Sugeng Tersangka Pembunuhan


MALANG – Muncratan darah di baju milik korban wanita mutilasi Pasar Besar Malang, menghancurkan kebohongan Sugeng ‘Rombeng’ Santoso, 49 tahun. Warga Jalan Jodipan gang 3 ini tak bisa menepis fakta forensik. Bahwa korban masih hidup ketika lehernya digorok, sebelum arteri di leher menyemburkan darah.
Ya, semua terkuat dari muncratan di bagian kerah dan dada. Fakta ini pula, yang akhirnya membuat Sugeng tak bisa lagi mengelak. Bahwa dia sebenarnya mengeksekusi wanita tanpa nama tersebut di tangga gedung Pasar Besar Malang. Semua alibi yang dia ungkapkan dalam interogasi awal kepada polisi, terpatahkan dengan temuan fakta forensik.
Dengan fakta ini pula, Sugeng akhirnya dijadikan tersangka kasus pembunuhan, bukan lagi tersangka pemutilasi mayat.
“Bukti-bukti, fakta-fakta baru yang ditemukan, mengarah bahwa kasus ini, diawali dengan pembunuhan, baru ada mutilasi, berbeda dengan pengakuan awal tersangka yang mengaku hanya memutilasi,” urai AKBP Asfuri kepada Malang Post, dalam rilis di halaman Polres Makota Jalan JA Suprapto, Kota Malang, Senin pagi kemarin.
Asfuri memaparkan, bukati muncratan darah di baju korban yang ditemukan di TKP. Ternyata tidak konsisten dengan pernyataan pelaku yang mengaku memutilasi tubuh korban setelah tiga hari. Dalam pengetahuan dasar forensik, manusia yang meninggal, akan mengalami pembekuan darah kurang dari satu hari.
Darah di dalam tubuh akan sepenuhnya beku dalam kurun waktu 6-10 jam setelah manusia meninggal. Sehingga, tidak mungkin darah tercecer begitu banyak di baju korban, bila mayatnya dimutilasi tiga hari setelah meninggal.
“Pembunuhan dilakukan pada pukul 01.30 WIB, tanggal 8 Mei 2019, di lokasi tangga di Pasar Besar Malang itu,” kata Asfuri.
“Selain itu, petugas forensik juga membuka bagian tengkorak dan otak dari korban dalam proses otopsi. Jika memang korban dimutilasi setelah meninggal tiga hari, maka harusnya ada banyak jejak darah yang membeku. Tapi, ketika bagian kepala dibuka, tidak ditemukan jejak tersebut,” sambungnya.

Berita Lainnya :