Setiap Suro Jamas 150 Keris



Jamasan pusaka, merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka, bersejarah, benda kuno, termasuk benda yang dianggap memiliki tuah. Lazimnya, jamasan pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun, pada bulan Suro. Karenanya jamasan pusaka, mempunyai makna dan tujuan luhur. Kegiatan ini, termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.
Jamasan, berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Sebagai suatu wujud rasa berterima kasih dan menghargai peninggalan atas karya adiluhung para generasi pendahulu, kepada generasi berikutnya. Agar orang yang memiliki pusaka tetap mempunyai jalinan rasa, ikatan batin terhadap sejarah dan makna yang ada di balik benda pusaka.
Di Kabupaten Malang, ada Mat Rais. Selain ahli jamas pusaka seperti keris yang sudah ternama. Pria berusia 68 tahun ini, juga kolektor dan jual beli pusaka khusus keris. Ada banyak puluhan keris pusaka milik warga Jalan Regulo, Kecamatan Kepanjen ini.
“Setiap bulan Suro biasanya ada sekitar 150 pusaka keris yang saya jamas. Tidak hanya milik saya, tetapi juga milik beberapa orang yang meminta dijamaskan. Seperti dari Kota Malang, Gunung Kawi, Gondanglegi dan beberapa daerah lain,” terang Mat Rais.
Menurut Rais, bulan Suro yang juga bertepatan dengan Tahun Baru Islam, merupakan bulan suci dan keramat. Harinya orang Jawa. Banyak kegiatan ritual dilakukan pada bulan Suro. Salah satunya adalah jamasan pusaka. Ini dilakukan supaya pusaka tetap awet dan lestari.
“Kalau pusaka kotor atau lupa dijamas, maka kekuatan gaib yang ada dalam keris tersebut akan muncul dan menggoda. Terkadang akan terbawa mimpi dan minta untuk dimandikan atau dijamas,” jelasnya.
“Setiap pusaka wajib untuk dijamas. Kalau tidak, maka akan rusak, tidak awet. Karena keris (pusaka) ibarat rumah, sehingga ketika kotor maka penghuni tidak kerasan dan keluar,” sambungnya.
Alasan kenapa pusaka harus dijamas, karena memiliki kekuatan. Sebab pembuatan keris dulunya dilakukan dengan cara ritual. Empu (pembuat keris, Red) harus puasa terlebih dahulu untuk mencari bahan yang akan dibuat keris. Kemudian ditempa dan dilakukan ritual doa sesuai dengan pemesannya.
Misalnya, keris untuk dukun bayi adalah jenis keris brojol yang bisa membantu memperlancar persalinan. Kemudian jika pemesannya ingin naik pangkat, maka jenisnya adalah keris junjung derajat.
“Karena para Empu itu bisa mengawinkan besi bumi dan angkasa. Kalau orang Jawa adalah ibu bumi dan bapa angkasa. Dan dalam pusaka pasti berisi doa dan ritual,” ujar kakek 15 cucu ini.
Proses penjamasan pusaka keris, tidak sama dengan jamasan di keraton. Kalau di sebuah kerajaan atau keraton menggunakan air kembang, sedangkan Mat Rais memakai air kelapa dan jeruk nipis. Pusaka terlebih dahulu direndam dengan air kelapa selama beberapa jam, untuk membersihkan kerak dan kotoran. Kemudian dibersihkan lagi dengan jeruk nipis, baru dilakukan ritual doa-doa Jawa.
“Jamasan pusaka berbeda. Ada yang menggunakan air kembang, ada juga dengan ritual doa. Karena kita ini tidak tahu siapa dulu pembuat keris, sehingga untuk jamasan dengan menggunakan ritual doa,” tuturnya.
Jenis keris pun, ada banyak sekali macamnya. Satu dapur (bentuk, Red) memiliki pamor bermacam-macam. Ada nama banyu mili, bonang srenteng, junjung derajat, melati tumpuk, melati ronce dan lainnya. Usianya pun sudah ratusan tahun.
“Kalau saya menjual keris melihat jenis dan bentuknya. Paling murah Rp 500 ribu hingga ratusan juta,” paparnya.

Berita Lainnya :