Satu Suro Wajib Jamas Pusaka



Jamasan Pusaka atau yang lebih dikenal dengan nama ritual siraman pusaka biasa dilakukan pada peringatan Satu Suro. Konon, pecinta benda pusaka akan mendapatkan energi besar, ketika melakukan siraman pusaka di Satu Suro. Dalam tradisi masyarakat Jawa, jamasan pusaka menjadi kegiatan spiritual yang sakral.
Banyak warga percaya bahwa satu Suro merupakan momen pergantian tahun. Di mana pada saat ini dua dunia nyata dan fana terbuka dan menimbulkan energi besar. Ketika membersihkan benda pusaka pada momen tersebut energi dapat masuk dalam benda pusaka dan menjadi lebih kuat.
Hal ini menjadi kepercayaan sebagian warga Jawa, namun bagi Ketua Paguyuban Pecinta dan Pelestari Tosan Aji Nusantara Ajisaka Kota Malang KRAP Prasena Cakra Adiningrat SE, Ak, CA, jamasan atau siraman pusaka memiliki makna yang lebih tinggi dari pada itu.
“Ini adalah cara sang pencipta untuk manusia supaya mengingat kembali dan bersyukur atas apa yang sudah diberikan selama satu tahun kemarin,” papar Prasena kepada Malang Post, Rabu (20/9).
Ia menjelaskan, benda pusaka merupakan benda peninggalan leluhur sejak zaman dahulu. Dimana memiliki makna dan sejarah tersendiri yang pantas untuk terus dijaga terus menerus oleh generasi berikutnya. Melakukan jamasan atau siraman pusaka, merupakan cara yang dapat dilakukan untuk merawat benda peninggalan leluhur.
“Satu Suro kan pergantian tahun, orang zaman dahulu sama seperti sekarang ya, memaknai pergantian tahun dengan kembali lagi memulai kehidupan dari awal. Meninggalkan hal yang buruk di tahun lalu dan menyongsong tahun yang baru dengan semangat lebih baik,” papar Prasena.
Satu Suro memang menjadi momen yang kerap dijadikan waktu paling tepat untuk melakukan hal-hal baru. Satu Suro dianggap sebagai momen simbolik pengingat pusaka secara fisik maupun batin.
Jamasan merupakan ritual penghormatan pusaka secara fisik agar tidak korosif atau mudah rusak dan karatan. Untuk penghormatan batin, biasanya dilakukan dengan memberikan wewangian dan jajan-jajan pasar di sekeliling benda pusaka.
“Bukan maksud klenik, tetapi semua itu sebagai simbol ungkapan syukur, orang zaman dahulu melakukan ini ketika tahun sudah berganti yang baru,” ungkapnya.
Ia pun kerap melakukan jamasan pada satu Suro. Prasena yang mengoleksi ratusan keris di kediamannya ini menggelar jamasan dengan beberapa tahapan. Dimulai dari tahap mutih, mewarangi sampai meminyaki kerisnya.
Tahap pertama awalnya adalah melakukan pembersihan keris dari karat-karat atau kotoran yang menempel. Selanjutnya, tahap mewarangi yakni memberikan semacam larutan racikan agar pola keris dapat timbul kembali. Setelah itu barulah diberikan wewangian dalam tahap meminyaki pusaka.
“Tapi kalau saya sendiri tidak hanya pada satu Suro saja melakukan ini. Dua Suro, tiga Suro saja pernah dan memang bisa dilakukan kapan saja. Hanya saja momen satu Suro sudah menjadi kebiasaan untuk menjamas pusaka,” ungkap Prasena.
Pria yang pernah membabar keris bagi Presiden Kroasia pada Tahun 2010 ini melanjutkan, terlepas dari kepercayaan apapun, menjaga benda pusaka memiliki nilai sejarah dan makna kehidupan yang besar.
Ia mengungkapkan, dari bentuknya saja keris memiliki makna kehidupan sampai status sosial tertentu. Jika sebuah keris berbentuk tegak lurus, keris ini melambangkan hubungan iman umat manusia dengan penciptanya. Bisa juga, keris tersebut dahulu dipakai sebuah senjata perang zaman kerajaan. “Kalau yang berlekuk-lekuk lebih menarik lagi,” ungkapnya.
Di zaman kerajaan dahulu, seseorang yang memiliki keris dengan lekukan paling banyak yakni 13 adalah seseorang yang memiliki kekuasaan tinggi. Alias keturunan raja. Hal inilah yang dianggapnya menarik untuk diketahui generasi saat ini.  Keris tidak lagi hanya dipandang sebagai benda klenik, akan tetapi memiliki makna dan sejarah penting.

Berita Lainnya :

loading...