Masa Jaya Sudah Berlalu, Sekarang Butuh Sentuhan

 
ERA 1980 hingga 1990-an lalu, Keramik Dinoyo sangat terkenal. Berada pada masa keemasan, warga Dinoyo dan sekitarnya hidup dari kerajinan keramik. Tak sekadar membuat kota pendidikan ini terkenal dengan ikon keramik. Kerajinan tersebut juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi warga. Tapi itu cerita masa lalu. Kini Kampung Keramik Dinoyo tak tergairah. 
Denyut kampung pengrajin keramik di Dinoyo mulai lesu. Kondisinya sudah jauh berbeda dibandingkan masa jayanya. Ketua Pokdarwis Kampung Keramik Dinoyo Syamsul Arifin mengatakan kondisi pengrajin sekarang menurun signifikan. 
“Medio tahun 1980 – 1990- an jumlah pengrajin dapat mencapai sekitar 75 tetapi yang mampu bertahan hingga saat ini hanya 35 pengrajin,” katanya kepada Malang Post.
Selain tidak ada regenerasi, usaha keramik yang dijalankan secara turun temurun ini juga harus bersaing dengan produk impor. Menurut Syamsul Arifin, pada tahun 1980-an hingga 1990-an merupakan periode keemasan kampung tersebut. Saat itu perekonomian sangat stabil dan pengecer selalu membeli dari Kampung Keramik Dinoyo. 
“Kalau dihitung, 90 pesen dari yang beli merupakan pengecer untuk dijual kembali. Apalagi saat itu produk impor belum terlalu membanjiri Indonesia, termasuk Malang. Bahkan kapasitas produk kita dulu dapat mencapai 4.500 – 5.000 per bulan,” katanya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Sony Soeharto, pengrajin keramik yang meneruskan usaha orang tuanya sejak 1983. Ia menjelaskan saat masa keemasan Keramik Dinoyo, pabriknya dapat mempekerjakan hingga 30 pegawai.
“Kalau sekarang yang tersisa hanya sekitar 7 pegawai saja,” ungkapnya. 
Menghadapi zaman, pengrajin tetap bertahan. Di antaranya terus berinovasi.
“Salah satunya yaitu menekankan kerajinan tangan,” jelas Syamsul Arifin.
Sebab seni karya tangan merupakan unggulan utama di Kampung Keramik Dinoyo.
“Kalau barang impor kan dari segi bentuknya hampir sama semua karena cetakannya ya itu- itu aja,” katanya. 
Suari, pengrajin keramik lain yang ditemui Malang Post mengisahkan hal lain. 15 tahun terakhir sudah tak merasakan adanya perubahan. 
“Ya dari dulu begini saja. Biasa saja,” ujarnya sembari mencetak kendi-kendi keramik saat ditemui di salah satu rumah industri Keramik Dinoyo. 
Sejak tahun 2003, katanya, selalu mengerjakan hal-hal yang sama yakni kerajinan berupa souvenir. Proses produksnya pun diakui mudah karena menggunakan cetakan yang sudah disediakan.Sementara bahan bakunya berasal dari banyak bahan campuran. Seperti menggunakan gypsum, tanah liat dan campuran lainnya.  
“Kalau yang keramik asli jarang. Biasanya vas besar. Tapi jarang,” tandasnya.
Suari mengatakan orderan yang datang secara masif berasal dari Bali. Pesanan yang diminta adalah kerajinan berbentuk bejana air. Itulah yang dikerjakan Suari tiap hari, tiap minggu dan tiap bulannya. 
Menurut Suari, pekerjaan pengrajin keramik Dinoyo saat ini sudah menjadi pekerjaan yang berdasarkan pesanan saja. Artinya tidak memproduksi sendiri dengan mengasilkan kreativitas yang biasa dilakukan pengrajin.
Meski begitu Suari mengatakan jika pengrajin keramik Dinoyo akan lebih tertantang kreativitasnya jika diberikan ruang kreasi. Selain itu dibantu dari segi pemasaran sebagai ikon tersendiri bagi daerahnya masing-masing. Hal inilah yang menurutnya belum dilakukan maksimal. (ica/mg5/van)

Berita Lainnya :

loading...