Kejamnya Gerakan Komunis di Batu


Usia H Ridwan Hasan kini 86 tahun. Namun masih terlihat kegagahan di tubuh renta warga Jalan Lesti, Kota Batu itu. Ingatannya pun masih kuat. Apalagi seputar peristiwa 52 tahun silam yang pernah terjadi. Bahkan ia masih ingat nama orang, hingga peristiwa yang terjadi di Kota Batu saat gerakan pengkhianatan G30S/PKI meletus.
Termasuk ketakutan warga saat itu terhadap PKI. Bahkan ada kades yang begitu takutnya hingga akhirnya memilih bunuh diri. Sebab setiap hari dicari oleh oknum militer yang terlibat dalam gerakan komunis.
“Mudah-mudahan jaman itu tidak terulang lagi, kasihan rakyat kecil. Mencari makan saja sudah sulit, harus berhadapan dengan kondisi tidak menentu seperti saat itu,” harap Togog, sapaan akrab H Ridwan Hasan.  Ia berdoa agar tidak pernah lagi ada komunis di negeri Indonesia.
Pria 3 anak dengan 6 orang cucu ini saat 52 tahun lalu merupakan anggota Barisan Serba Guna (Banser) NU. Kemudian bergabung dengan pasukan Hizbullah yang ditugaskan di Koramil Ngantang.
Togog menceritakan ketika  itu tidak ada partai yang sekuat PKI. Ia menduga kekuatan PKI ini dikarenakan ada pasokan dana dari sekelompok orang yang bukan berasal dari Indonesia. Betapa tidak,  dimana-mana terdapat anggota PKI, meski menurut Togog saat itu banyak juga yang hanya ikut-ikutan.
Di Kota Batu bahkan terdapat beberapa daerah dinamakan kawasan merah, karena seluruh warganya anggota PKI. Warga yang tidak bersedia bergabung akan dipaksa gabung lewat teror yang dilakukan oleh para anggota PKI.“Tidak sampai ada yang dibunuh, namun hanya diteror psikis. Kalau ditawari tidak mau, keesokan harinya rumahnya pasti sudah dicat lambang palu arit warna hitam,” ujar Togog.
Sekitar tahun 1964-1965, organisasi ini semakin bertambah kuat, karena beberapa pentolan PKI Kota Batu dikirim ke lubang buaya untuk mengikuti pelatihan khusus.
Togog menyebut, Ketua PKI saat itu seorang yang berasal dari Indonesia Timur yang bernama Libi. Dalam lingkaran Libi, ada beberapa nama pentolan PKI lain yang bernama Ruslan, Sukadi dan Suwarno. “Mereka inilah yang dilatih khusus di lubang buaya, lain-lainnya hanya ikut-ikutan,” ujarnya.
Anggota PKI di Kota Batu bukan hanya dari kalangan sipil saja. Oknum TNI dan oknum anggota Polri dipengaruhi agar menjadi anggota PKI. Mereka bahkan menyusup ke satuan TNI. Bahkan ada salah satu satuan TNI di Kota Batu sudah pecah menjadi dua saat itu.
“Pada peristiwa 1965, sudah ada pasukan yang akan dikirim ke Jakarta pada HUT Angkatan Bersenjata. Sebenarnya saat itulah pemberontakan akan dilakukan, karena semua membawa senjata. Tapi rencana itu digagalkan oleh Allah SWT,” ujarnya.
Selain menguasai beberapa desa dan kamp militer, pusat PKI di kota wisata ini berada di daerah stamplat (terminal) yang dahulu berada tepat di belakang Batu Plasa. Disitu berdiri monumen besar lambang PKI, palu-arit.
Di tempat itu Libi selalu menggalang massa, melakukan rapat mengadakan kegiatan kesenian, seperti tandakan (tarian) atau berbagai kegiatan lainnya. PKI selalu menggunakan karnaval HUT RI untuk show of force kepada masyarakat.
Atau pada saat kampanye, hingga suatu saat PKI melakukan perang urat syaraf kepada kelompok agama dengan mengancam akan menangkap KH Ilyas yang tinggal di Macari (kini bernama Lahor) dan KH Kholil, Jalan Munif.
“Pentolan PKI ini mengancam akan menangkap dua kyai ini, kemudian memaksa dua kyai ini merangkak dari rumahnya ke depan Masjid An Nur. Disitu mereka akan memaksa dua kyai ini untuk menjadi tandak (penari),” kenang Togog.
Ancaman ini tentu saja membuat panas kalangan agama, terutama NU dan Muhammadiyah. Dua ormas agama ini merapatkan barisan, bersiap untuk menghadapi serangan PKI kala itu. “Banser sudah diisi (doa untuk kekebalan) saat itu, pokoknya sudah siap,” ujarnya.
Sementara PKI semakin menguatkan cakar kekuasaannya dengan aksi bagi-bagi tanah di wilayah Kelurahan Ngaglik. Namun ketegangan tidak sampai mengakibatkan bentrokan berdarah, karena keburu meletus peristiwa pemberontakan PKI di Jakarta 30 September 1965.
Seiring perkembangan politik di Jakarta, militer di daerah, termasuk di Batu mengadakan pembersihan anggota PKI. Kala itu ribuan anggota PKI ditahan di Koramil Batu yang berada di Jalan PB Sudirman (kini toko Cipto).
Gang Garasi Ngaglik dahulu merupakan penjara Koramil Batu penuh berisikan ribuan anggota PKI dari berbagai daerah, seperti Kepanjen, Sengguruh hingga luar Kota. Sebagian besar merupakan anggota PKI yang sedang dilatih perang di Alas Klangon, Kasembon.
Di antara tahanan itu ada beberapa otak PKI, namun banyak juga yang sekedar ikut-ikutan sebuah organisasi. “Saya sempat tanya pada salah satu pentolan PKI, dia mengatakan kalau PKI menang, saya akan dibunuh,” ujar Togog sambil tertawa.
Ditangkapnya pentolan PKI oleh militer ini membangkitkan keberanian warga. Mereka merobohkan monumen palu arit di stamplat. Beberapa anggota PKI lari ke kawasan Bumiaji dan banyak yang merubah identitas mereka.
Namun ketegangan tidak berhenti disitu, anggota militer yang terlibat dalam PKI masih bergerak pada tahun 1966. Mereka mendesak kepala desa untuk menandatangani surat bahwa si A atau si B tidak terlibat PKI.
“Ada salah satu kepala desa datang ke rumah saya minta pertolongan, karena terus menerus dikejar seorang KKO namanya Dominggus, dia minta tanda tangan ke kades ini agar saudaranya yang ditahan di koramil di keluarkan,” kenang Togog.
Untuk membesarkan hatinya, Togog meminta kepada kades tersebut untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Namun diluar dugaan, saat Togog kembali ke Koramil Ngantang, kades ini memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Tidak hanya kades yang ditekan oleh sisa-sisa anggota PKI. Togog pun pernah diserang saat dalam perjalan pulang dari Ngantang. “Malam hari saya dikepung sekelompok orang bersenjata, saya bersembunyi di sebuah musala, memang benar saya membawa senjata api, tapi kalau saya tembak, saya bisa dikepung anggota PKI satu kampung,” ujarnya.
Saat itu para pengepungnya mencarinya di atap, bahkan diantara mereka menusuk nusukkan senjata tajam yang mereka bawah ke atas atap. Sebab mereka menyangka kalau Togog bersembunyi di atas atap.
Padahal saat itu ia bersembunyi dibalik pagar musala. “Kalau dipikir secara nalar tidak mungkin tidak ketahuan, tapi itu yang terjadi, atas kehendak Allah SWT, pagar yang pendek itu menutupi tubuh saya, hingga mereka tidak tahu,” ujarnya.
Hingga akhirnya, ia pun meminta nasehat kepada sejumlah kyai di Jombang, hingga akhirnya ia pun membulatkan diri untuk memerangi PKI.
Ia mengatakan bahwa apa yang diceritakan dalam film G30S PKI, adalah sebuah cerita yang memang benar-benar terjadi pada 1965. Namun ia menentang keras ada yang mengatakan bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam G30 S PKI. “Beliau (Soekarno) adalah negarawan, beliau pejuang, tidak terlibat G30S PKI, memang saat itu beliau dikelilingi oleh tokoh-tokoh PKI,” ujar Togog. (dan/van)

Berita Lainnya :