Andalkan Cuci Darah Pakai Bubuk



MALANG - Melek teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk rumah sakit (RS) di Kota Malang bisa naik tipe B atau A. Data dihimpun Malang Post, dari 25 RS di Kota Malang, ada 16 rumah sakit yang masih tipe C. Yang terbaru dan menjadi andalan di sejumlah RS tipe B adalah unit hemodialisa (cuci darah) menggunakan bubuk.
Di Kota Malang ada lima rumah sakit tipe B, tiga rumah sakit bertipe D dan hanya satu rumah sakit yang sudah bertipe A. RS tipe B, salah satunya adalah RS Lavalette. RS tersebut mengedepankan teknologi sebagai pelayanan tertinggi bagi masyarakat di bidang kesehatan.
Untuk mendapatkan klasifikasi yang didapatnya sekarang, yakni rumah sakit tipe B, sejak lima tahun belakangan mengembangkan pelayanan dengan mendatangkan teknologi-teknologi yang mutakhir.
Kepala Rumah Sakit Lavalette dr H Abdul Rokhim AR, MARS menjelaskan di 2017 ini pihaknya baru saja menambah 23 mesin cuci darah yang terbaru yakni menggunakan bubuk atau powder cuci darah. Ya unit tersebut menjadi andalan di sektor pelayanan hemodialisa (cuci darah).
“Teknologi ini baru dan hemat dari segala sisi. Kalau sebelumnya cuci darah pakai cairan khusus, saat ini pasien kami hanya pakai bubuk. Lebih hemat tempat, karena ruang pasien tidak dipenuhi lagi dengan jeriken-jeriken cairan,” papar Rokhim saat ditemui Malang Post di ruangannya.
Sebanyak 40 mesin cuci darah menggunakan bubuk yang dimiliki RS Lavalette saat ini. Teknologi ini pun tidak lebih mahal dari cuci darah menggunakan cairan. Rokhim mengatakan harga cuci darah menggunakan cairan dan bubuk sama.
Meski begitu, bagi pasien yang memakai BPJS penggunaan teknologi ini digratiskan. Maka dari itu teknologi yang dimiliki ini tidak akan memberatkan pasien.
“Per bulan biasanya ada 2.300 pasien yang cuci darah. Karena banyak yang membutuhkan mesin ini sangat membantu,” tandasnya.
Selain mesin cuci darah menggunakan bubuk, RS Lavalette juga baru saja menambah fasilitas Radiotherapy di tahun 2016. Fasilitas tersebut merupakan pelayanan terapi yang tidak lagi menggunakan radiasi logam berat melainkan menggunakan teknologi Linac (Linear Accelerator).
Teknologi tersebut tidak lagi menggunakan metode sebelumnya yakni radiasi logam berat akan tetapi menggunakan akselerator partikel dengan medan magnet yang lebih ramah lingkungan. Serta lebih mudah tembus ke dalam tubuh dan membunuh sel kanker.
“Sudah kita operasikan sejak 2016. Dengan alat ini akhirnya kita membangun bunker sendiri di bawah tanah agar alat bisa bekerja lebih maksimal. Pasien BPJS pakai ini jadi gratis, kalau tidak bisa Rp 20 juta sekali paket perawatan,” papar Rokhim.
Belum lama ini juga RS Lavalette membangun Klinik Bebas Nyeri atau Pain Clinic, juga fasilitas pelayanan medis  menghilangkan batu di saluran kemih menggunakan teknologi URS (Ureterorenoscopy). Ada juga teknologi operasi mata kataran dengan sayatan minimal dan C-Arm atau alat rontgen yang dipakai untuk operasi yang bisa mengambil benda-benda asing di tubuh yang berukuran kecil.
Pengembangan teknologi dan pelayanan inilah yang dilakukan RS Lavalette sehingga pada Maret 2016 lalu mendapatkan klasifikasi tipe B. Saat ini pun akreditasi RS Lavalette sudah yang paling tinggi yakni Akreditasi Paripurna.
Sebanyak 127 pasien saat ini ditangani RS Lavalette. Dan kurang lebih 700 pasien datang tiap harinya untuk rawat jalan. Dengan tenaga medis dan dokter sejumlah 130 orang RS Lavalette terus mengedepankan teknologi sebagai pelayanan tertinggi bagi warga.

Berita Lainnya :

loading...