Kemenristek Panggil Poltek Unisma



MALANG – Kemenristek Dikti bergerak cepat terkait rencana restrukturisasi masal Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Kamis (19/10) kemarin, Politeknik Universitas Islam Malang (Poltek Unisma) diwakili yayasan, dipanggil Kemenristek Dikti ke Surabaya. Kampus ini terancam merger atau turun kasta, karena tidak memenuhi syarat pendirian PTS, kurang dua program studi di bidang eksak.
Undangan dari Kemenristek Dikti itu terkait dialog rencana restrukturisasi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pertemuan dihadiri oleh wakil dari pihak yayasan Unisma, Drs. Mustangin, M.Pd. Terkait pertemuan tersebut, Wakil Direktur Poltek Unisma, Fajariyah Mulyani, ST menegaskan, apapun hasilnya pihaknya siap.
Yakni siap dengan segala konsekuensi yang akan diputuskan dalam pertemuan tersebut. Sekaligus menyadari, jika persyaratan untuk Poltek Unisma agar tidak kena restrukturisasi. Termasuk jika kampusnya belum sesuai dengan kebijakan Kemenristek Dikti, bahwa pendidikan tinggi berbentuk vokasi harus mempunyai minimal tiga Prodi.
Jika Poltek Unisma tidak menambah Prodi baru, harus siap dimerger dengan universitas, atau turun kasta menjadi Akademi. Dalam hal ini, merger tentu dengan universitas yang satu yayasan, yakni Universitas Islam Malang (Unisma).
“Kami memang masih mempunyai dua Prodi saja, yakni Prodi Teknik Mesin dan Prodi Teknik Elektro. Kami sebenarnya sudah menanggapi terkait restrukturisasi, dan tentang merger yang harus dilakukan, mungkin juga akan kami lakukan. Kalau untuk menambah prodi lagi kami tidak sanggup,” urai Fajariyah.
Ketidaksanggupannya menambah prodi lagi disebabkan banyak faktor, mulai dari keterbatasan anggaran dana, hingga mahasiswa yang masih terus diupayakan. Untuk mahasiswanya, masih berkisar 200 mahasiswa.
“Skala jumlahnya kecil. Karena itu, kami malah senang jika harus dimerger,” kata dia.
Selain merger dengan Unisma (universitas) yang memang satu yayasan, Poltek Unisma harus siap dengan kemungkinan turun kasta menjadi Akademi.
“Kalau dimerger saya justru senang. Tapi kalau untuk turun menjadi Akademi sangat menyayangkan. Walaupun, sama-sama bergelar ahli madya, tapi status tetap lebih bergengsi. Status menurut saya juga perlu,” ungkapnya.
Sementara terpisah, kampus lain yang diduga juga tak memenuhi syarat pendirian PTS berbentuk universitas, malah berpendapat lain. Universitas Gajayana Malang (Uniga) hanya mempunyai tiga program studi saintek, dari yang seharusnya enam prodi. Uniga masih adaptif menanggapi adanya regulasi tersebut. Karena pelaksanaan ditargetkan di tahun 2019, Uniga keukeuh mengandalkan prodi sosial humaniora (Soshum). Sebab prodi Soshum adalah karakteristik dari Uniga.

Berita Lainnya :