Warga Solid Ganyang PKI


MALANG - Jangan sekali-kali beri ruang untuk PKI maupun berbagai gerakan komunisme tumbuh. Kekejaman aksi-aksi PKI pada tahun 1950-an hingga tahun 1965 sangat menyiksa dan bikin trauma warga. Suasana saat itu sangat mencekam.
Marwi, merupakan salah satu saksinya. Pria 86 tahun ini bergabung dengan Organisasi Pembela Islam (OPI) di Malang setelah merasakan mencekamnya situasi akibat aksi-aksi PKI. Selain OPI, kata Marwi, terdapat kelompok lain pembela Islam dari serangan gerakan komunis.
Tekad Marwi melawan PKI pun semakin kuat. Apalagi kerap mendapat informasi ada PKI yang menyusup ke warga dan menebar ancaman. Begitu bergabung di OPI, Marwi pun kerap bersama para anggota lainnya melakukan patroli. Tidak hanya di Malang Raya, tapi juga sampai ke Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Madura.
"Patroli dilakukan karena ada informasi PKI mendatangi warga, dan menekan, mereka diminta menandatangani berkas," ucap warga Muharto ini.
Selama melakukan patroli, informasi PKI menekan dan menyekap warga pun memudar. Apalagi  menurut bapak empat anak ini,  OPI sangat tegas. "Tidak ada yang berani sama saya. Karena kami tegas," katanya sembari menepuk dada.
Pernah suatu ketika, OPI mendengar ada aksi PKI di wilayah Buring, Kedungkandang. Saat itu juga, anggota OPI langsung mendatangi lokasi, dan bertanya kepada warga. "Saat patroli kami tidak boleh sendiri-sendiri, harus berkelompok," tambahnya.
Di wilayah Kabupaten Malang, Gerwani  dan Lekra sempat berkembang. Dua organisasi sayap PKI itu tumbuh di Dusun Gambiran, Desa Mojosari, Kecamatan Kepanjen. Hal ini diungkapkan  
Ketua PC NU Kabupaten Malang, dr H Umar Usman. Kepada Malang Post dia menceritakan organisasi itu berjaya pada tahun 1965-1966. “Kedua organisasi tersebut berafiliasi kepada PKI. Sedangkan kegiatannya melakukan intimidasi kepada rakyat, khusunya umat muslim di desa tersebut,” ucap dia.
Menurutnya, intimidasi tersebut, meresehkan masyarakat utamanya umat muslim. Sedangkan bentuk intimidasinya melalui penyelenggaraan pertunjukan kesenian maupun kebudayaan tradisional yang menyimpang. Sedangkan Gerwani melakukan intimidai kepada kaum perempuan.
“Tindakan dari Gerwani dan Lekra saat itu sangat meresahkan masyarakat khususnya Islam. Karena menerapkan ajaran liberal serta komunis,” tuturnya. Dia mengatakan, selain mengintimidasi, dua organisasi tersebut juga melakukan tindakan kekerasan dan berbagai kejahatan.
Keberadaan dua organisasi yang meresahkan itu ditindaklanjuti oleh TNI serta Ansor. Keduanya bersatu padu memberantas PKI serta dua organisasi yang berafiliasi dengan PKI tersebut.
“Upaya yang dilakukan oleh TNI serta Ansor membuat anggota PKI ketakutan. Satu per satu anggota komunis tersebut meninggalkan tempat itu,” kata pria ramah ini. “Saat ini dusun tersebut sudah terbebas dari PKI. Tidak ada anggota PKI maupun keturunannya yang tersisa. Selain ditempati orang asli tempat tersebut, mayoritas Dusun Gambiran dihuni oleh pendatang dari luar daerah,” paparnya gamblang. (ira/big/van)

Berita Lainnya :