Stres Pemilu, Ketua KPPS Lesanpuro Coba Bunuh Diri


MALANG - Diduga stres karena penghitungan suara hasil Pemilu, Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 7 Kelurahan Lesanpuro, Subali mencoba bunuh diri, Sabtu (20/4). Beruntung nyawa pegawai Universitas Brawijaya (UB) itu bisa diselamatkan setelah menjalani operasi di RS Panti Nirmala.
Informasi yang dihimpun Malang Post, Subali sebelumnya merasa capek dan stres. Sebab, selama proses penghitungan hasil Pemilu, terjadi selisih kelebihan suara pada hitungan DPD RI dan DPRD Kota Malang.
Tak ada yang melihat Subali menikam dirinya sendiri dalam kamar. Saat kejadian, istrinya, Talwia sedang berada di kegiatan Kartinian yang digelar di Balai RW. Sedangkan anak dan mertua di kamar lain.  
Perempuan 40 tahun itu mendadak histeris, setelah melihat suaminya tergeletak di kamar tidur dengan tubuh berlumuran darah. Agus Harianto, salah seorang tetangga yang tanggap segera menutup luka tusuk di bagian perut dengan kain lalu dibawa ke RS Panti Nirmala.
Anif Rahmatin, keponakan Subali kaget terjadinya peristiwa itu. Ia mengatakan, sehari sebelumnya, Subali sempat mengeluh lelah karena mengurusi TPS. “Orangnya tidak pernah mengeluh. Cuma, ia mengeluh capek waktu jadi panitia Pemilu,” kata Anif kepada Malang Post.
Ia tidak menduga Ketua RT 8, RW 1 Lesanpuro itu nekat bunuh diri. Sebab pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, masih bercanda saat berada di rumah. “Mak-mak ini kok rempong ha,ha,ha,” kata Anif mengulang guyon Subali. Ini setelah ia melihat Talwia, Anif dan warga lainnya sibuk menyiapkan konsumsi untuk di bawa ke acara Kartinian.
Hingga sore, Talwia shock. Ia tidak mau berkomunikasi dengan siapapun. Hal itu diungkakan keponakan Subali lainnya, Jumirah saat ditemui Malang Post. “Dia berkali-kali pingsan dan nangis terus, sepertinya kaget,” kata Jumirah.
Informasi lain yang dihimpun Malang Post, Subali langsung masuk ruang operasi RS Panti Nirmala. Petugas medis melakukan penanganan dengan menjahit dua luka di bagian perut.
Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri membenarkan adanya peristiwa tersebut. "Kejadiannya tadi  pagi, yang bersangkutan menusuk perutnya sebanyak dua kali di perut," terang dia.
Aksi nekat tersebut diduga dilakukan korban lantaran capek dan stres karena ada selisih penghitungan suara antara DPD dan DPRD Kota Malang. "Dia ditemukan keluarganya dalam kondisi terluka. Setelah diintrogasi, ternyata stres karena ada selilih penghitungan," kata Asfuri.
Perwira menengah dengan dua melati di pundak itu mengatakan, berdasarkan keterangan yang diperoleh dari keluarga, Subali sempat terlihat gelisah dan kurang tidur selama tiga hari. "Anggota saya sudah mengecek, tidak ada intimidasi. Jadi, karena stres," tandasnya.

Berita Terkait