Problem Solver untuk 2.000 Karyawan


MALANG POST - Menjadi CEO BNI Wilayah Malang, tidak pernah terpikir di benak Yessy Kurnia. Awalnya, perempuan lulusan S1 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta tersebut mengawali karir dengan mengikuti program rekrutmen melalui Officer Development Program (ODP) BNI sekitar 1996 lalu. 
“Waktu itu, kampus bekerjasama dengan BNI mengadakan rekrutmen karyawan. Saya ikut dan berhasil lolos di antara ribuan orang yang mendaftar,” terang dia ketika ditemui Malang Post di ruang kerjanya.
Setelah itu, Yessy memulai kariernya sebagai analis kredit small di sebuah kantor cabang Surabaya selama satu tahun dua bulan. Sesudah itu, menjadi analis kredit middle selama tujuh tahun.
“Setelah itu, saya menjadi relationship manager selama tiga tahun dan supervisor di sentra kredit menengah pemuda selama tiga tahun. Itu semua saya jalani di kantor Surabaya, total selama 14 tahun dua bulan,” kata dia.
Karena keuletannya dalam melakukan pekerjaan, Yessy akhirnya ditarik ke Jakarta dan dipercaya menjadi Pemimpin sentra kredit BNI di kawasan Senayan, Jakarta selama satu tahun lima bulan. Hingga kemudian, ia dipercaya menjadi Wakil Pemimpin BNI di wilayah BSD, Tangerang.
“Baru setelah itu, saya dikirim ke Malang dan dipercaya sebagai CEO, sudah satu setengah tahun hingga sekarang ini,” ujar perempuan asal Cilacap ini.
Dalam melakukan pekerjaan yang sudah ia geluti selama 20 tahun tersebut, Yessy mengaku menikmati segala posisi pekerjaan yang dipercayakan padanya. Selama ini, ia mengaku tidak pernah stres.
“Saya selalu mengerjakan pekerjaan dengan serius tapi happy. Sesekali, saya juga refreshing dengan melakukan jogging atau bersepeda ketika pagi sebelum berangkat ke kantor. Kadang juga sama para karyawan kantor,” terang dia.
Sesekali, Yessy mengaku, sering melepaskan penat dengan naik gunung dan pergi ke pantai bersama rekan-rekan sekantornya. Mulai dari Gunung Welirang, Ranukumbolo, Bromo, beberapa pantai di wilayah Malang Selatan hingga Gili Ketapang, Probolinggo.
“Saya suka refreshing dengan melihat alam. Ini sebagai balancing antara rutinitas dan liburan tipis-tipis kalau saya sedang tidak pulang ke Jakarta. Saya melakukan ini dengan mengajak beberapa karyawan, supaya chemistry bisa terbangun dan tim semakin solid,“ lanjut Yessy.
Selain dengan refreshing, menurutnya, menjadi pemimpin yang baik harus mampu menjalin komunikasi dengan para karyawan dan mampu menjadi problem solver. Yessy mengatakan, dalam memimpin 2.000 karyawan, ia memegang teguh prinsip yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, yaitu ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha’ dengan meberikan contoh untuk kedisiplinan, semangat, jujur dan memberikan integritas yang tinggi, ‘Ing Madya Mangun Karsa’ dengan memberi semangat dan sebagai pelecut untuk memberikan solusi terhadap problem yang dihadapi serta ‘Tut Wuri Handayani’ yaitu memberikan arahan kepada para karyawannya. 
“Dengan begitu, saya berharap mereka tidak sungkan untuk berkomunikasi dengan saya. Sehingga, masalah apapun yang dihadapi bisa segera terselesaikan dengan baik. Saya lebih suka berkumpul dengan mereka ketika senggang dan melakukan obrolan. Saya memposisikan diri sama dengan mereka. Supaya semakin solid,” jelas dia.
Di sisi lain, di luar pekerjaannya memimpin BNI Malang dengan wilayah kerja dari Pacitan hingga Banyuwangi tersebut, Yessy juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu dari tiga anak. Saat ini, ia hidup terpisah dengan ketiga anaknya tersebut, Yessy berada di Malang dan ketiga anaknya berada di Jakarta. Namun, komunikasi di antara mereka tidak pernah terputus dan Yessy selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga tiap satu minggu atau dua minggu sekali. 
“Ketika saya ada kesempatan untuk pulang, saya maksimalkan quality time dengan mereka. Meskipun hanya kruntelan di rumah atau antar anak sekolah. Jadi ketika libur atau cuti, full waktu saya untuk anak-anak. Saya juga tidak pernah membawa urusan pekerjaan ke rumah,” ujar wanita yang juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (IJK) Malang ini.
Meskipun jauh, ia selalu menanamkan kedisiplinan pada anak-anaknya. Apalagi, anak sulungnya menginjak usia 17 tahun dan si bungsu berusia 9 tahun. Dia juga selalu mengupayakan komunikasi setiap hari melalui video call dan mengikuti perkembangan anak-anaknya melalui media sosial yang dimiliki. 
“Ketika ditanya, anak-anak lebih suka saya bekerja. Mereka anak-anak yang baik dan mau mengerti orangtuanya. Kita sebagai orangtua juga jangan pernah merasa bersalah meninggalkan mereka karena pekerjaan, itu adalah risiko terhadap jalan yang dipilih,” pungkas dia.(tea/han) 

Berita Lainnya :