Melalui Budaya, Indonesia Diakui Dunia


 
Nama Agus Sunandar, S.Pd, M.Sn tak asing lagi bagi masyarakat Kota Malang. Karena dia, Malang Flower Carnival menjadi event paling ditunggu masyarakat dan ikon kota Malang. Selain itu, juga mewakili Indonesia dalam berbagai kontes gelaran festival budaya dan pariwisata. Terhitung dalam tiga tahun terakhir ini, timnya telah 28 kali dipercaya oleh Kementerian Pariwisata dalam event budaya dan pariwisata internasional. 
Namun siapa sangka, lewat carnival fashion ini pulalah, Agus secara tidak langsung mempererat kembali hubungan antara Indonesia dengan Papua Nugini, yang memang tidak akrab selama 35 tahun terakhir ini. Cerita bermula dari keberangkatan timnya beserta Kementerian Pendidikan dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk menghadiri suatu ajang kebudayaan di negara tersebut.
“Ini menjadi pengalaman yang paling berkesan karena suasananya yang berbeda dengan setiap kali kami menggelar acara di negara lain, karena Papua Nugini termasuk satu dari sepuluh negara di dunia yang tidak aman untuk dikunjungi,” ungkapnya.
Untuk itu, sebelum berangkat untuk pertunjukan budaya, tim MFC mendapatkan pengarahan dari tim keamanan. Pertunjukan dihelat sebanyak tiga kali, yakni di Istana Negara, di salah satu universitas serta di alun-alun ibu kota Port Moresby. Pengamanan diperketat. Pasukan keamanan menyamar menjadi tim MFC, dan mereka tak diperkenankan untuk keluar dari hotel selain dalam rangka pertunjukan.
Tak disangka, nyatanya pemerintah Papua Nugini sangat terkesan dengan gelaran yang disuguhkan oleh tim MFC bersama dengan pemerintah Indonesia. Diplomasi antar kedua negara terjalin. Hubungan keduanya melunak.
“Dan yang paling tidak kami sangka adalah lewat diplomasi budaya itu, kali pertama Perdana Menteri mereka menyebut nama Indonesia, setelah selama 35 tahun ini menyebutnya dengan nama Papua ,” sambungnya.
‘Pahlaman Zaman Now’ Kota Malang ini sepertinya memang tak berlebihan disandangkan pada lelaki ini. Tak hanya sebagai Chairman Malang Flower Carnival yang gelarannya selalu ditunggu masyarakat dan menjadi ikon kota Malang, namun hasil karyanya melanglang buana mewakili Indonesia dalam berbagai kontes gelaran festival budaya Internasional. Kiprahnya dalam menggagas Malang Flower Carnival (MFC) dimulai dari niatnya untuk membangun kesadaran masyarakat kota Malang sebagai kota bunga. Karena Malang sudah identik dengan MAKOBU, Malang Kota Bunga. 
"Kami mencoba membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan tidak dengan membangun taman, tapi memulai sumbangsihnya dari bidang kami sendiri. Maka kemudian dari bidang fashionlah yang kemudian saya angkat,” ungkapnya.
Perjuangan yang dilaluinya untuk membawa MFC bisa dibilang tak mulus. Namun semuanya dilalui dengan kerja keras penuh semangat, optimis dan happy, dan tak ingin seolah mengalir begitu saja. Target dan evaluasi adalah kunci. Meski gelaran Fashion Carnival telah dipelopori lebih dulu oleh Jember dan Solo, dia menarget MFC tak hanya sebagai pengikut, namun juga leading. MFC harus memiliki kelebihan dibandingkan yang lain untuk mendapatkan pengakuan internasional.

Berita Lainnya :