Melepas Warga dari Jeratan Rentenir

 
MALANG POST - Dra Hj Durrotun Nafisah MM melakoni peran ibu luar biasa. Betapa tidak, selain mengurus suami dan dua anak kandungnya, ia juga menjadi ibu bagi  120 santri. Sebab kesehariannya. Nafisah merupakan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) El Jasmeen, Singosari. Mendirikan pesantren sekaligus Madrasah El Jasmeen merupakan panggilan istri dari Ir Umar Hayyan itu. Mulanya, dia mendirikan pesantren terletak di Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, lantaran prihatin atas kondisi masyarakat di situ. 
“Awalnya pada tahun 2003 saya mengadakan Pengajian Al Waiqah kepada masyarakat sekitar. Lantaran kondis masyarakar di sini gemar hutang kepada rentenir. Maka dari itu, saya entaskan melalui pengajian tersebut,” ujar Nafisah.
Pengajian Al Waqiah ternyata digemari oleh masyarakat. Kualitas keimanan masyarakat semakin meningkat. 
“Pengajian ini sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah masyarakat. Saat pengajian, saya juga menggulirkan program pinjaman uang syariah,” katanya kepada Malang Post. 
Melalui pengajian serta program pinjam uang itu, ekonomi masyarakat semakin meningkat. Sehingga, masyarakat terlepas dari jeratan rentenir yang merugikan. Setelah masyarakat semakin sejahetra, dia mendirikan Pondok Pesantren El Jasmeen. Tujuannya mendirikan pondok pesantren ini untuk memberikan pembinaan kepada anak-anak. Terutama anak-anak usia Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setingkat SMP.
“Rasa ingin tahu anak-anak usia MTs sangat tinggi. Sehingga, dalam menjalankan aktivitasnya, terutama di luar sekolah, perlu pendampingan dari guru maupun orangtuanya,” katanya. 
Celakanya, kata dia, mayoritas ibu-ibu yang berada di perkotaan, jarang memberikan pendampingan kepada anak mereka. Dia menyebut, ibu-ibu lebih mementingkan dirinya sendiri dan karir. Sehinggam mengesampingkan keluarga, suami serta anak-anak mereka.
“Terutama anak-anak, harus didampingi. Peran ibu sangat penting saat mendampingi serta melindungi anak mereka, saat masa pertumbuhan,” kata wanita kelahiran Lamongan ini.
Apabila ibu-ibu tidak memberikan pendampingan kepada buah hatinya, kata dia, maka anak-anak rentan terjerumus dalam pergaulan bebas serta kenakalan anak seusianya.
“Itulah fungsi dari pondok pesantren yang saya bangun ini. Melalui pondok pesantren ini, kami memberikan pendidikan agama dan akhlakul kharimah,” tuturnya.
Melalui pondok ini, dia bisa memberikan perhatian lebih kepada anak-anak yang dititipkan di tempat tersebut. Apalagi anak-anak memang perlu dibekali ilmu agama serta akhlakul kharimah, untuk mengantisipasi hal negatif yang dapat menjerat mereka. Di antaranya seperti narkoba serta kenakalan remaja harus diantisipasi sejak dini.
“Penyebab banyak anak-anak yang terjerat suatu tindakan negatif, mayoritas adalah kurangnya perhatian serta pendampingan dari orang tua,” kata dia.
Maka dari itu, dia juga mengajak kepada para ibu pada era modern seperti sekarang, untuk kembali ke tugas utamanya. Dalam hal ini mengurusi keluarga serta anak-anak.
“Tugas utama seorang istri memang mengurus suami dan anak-anaknya. Tidak boleh perempuan keluar dari kodratnya,” tegasnya.
Dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat, dia juga sering menyampaikan kajian tentang keluarga di beberapa masjid di Malang Raya. Selain itu, dia juga menulis buku tentang keluarga serta pernikahan.  (big/van)   

Berita Lainnya :

loading...