Ubah Wajah Kota dan Perbaiki Perilaku Warga


 
Jika pahlawan zaman dulu melawan penjajah, maka pahlawan zaman now berjuang mengubah wajah kota.Inilah yang dilakukan Vice President PT Indana Paint Steven A Sugiharto. Ia adalah tokoh penting di balik berubahnya wajah sejumlah kampung di Kota Malang. Di antaranya Kampung warna-warni, kampung putih dan kampung Arema.
Perubahan wajah Kota Malang yang lebih bagus dari tahun  ke tahun tidak hanya di pelopori oleh Pemerintah Kota Malang. Namun ada banyak pihak yang ikut andil dalam pembangunan di Kota Malang sehingga kota pendidikan ini kian oke, dan menjadi jujugan wisatawan.
Steven tidak sekadar ide, tapi juga menyalurkan dananya. Ada beberapa alasan yang dilontarkan suami Susan Joe ini mau dengan sangat tulus mengubah wajah Kota Malang.
Pertama adalah, kewajiban dirinya sebagai pemilik perusahaan mengeluarkan dana CSR, kedua adalah panggilan jiwa, dan ketiga adalah untuk mengenalkan produk dari perusahaan yang dipimpinnya.
”Ada kewajiban perusahaan untuk memberikan CSR. Perusahaan kami bergerak di bidang cat, maka kami pun memberikan perubahan dengan warna sehingga tercipta suasana yang lebih ramah, dan wow tentunya,’’ katanya.
Sementara alasan panggilan jiwa, dikatakan Steven jelas. Bahwa dia merupakan asli warga Kota Malang. Dia lahir dan dibesarkan di kota tersebut. Sehingga sebagai darah asli Malang, dia pun memiliki kewajiban untuk membangun kota ini lebih  baik.  
”Kalau ada yang cuek silahkan. Tapi sebagai darah asli warga asli Malang, jiwa saya terketuk untuk berpartisipasi,’’ ucapnya. 
Dan alasan ke tiga, Steven mengatakan dia ingin ada image produknya di Kota Malang.
”Seperti Kudus dikenal dengan produk rokok. Nah Kota Malang kami ingin produk PT Indana dikenal,’’ ucapnya. Untuk pengenalan produk tersebut, tidak bisa dilakukan sekali, tapi harus secara terus menerus. 
Steven sendiri mengaku mulai menggelontorkan dananya membangun Kota Malang sejak tahun 2012. Dia memulainya dengan mengecat pondok pesantren, tempat ibadah, serta beragam fasilitas umum. Aksi sosial itu itu terus berlanjut. 
Mulai melakukan aksi besar sejak tahun 2016 lalu. Di mana ada, sebuah proposal dari mahasiswa UMM mampir ke meja kerjanya. Dalam proposal tersebut, mahasiswa UMM mengajak PT Indana bekerjasama dalam hal mengubah pola hidup masyarakat di sekitar aliran Sungai Brantas, Kelurahan Jodipan.
”Awalnya itu. Kita diajak mengubah pola hidup masyarakat. Dimana yang sebelumnya masyarakat memiliki pola hidup kumuh, kemudian diajak hidup bersih,’’ kata Steven.
Tanpa memperhitungkan anggaran, alumni SMP St Yusuf Kota Malang langsung mengiyakan. 
”Menurut saya itu ide yang tidak main-main. Dengan pengecatan, ada perubahan pola hidup, itu luar biasa,’’ katanya dengan wajah sumringah. 
Alumni ABM ini pun mengerjakan proyek itu dengan tulus. Tak peduli, anggaran yang dikeluarkan sangat besar, yang jelas dia ingin pekerjaannya ini mendapat manfaat bagi masyarakat. 
Dia pun merasa sangat puas, saat Kampung Warna-Warni Jodipan selesai. Di mana pola hidup masyarakat di sana betul-betul telah berubah. Masyarakat yang sebelumnya kerap membuang sampah di sungai tak ditemui lagi.
Dan yang membuat dia lebih bangga, adalah kesadaran masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan tumbuh. Banyak warga memanfaatkan datangnya wisatawan di kampung ini dengan membuka usaha.
Lantaran itulah, dia pun antusias saat ada ide membangun jembatan kaca, yang menghubungkan Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi.
”Saat membangun jembatan kaca, kami sempat berhitung. Tapi perhitungan anggaran itu dikalahkan dengan kata hati saya, di mana saat itu saya ingin masyarakat di sana  bisa lebih sejahtera, dan banyak wisatawan datang,’’ ucapnya. 
Karena kepuasan itulah, Steven pun tak lagi berpikir saat ada ajakan kerja sama atau permintaan membangun lainnya. Terbukti, dari kiprahnya itu, kampung-kampung tematik pun berdiri.
”Kalau ditotal banyak. Kampung 3G Glintung, Kampung Warna-Warni, Kampung Putih, Kampung Tridi, Fly Over Jalan A Yani, dan sekarang sedang berjalan Kampung Biru serta akan dilaksanakan adalah Fly Over Jalan Kol Sugiono,’’ katanya.
Seluruh pengecatan menggunakan dana CSR. Tapi demikian, dia mengaku tak segan menggunakan dana dari promosi, untuk menutup jika terjadi kekurangan.
”Intinya, sebagai pengusaha kami ingin bermanfaat,’’ katanya. 
Steven juga enggan mengatakan berapa total anggaran yang diberikan. Yang jelas, dia mengaku puas, karena dari pekerjaan yang dilakukan, beragam apreasiasi pun diberikan. Tidak hanya dari pemerintah Kota Malang. Pujian juga tak jarang datang dari teman-temannya yang ada di luar kota.
”Mereka tahu pembangunan di majunya Kota Malang dari media sosial. Dan saya bangga, karena kinerja kami dapat pengakuan,’’ katanya tertawa.
Disinggung bahwa dirinya sebagai salah satu pahlawan, Steven pun langsung tertawa. Tapi demikian, dia mengaku dengan memberikan manfaat kepada orang lain, itu bisa dikatakan sebagai pahlawan.
”Jika dulu pahlawan berperang melawan penjajah, tapi zaman sekarang pahlawan bagaimana kita berpartisipasi membangun, atau ikut dalam pembangunan. Dan ini yang kami lakukan,’’ tandasnya.(ira/ary)
 

Berita Lainnya :