Kuasai Teknologi, Tanamkan Karakter Santun


MALANG - Globalisasi mendorong para guru untuk turut berperan dalam memajukan dunia pendidikan sesuai zamannya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) juga membuat guru harus berupaya untuk memanfaatkannya.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang memprioritaskan guru di era digital untuk terus berkarya di dunia pendidikan. Upaya ini dilakukan oleh Disdik dengan memberikan pelatihan, workshop, hingga seminar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra Zubaidah MM mengatakan, saat ini proses pembelajaran tidak hanya berkutat di dalam kelas, tetapi juga menggunakan media digital, online, dan telekonferensi. Selain harus menguasau teknologi, para pendidik juga harus waspada agar mampu membendung efek negatif dari perkembangan Iptek.
"Pendidikan karakter di era globalisasi seperti ini, menjadi tantangan serta tanggung jawab besar yang harus diemban oleh guru. Banyak siswa yang melihat gambar (amoral), yang menurut mereka merupakan sesuatu yang trendi. Ironisnya, guru tidak mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya karena tidak memiliki aplikasi serupa," terangnya.
Maraknya aplikasi komunikasi tanpa batas akan membawa anak pada dunia yang lebih bebas dan liar.  "Mereka akan berteman dengan para tokoh idolanya semisal artis Korea, artis Hollywood, dan lain-lain. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai kiblat dalam tindak-tanduknya," jelas dia.
Zubaidah khawatir, hal tersebut merusak moral budaya timur Indonesia. Untuk menghindari hal tersebut ia menegaskan kepada guru untuk menanamkan karakter dengan sungguh-sungguh, di samping juga mengimbangi siswanya dengan melek media.
Disdik Kota Malang melakukan upaya dengan memberikan pelatihan, workshop, atau seminar dengan tema-tema karakter guru di era globalisasi. Pelatihan atau kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan skill serta mengubah mindset guru di era digital. Serta memberikan skill mereka menghadapi perkembangan zaman.
"Karena perkembangan zaman yang menuntut kita untuk turut berperan. Jadi, guru-guru harus dibekali skill mengajar di era digital. Selain itu, mereka juga dibekali wawasan untuk meghindari efek dan dampak yang akan terjadi dari kemajuan Iptek," kata dia.
Zubaidah mengatakan, jangan sampai seorang guru memiliki penyakit tidak bisa komputer, mengingat anak didik lebih akrab dengan dunia teknologi dan komunikasi. "Keterbelakangan guru dalam dunia Iptek di zaman sekarang akan menjadi bumerang yang akan memengaruhi profesionalitas keguruannya," terangnya.
Menghadapi siswa milenial menjadi permasalahan kolektif dunia pendidikan. Terlebih bagi guru yang masih gagap teknologi. Ia berpesan, jangan sampai guru tidak bisa mengimbangi siswanya, atau bahkan siswanya lebih pandai daripada guru. Keterbukaan informasi global dengan adanya internet, menurut Zubaidah, memungkinkan hal itu.
Walaupun harus bisa mengimbangi siswa, Zubaidah mengatakan, guru harus tetap menjadi sosok teladan sekaligus memiliki kewibawaan yang tinggi di hadapan murid-muridnya ataupun masyarakat.
Ia berharap, di Hari Guru ke 72 ini bisa memberikan semangat guru yang terus membara untuk mendidik generasi penerus bangsa. Tanpa mempedulikan generasi milenial atau generasi zaman dulunya. Yang pasti profesionalitas guru harus tetap ditegakkan. Tetap mempunyai attitude yang bisa menjadi teladan. (sin/adv/nda)

Berita Lainnya :