah petikan tulisan yang diduga kuat ditinggalkan oleh pelaku.
“Ilmu dukunmu yang kamu pelajari suatu saat akan memakan dirimu sendiri mati atau meninggal dunia dengan mengenaskan sekali. Sudah ada kejadian di Muharto Malang Jawa Timur, Muharto gang 5, Inaliwainalilahirojiun. Dan ilmu strumanmu nantinya juga akan memakan tuannya sendiri, yang mempergunakannya tiap hari apalagi nyetrum aku.”
Selain menyebutkan Muharto gang 5, dalam tulisan, pelaku mutilasi juga menyebut dua nama, Suyito dan Suyitno.
Jenazah korban, ditemukan Selasa siang
in oleh sekuriti pasar bernama Abdul Adhim, 50, warga Jalan Mayjen Panjaitan Penanggungan dan Maadi Chilman, 47, pedagang. “Saya membau seperti bangkai saat sedang berada di bedak,” kata Chilman kepada petugas di lokasi kejadian. Sekitar pukul 13.30 WIB, dia mencium aroma tak sedap tersebut.
Kebetulan, bedak saksi Chilman, berada di bawah lokasi penemuan jenazah korban. Dia melaporkan hal ini kepada Adhim yang akhirnya naik ke lantai dua. Adhim membawa cikrak dan sapu, karena menduga bahwa ada bangkai tikus dan kucing. Sembari mengikuti bau busuk, Adhim terkaget bukan kepalang, ketika melihat sepasang kaki terkulai di dasar tangga lantai dua.
Dia langsung turun lagi, melaporkan peristiwa ini kepada Wastib Disdag Kota Malang, yang diteruskan kepada Polsek Klojen dan Polres Makota. Petugas datang ke lokasi, dan langsung menggaris area sebagai tempat kejadian perkara. Inafis meluncur, dan melakukan pencarian terhadap tubuh korban.
Awalnya, polisi hanya menemukan dua kaki dan dua tangan di dasar tangga. Polisi juga menemukan badan korban yang sudah menghitam, tanda pembusukan lebih dari tiga hari. Mayat berjenis kelamin perempuan itu sudah dikerubuti belatung. Korban telanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam.
Setelah olah TKP lebih detail, petugas menemukan kepala korban. Kepala yang sudah terpenggal ini dibungkus kresek hitam. Sementara, di kedua kaki korban, ada tatto bersambung. Di kaki kanan, ada tulisan Sugeng. Sementara, di kaki kiri, ada tulisan “wahyu yang kuterima dari Tuhan Yesus di greja Comboran bertemu sama keluarga”. Kejamnya, tulisan ini diukir di telapak kaki korban, diperkirakan menggunakan paku atau benda tajam yang dibakar.
Barang bukti yang diambil dari lokasi dua tulisan dalam kertas, diduga ditinggalkan pembunuh, satu tulisan di tembok tangga, manekin tangan, serta kain-kain. Pukul 15.00 WIB, jenazah korban dilarikan ke KM RSSA Malang untuk menjalani otopsi dan visum. Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri di lokasi, menyebut korban berjenis kelamin perempuan ini diperkirakan berusia kepala tiga.
“Diduga, usianya sekitar 30 tahunan. Penyelidikan sudah berjalan. Petugas kami kerahkan, pengidentifikasikan korban menjadi prioritas, karena di situ ada petunjuk tentang identitas yang bisa mengerucutkan penyelidikan,” ujar Asfuri kepada Malang Post. Sampai berita ini diturunkan, identitas korban masih dalam proses analisa.