Selain Suvenir, Pernah Produksi Isolator Listrik


 
ISOLATOR listrik merupakan salah satu andalan produksi keramik Dinoyo pada tahun 1990-an selain suvenir. Saat itu, ribuan isolator atau konduktor listrik diproduksi di Kampung Keramik Dinoyo pada setiap bulan. 
Endang Nurhayati salah seorang pengrajin Kampung Keramik Dinoyo yang sempat merasakannya. Saat itu kata dia, isolator listrik diproduksi dalam order yang besar lantaran bahannya terbuat dari keramik.  
“Sekarang sudah pada pakai plastik semua, makanya jadi gampang terbakar atau konslet listrik. Kalau dulu isolator listrik itu dari keramik semua. Itulah masa kejayaan pengrajin Kampung Keramik Dinoyo,” kata Endang saat ditemui.  
Kalimat ini terlontar dari Endang Nurhayati pemilik home industry “Ummi Souvenir” di Kampung Keramik Dinoyo saat ditemui Malang Post kemarin. Ia yang sudah mengenal seluk beluk keramik sejak tahun 1990-an ini menceritakan masa kejayaan pengrajin keramik di Dinoyo.
Sambil mewarnai salah satu suvenir pesanan, Endang menceritakan pengrajin keramik Dinoyo sejak tahun 1990-an mendapatkan banyak orderan membuat isolator.
“Saya dulu bantu bapak saya. Ribuan isolator yang kami kerjakan tiap bulannya. Juga ada perangkat listrik yang dibuat dari keramik dan memang dibutuhkan saat itu,” paparnya. 
Karena itulah, keluarga Endang dapat merasakan kejayaan pengrajin keramik Dinoyo. Tidak hanya isolator listrik saja yang dibutuhkan banyak orang pada saat itu. Kerajinan seperti vas, guci, sampai perabot rumah tangga juga dibuat dari keramik dan diminati banyak orang.
Ia mencontohkan pembuatan sebuah vas. Vas yang dimaksud Endang merupakan vas berukuran besar dan tinggi yang biasa dijadikan pajangan di rumah warga. Biasanya, orang-orang dengan status sosial yang terpandang.
“Itu juga banyak order dulu sekitar tahun 1995. Nah, barulah masuk tahun 2000-an sudah mulai berubah,” kenang ibu 6 anak ini. 
Masuk era 2000-an, pesanan isolator keramik mulai meredup. Ini dikarenakan masuknya produk buatan Cina yang menawarkan isolator dengan harga lebih murah terbuat dari plastik. Masuknya produk tersebut dirasakan Endang membuat perubahan yang signifikan dari produksi pengrajin keramik di Dinoyo. 
Seriring berjalannya waktu, kerajinan keramik kian ditinggalkan masyarakat dikarenakan pengerjaan yang membutuhkan waktu dan mengeluarkan biaya yang tidak murah. Warga memilih kerajinan lain yang berbahan sintetis dan campuran karena lebih murah. 
Terlebih, pada awal tahun 2000-an kebijakan untuk mengurangi polusi udara diperketat pemerintah. Maka pekerjaan yang menghasilkan asap dan berbahan minyak tanah dan solar dibatasi. 
Sementara yang tersisa saat ini, beradaptasi. Yakni meninggalkan bahan asli keramik dan beralih ke bahan campuran keramik yang juga mengandung gypsum. Hal inilah yang juga dilakukan Endang untuk menyambung kehidupan ia dan keluarga.
Saat ini, Endang dan suaminya menjalankan home industry yang banyak menghasilkan souvenir-souvenir berbahan gypsum. 
“Ya ini lumayan sih. Banyak yang order apalagi kalau ada event. Jadi kita buatnya suvernir nikahan, suvenir wisuda dan yang lainnya sesuai pesanan. Satu bulan bisa 600 sampai 700 suvenir kita buat,” terangnya. 
Jenis suvenir tersebut diantaranya berbentuk ikon-ikon pemesan, contohnya saat Endang menerima pesanan dari Jatim Park. Kemudian juga ketika dibutuhkan suvenir untuk acara pernikahan maka ia membuat figure manten Jawa. Endang meneruskan, ia dan para pengrajin keramik yang tersisa sebenarnya masih menginginkan untuk membuat kerajinan keramik.
“Katanya ini mau ada bantuan dari provinsi. Jadi kami diberikan tungku yang nanti bisa membakar dan meracik olahan keramik seperti dulu. Hanya saja ini pakai gas LPG kalau dulu pakai solar kan. Semoga jadi,” katanya. (ica/van) 

Berita Lainnya :

loading...