magista scarpe da calcio KH Masjkur Pahlawan dari Singosari


KH Masjkur Pahlawan dari Singosari

 
Peristiwa 10 November 1945, tak lepas pula dari kiprah arek Malang. Ada nama almarhum KH Masjkur, beliau memimpin Laskar Sabilillah untuk berjuang ke Surabaya. Hingga kini Yayasan Sabilillah Malang masih memperjuangkan Almarhum KH Masjkur sebagai pahlawan nasional. 
Tim pengusul gelar pahlawan nasional KH Masjkur dibentuk 24 Oktober lalu, usai sarasehan di Grand Palace Hotel pada 19 Oktober 2017. Tim pengusul ini disusun dan disahkan Ketua Dewan Pembina Yayasan Sabilillah Malang, Prof. Dr. KH. Moch Tholchah Hasan.
“Perjuangan santri, khususnya KH Masjkur dkk saat melawan NICA dan Jenderal Mallaby di Surabaya. Semua tim ahli, menyatakan KH Masjkur sudah layak menyandang gelar pahlawan nasional,” urai Drs Mas’ud Ali M.Ag, anggota dewan ahli tim pengusul gelar pahlawan nasional KH Masjkur, ditemui di kantor Yayasan Sabilillah.
Hanya saja, nama KH Masjkur belum diumumkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam upacara di Istana Negara kemarin. Tapi, Yayasan Sabilillah tetap yakin dengan jasa dan sumbangsih KH Masjkur bagi bangsa.
Karena, sejarah menyatakan KH Masjkur adalah Panglima Laskar Sabilillah saat barisan santri membanjiri Surabaya kala mengusir Inggris dan membunuh Jenderal Mallaby dalam pertempuran 10 November 1945.
“Beliau ikut bertempur angkat senjata bermodal bambu runcing. Doa-doa ulama yang membuat spirit pejuang membuncah dan tidak takut mati. Para santri kala itu yakin momen 10 November 1945 adalah jihad, jika mati mereka mati syahid,” ungkap ketua pengurus Yayasan Sabilillah Malang itu.
Sebelum perang 10 November 1945, KH Masjkur juga telah berjuang bersama Panglima Sudirman, bergerilya di daerah Trenggalek dan sekitarnya. Catatan dalam buku Abdul Hamid Wilis menegaskan peran Sabilillah hingga 1944, dalam membantu perjuangan guerrilla warfare Panglima Sudirman melawan penjajah.
Bahkan, KH Masjkur mengajak putra tunggalnya, Syaiful Masjkur untuk bergerilya. KH Masjkur pun tercatat sebagai salah satu pendiri Pembela Tanah Air (PETA) yang bertransformasi menjadi TNI saat ini.
Pada masa peralihan dari pemerintah Jepang kepada pemerintah Indonesia, peran KH Masjkur sebagai anggota BPUPKI pun tercatat sejarah. Dia bersemangat mendukung kemerdekaan Indonesia setelah lama bergerilya. 
“Setelah perang gerilya, KH Masjkur ikut mempersiapkan kemerdekaan, dengan menjadi anggota BPUPKI 1945. Setelah merdeka, KH Masjkur diangkat sebagai menteri agama oleh Presiden Sukarno dan menjabat dalam 4 kabinet secara berturut-turut,” tandas Mas’ud.
Tak hanya berperang secara militer, KH Masjkur pun ikut mengembangkan bangsa dengan berkarir organisasi di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Beliau pernah menjadi Ketua PBNU hingga Rois PBNU. Dia juga aktif bergerak di bidang pemerintahan, dengan menjabat di berbagai pos birokrasi.
Selain Kementerian Agama, KH Masjkur pernah aktif sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PPP, Kepala KUA Pusat hingga anggota DPR. Setelah memasuki era Suharto, KH Masjkur merintis Universitas Islam Malang serta Lembaga Pendidikan Al-Maarif Singosari. Dia juga yang membangun Masjid Sabilillah di Malang.
“Jika pahlawan lain didirikan patung sebagai kenangan perjuangan, maka KH Masjkur membangun Masjid Sabilillah untuk mengenang perjuangan santri dalam kemerdekaan RI di Malang,” tambahnya.
Menurut data yayasan Sabilillah, KH Masjkur meninggal pada 18 Desember 1992, di usia 92 tahun. Beliau meninggal di Jakarta, namun dimakamkan di belakang Masjid Bungkuk Singosari.
“Saat wafatnya almarhum, Presiden Suharto ikut datang ke rumah duka dan berbelasungkawa. Presiden Suharto juga yang memerintahkan KH Masjkur dimakamkan secara militer. Karena, keduanya pernah berjuang bersama di PETA,” tutup Mas’ud.
Sementara itu, PC NU Kabupaten Malang juga mengusulkan KH Masjkur mendapat gelar Pahlawan Nasional. Ketua PC NU Kabupaten Malang, dr H Umar Usman mengatakan, pihaknya sudah selama satu bulan ini sudah mengurus usulan gelar kepahlawan untuk KH Masjkur.
“Kami telah mengusulkan KH Masjkur supaya mendapat gelar Pahlawan Nasional kepada Bupati Malang dan Gubernur,” ujarnya kepada Malang Post, kemarin.
Dia menjelaskan, bukan tanpa sebab mengusulkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai yang wafat pada 19 Desember 1992 tersebut. Menurutnya, beberapa kontribusi yang diberikan terhadap bangsa ini seperti dalam dunia pendidikan serta politik. 
“Sedangkan karya besarnya adalah pembuatan Alquran raksasa yang menjadi Alquran pusaka,” terang dr Umar Usman. 
Terutama wajib ditiru oleh para pemuda yang notabene merupakan penerus bangsa ini kedepannya.
“Pada era modern sekarang ini, implementasi dari pahlawan berbeda dengan zaman dahulu dengan berjuang merebut kemerdekaan,” tuturnya.
Melainkan pada zaman sekarang, kata dia, pemuda harus memiliki semangat pahlawan dan pantang menyerah.
“Sedangkan bentuknya para pemuda harus memiliki inovasi, terobosan, kreativitas dan pemikiran untuk memajukan bangsa ini. Kontribusi positif para pemuda dalam memajukan bangsa ini sangat dibutuhkan,” pungkasnya.(fin/big/ary)

Berita Lainnya :