Wahai Para Pemuda, Jangan Terjebak Pertarungan di Medsos


MALANG - Pengguna internet paling tinggi. Ikan paling jinak untuk diberi umpan ujaran kebencian. Sudah saatnya, para pemuda melakukan gerakan perlawanan terhadap ujaran kebencian melalui media sosial (Medsos). Malang Post, dalam liputan khusus Sumpah Pemuda, menggaungkan ajakan ini. Dalam survey khusus, terlihat hasil yang menggembirakan, para pemuda kita responsif untuk melawan ujaran kebencian.
Ya, sesuai penelitian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, generasi muda menjadi penguna internet tertinggi. Generasi usia 20-24 tahun dan 25-29 tahun, adalah 80 persen pengguna internet di Indonesia. Ada 22,3 juta jiwa generasi usia 20-24 tahun yang menjadi pengguna internet. Jumlah itu adalah 82 persen penduduk pada kelompok tersebut. Lalu pada generasi 25-29 tahun, pengguna internetnya 24 juta jiwa, alias 80 persen dari total jumlah penduduknya.
Mahasiswa adalah yang terbanyak menggunakan internet. Kemudian sebanyak 97,4 persen orang Indonesia mengakses medsos saat terhubung dengan internet. Ya, sudah tentu, keberadaan medsos saat ini seperti sudah menjadi sebuah kebutuhan. Terasa ada yang kurang jika belum mengupload atau mengecek akun medsos pada aktivitas sehari-hari.
Parahnya, jika medsos kemudian dijadikan wadah untuk para haters menebar ujara kebencian. Umpan yang dengan mudah bakal diterima langsung generasi milenial dan 97,4 persen orang Indonesia yang mengakses medsos saat terhubung di internet. Pakar Komunikasi Universitas Brawijaya ( UB) Akh. Muwafik Shaleh, S.Sos.M.Si menyebut ini sebagai fenomena mediamorfosis.
Mediamorfosis adalah adanya evolusi atau inovasi internet di bidang teknologi.
Muwafik mengatakan, kondisi ini pun mengubah bagaimana cara berkomunikasi pada era yang serba digital saat ini.
Dosen Ilmu Komunikasi UB ini juga mengatakan, pemanfaatan medsos juga telah berkembang semakin liar. Dari yang awalnya bersosialiasi, menjadi arena pertarungan. Pertarungan dalam ekonomi, politik dan sebagainya. Yang tentu saja, lanjutnya, pertarungan ini diiringi dengan rasa ingin menjatuhkan atau ujaran krbencian.
"Keberadaan medsos sangat berimanfaat bagi pengguna yang "seenaknya" menyebarkam ujaran kebencian atau hate speech," kata dia.
Menirut Muwafik, itu adalah dampak adanya Medsos sebagai wadah penyebar informasi untuk para "pembantai" warga dunia maya. Medsos juga melahirkan masyarakat jejaring (nitizen) yang berperan sebagai pengguna. Mufawik berpesan, sebagai pengguna mendos harus cerdas, mesti hati-hati, dan penuh tanggung jawab. Sebab, menurutnya, masyarakatlah yang harus bertanggungjawab mencegah terjadinya ujaran kebencian.
"Jangan sampai medsos menjadi rujukan kegaduhan yang bisa menimbulkan perpecahan. Apalagi informasi di medsos bisa dengan cepat menggelinding dan terus membesar," tegasnya.
Artinya, keberadaan medsos senjata pelindung sekaligus sejata membunuh. "Yang gawat, adalah ketika medsos menjadi senjata untuk membunuh. Salah satunya dengan menebarkan kebencian. Mengumpat orang, bahkan nama baiknya sekalipun," kata dia.
Apalagi saat ini, medsos dibanjiri oleh informasi bohong (hoax) dan fitnah yang sifatnya menghujat dan membenci. Dikhawatirkan, kalau hoax dan fitnah tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan kegaduhan, mencoreng kebhinekaan dan bahkan merusak demokrasi.
"Untuk menangkal hoax dan fitnah di medsos. Paling tidak ada tiga langkah yang mesti dilakukan. Pendidikan bermedsos, penegakan hukum, dan komitmen perusahaan medsos untuk menyaring informasi hoax dan fitnah" terang Muwafik.
Oleh sebab itu, untuk menghindari adanya informasi yang sifatnya hoax atau bahkan tidak layak info, nitizen (masyarakat media sosial) harus bijak menggunakannya. Untuk bijak menggunakan medsos, Muwafik menyebutkan, ada berapa etika dan kode etik yang harus diingat.
Pertama, jangan mudah percaya alias harus kritis dengan postingan atau data di medsos. Kedua, berpikir sebelum bertindak membuat postingan, menanggapi, atau menyebarkan. Ketiga, jangan mudah terpancing dan emosi di medsos. Keempat, jangan mengandalkan sosmed sebagi tempat belajar dan menjadikannya sebagai sumber utama. Kelima, lakukan tabayyun atau konfirmasi terkait informasi yang beredar di medsos.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, yang sudah melindungi hak-hak masyarakat dengan dimunculkannya UU ITE. "Selain masyarakat sendiri yang harus bertanggungjawab, pemerintah ternyata juga merasa bertanggungjawab atas hal itu. UU ITE menurut saya sangat membantu dan mempunyai manfaat besar dalam menghadapi fenomena medsos saat ini," terangnya.
Ia juga mengatakan, fenomena itu juga sudah dijadikan objek penelitian oleh para pakar dan praktisi komunikasi, khususnya pada bidang komunikasi massa. "Para pakar dan praktisi komunikasi tersebut mrnjadikan media sosial sebagai objek penelitian baru. Mereka mengaplikasikan medsos melalui beragam bidang disiplin ilmu selain media itu sendiri juga diaplikasikan pada komunikasi politik, komunikasi pemasaran, hingga komunikasi budaya, pemerintahan dan sebagainya," pungkas dia.(sin/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...