Tiga Bodrek Terancam 9 Tahun Penjara


MALANG – Jangan ada lagi oknum mengaku wartawan yang coba-coba memeras di Kabupaten Malang. Pesan itu tersampaikan dengan sangat keras ketika tiga pria, mengaku wartawan dan LSM, diancam pasal 368 KUHP tentang pemerasan oleh Polres Malang.
Jika para bodrek, sebutan untuk oknum wartawan pemeras, masih ngotot melancarkan aksinya di Kabupaten Malang, maka Polres Malang bakal bertindak tegas. Buktinya adalah Mochammad Suyuti, 48, warga Sumberkradenan Pakis, Yanto, 31, warga Asrikaton Pakis dan Ahmad Dahri, 40, warga Tambak Asri Surabaya.
Mereka kini menantikan proses hukum karena tertangkap tangan memeras seorang guru di SDN 3 Asrikaton. “Mereka diancam hukuman 9 tahun penjara karena dijerat dengan pasal 368 KUHP tentang pemerasan. Mereka tertangkap tangan tim Saber Pungli memeras sekolah di kawasan Pakis,” kata Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung dalam rilis, Jumat sore.
Didampingi Kasatreskrim AKP Adrian Wimbarda dan AKP Ainun Kasubbag Humas, Ujung mewanti-wanti para pemangku kebijakan di pemerintahan agar tidak melayani oknum-oknum seperti ini. “Segera laporkan ke Polres Malang andai menemui yang seperti ini, akan kami tindak,” tambahnya.
Empat hari lalu, Tim Saber Pungli Polres Malang menangkap tangan tiga pria yang meminta uang Rp 7,5 juta kepada pihak sekolah dengan kompensasi kasusnya tak dinaikkan ke media. Karena menolak memberi dan merasa diperas, pihak sekolah melaporkan tiga orang ini ke Polres Malang.
Ceritanya, Yanto, menghubungi korban untuk meminta uang Rp 7,5 juta pada 31 Januari 2019. Mereka diduga melancarkan aksinya, dengan cara menakut-nakuti korban bahwa peristiwa seorang murid SD yang tangannya tertusuk gunting di jam pelajaran, akan diblow up di media. Korban mengaku tidak bisa memberi uang sebanyak itu, hanya bisa memberi Rp 250 ribu.
Tapi, Yanto tetap ngotot meminta uang sebesar Rp 7,5 juta seperti semula. Keesokan harinya, dia kembali menelepon korban. Karena didesak oleh Yanto dan merasa ketakutan, korban mengiyakan memberi uang Rp 2 juta dan memintanya datang ke sekolah. Namun, sebelumnya pihak sekolah sudah melaporkan tindak pemerasan ini ke Polres Malang.
Ketika tiga orang tersebut sudah menerima uang Rp 2 juta, mereka langsung disergap polisi. “Dari hasil pengembangan sementara, ini bukan kali pertama mereka melakukan modus tersebut. Setidaknya, ada tiga TKP lain dengan modus pemerasan yang sama,” tambah Ujung.
Ada beberapa barang bukti yang diamankan.
Antara lain, kartu identitas aliansi wartawan dan kartu identitas PWRI milik Ahmad Dahri. Kartu pers Seputar Malang dan kartu pers Radar Nasional Kabiro Kota Batu atas nama Suyuti, Kartu Forum Independen Masyarakat Malang Raya, Kartu Surabaya Minggu, Kartu LSM Gerakan Anak Bangsa, Kartu Anggota BIN, kartu kantor hukum Yustitia Indonesia, kartu tugas Sorotimes, kartu liputan KPK dan kartu lembaga tinggi.
Mereka juga memegang surat tugas Pemantau Keuangan Negara. Berbagai identitas tersebut, diduga kuat menjadi alat untuk menakut-nakuti para korbannya.(fin/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :