Dua Ribu Pejuang Sabilillah Gugur di Lawang-Malang


 
Tak hanya berjuang di Surabaya. Laskar Sabilillah di bawah kepemimpinan KH Masjkur juga bertempur hebat di jalur Lawang- Malang pada agresi Belanda 1947. Menurut Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin (Lesbumi) Lesbumi, KH Agus Sunyoto, KH Masjkur merupakan pahlawan yang memiliki andil besar. Yakni dalam berjuang mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Beliau sebagai Panglima Sabilillah, berjuang melawan rongrongan penjajah dalam hal ini Belanda. 
“KH Masjkur merupakan kelahiran Singosari. Beliau yang memimpin perlawanan Agresi Belanda ke Malang. Sehingga, banyak korban dari Santri dan Kiai sebanyak dua ribu orang,” ujar KH Agus Sunyoto kepada Malang Post.
Dia menceritakan, agresi militer itu terjadi pada bulan Juli tahun 1947 . Saat itu, ribuan Kiai dan Santri dari Malang menghadang rombongan agresi militer Belanda di sepanjang Jalan Singosari hingga di area Masjid Sabilillah, Blimbing Kota Malang. Saat itu, Kiai dan Santri melakukan perlawanan dengan menggunakan alat seadanya.
“Hanya menggunakan bambu runcing serta kayu untuk menghadang Belanda. Sedangkan Belanda, menggunakan peralatan canggih seperti senjata api dan tank. Maka dari itu, banyak yang gugur. Jalan Singosari-Blimbing banyak bergelimpangan korban ” kata Kiai yang berdomisili di Desa Mangliawan, Pakis ini.
Saat itu, kata dia, perlawanan Laskar Sabilillah ini dipimpin langsung oleh KH Masjkur. Saat melawan agresi itu, KH Masjkur muda yang merupakan lulusan Pondok Pesantren Bungkuk Singosari, berhasil menyelamatkan diri. Kemudian, Belanda berhasil menguasai Malang Raya termasuk menguasai Lanud Abd Saleh.
“Saat itu, belum berani ada yang melaporkan kejadian itu kepada Kiai Hasyim Asya’ri. Namun, berita gugurnya ribuan Kiai dan Santri tersebut akhirnya sampai juga ke beliau (Kiai Hasim Asya’ri),” terangnya. Lanjut dia, kemudian Belanda menarik diri dari Malang, lantaran mematuhi perjanjian Linggar Jati.
“Akan tetapi, tahun 1949 Belanda melanggar perjanjian itu dengan kembali melakukan agresi ke Malang. Saat itulah gugur Hamid Rusdi yang merupakan pemuda Ansor dari Malang, saat melawan agresi Belanda untuk kedua kalinya,” terangnya.
Untuk mengenang peristiwa itu, kata dia, maka dibuatlah Masjid Sabilillah di Blimbing. Meskipun saat itu banyak Kiai dan Santri yang gugur dan sepanjang Jalan Singosari hingga Blimbing menjadi lautan darah, kata dia, itu merupakan bagian dari sejarah.
Yang paling penting, semangat kepahlawan dipimpin Kiai Masjkur tidak boleh dilupakan. Sehingga diharapkan hal ini diingat oleh penerus bangsa ini terutama pemuda.
“Bukan karena banyak korbannya itu sehingga sejarah ini menjadi penghalang untuk diungkapkan. Melainkan semangat dari para Kiai dan Santri tersebut saat melawan Belanda yang harus diketahui,” katanya.
Lantaran melalui semangat perjuangan dari Kiai dan Santri ini, kata dia, harus ditiru para pemuda pada era sekarang dalam mengisi kemerdekaan.(big/ary)

Berita Lainnya :

loading...