Ekspedisi Panatagama: Marhaban ya Ramadan


Demi melanjutkan tradisi laporan jurnalistik dan pembuatan buku pada Ekspedisi Samala (2014) dan Ekspedisi Hulu Brantas (2015), Malang Post kembali menggelar ekspedisi. Pada Bulan Ramadan tahun 2019 ini, Malang Post melakoni Ekspedisi PANATAGAMA: Susur Jejak Sejarah Islam Malang Raya. Ekspedisi ini sekaligus sebagai persembahan untuk Bulan Ramadan.
Sebagai tim ahli dari Ekspedisi Panatagama adalah M. Dwi Cahyono, arkeolog Universitas Negeri Malang. Dwi sekaligus juga menjadi tim ahli pada Ekspedisi Samala dan Ekspedisi Hulu Brantas. Seluruh tim Ekspedisi Panatagama, telah menggelar diskusi panjang dengan Dwi Cahyono pada 23 April 2019. Ide mengenai ekspedisi ini, kali pertama muncul dari Mahmudi Muhith, Wakil Ketua PCNU Kota Malang sekaligus redaktur Malang Post serta Vandri van Battu.
Ada dua nama untuk ekspedisi. Awalnya, Dwi Cahyono mengusulkan kata Astana sebagai nama ekspedisi. Namun kemudian melalui perbincangan serius, Bagus Ary Wicaksono yang menjadi koordinator lapangan dari ekspedisi, mengusulkan nama Panatagama. Nama tersebut disetujui Pemimpin Redaksi Dewi Yuhana, sebagai nama Ekspedisi.
Kata Panatagama berarti pengatur kehidupan beragama. Jabatan ini biasanya melekat pada Sultan Demak, Sultan Mataram serta menjadi julukan Sultan Jogjakarta hingga hari ini. Maka Ekspedisi PANATAGAMA adalah kegiatan pertama menggali sejarah Islam di Malang Raya, yang terdokumentasikan oleh media massa, secara lengkap dan panjang.
Ya, panjang, sebab lingkup waktu ekspedisi adalah sejarah pertumbuhan Islam mulai Abad 16. Tepatnya pada awal tahun 1500 masehi sampai dengan medio pertengahan abad 20 (era perang kemerdekaan). Lingkup waktunya 4,5 abad! Pendekatan dalam penggalian data menggunakan pendekatan kronologis, yakni mulai dari tahun tertua menuju tahun yang paling muda.
Dilihat dari lingkup area, seluruh obyek yang akan disasar ekspedisi, hadir di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Adapun dari lingkup formal, aspek yang akan menjadi bahan telaah sangat lengkap. Mulai dari aspek religius. aspek perjuangan kemiliteran, aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek arsitektural.
Tim ekspedisi telah membagi rentang sejarah Islam dalam sebuah periodisasi. Kurun waktu yang akan digali datanya, tak kurang dari 5 abad. Mulai abad 16 hingga abad 20. Tim ekspedisi bakal menelusuri tak kurang dari 26 titik. Dimulai dari Periode pertumbuhan Islam. Periode yang tak lepas dari peran Wali Songo. Di Malang pada era kewalian, ada satu tokoh yang diutus untuk membangun kekuatan Islam. Yakni Ki Ageng Gribig senior, disebut juga Gibig atau Ngibig. Beliau adalah murid dari Syekh Manganti, Paman Sunan Giri.
Tugas Ki Ageng Gribig Senior, salah satunya dalam rangka membangun basis sebelum penyerbuan Sengguruh. Ya, kantong Hindu terakhir di Malang atau bahkan di Jawa yaitu Kerajaan Sengguruh. Relasi Giri dan Sengguruh amat menarik. Sengguruh pernah menduduki Giri Kedaton. Bagi Demak, adalah sebuah kekuatan yang menyulitkan.
Sengguruh, baru berhasil ditaklukkan oleh Kasultanan Demak pada tahun 1545 masehi, dipimpin langsung Sultan Trenggono. Padahal pada tahun 1527, Demak sukses menaklukkan Daha, sebuah kerajaan yang jauh lebih besar. Maka, butuh dua dasawarsa untuk taklukkan Sengguruh. Sengguruh adalah masa akhir Hindu Buddha, akhir masa majapahit di Wamsa Girindra Wardhana.
Lalu memasuki Periode perkembangan Islam. Periode ini dimulai dari Ekspansi Kasultanan Mataram era Sultan Agung ke Bang (Brang) Wetan atau mancanagari wetan. Terkenal dengan Peristiwa Babad Kutho Bedah. Tim ekspedisi juga bakal menggali lebih dalam mengenai Panji Pulang Jiwo dan istrinya Proboretno. Ini adalah varian Panji minor lokal Malang.
Kemudian selepas era kepanjian, di kepemimpinan di Malang dilanjutkan oleh Ki Ageng Gribig yunior. Pada era ekspansi Mataram, ia adalah trah Jawa Tengahan, kemungkinan eks laskar Mataram. Ki Ageng Gribig yunior memimpin, setelah era Adipati Malang Rangga Toh Jiwo ayah Proboretno.
Lalu memasuki tahun 1767 Belanda yang datang ke Malang, membangun Lodji yang sekarang di RS Syaiful Anwar. Belanda dibackup Mataram. Penelusuran kemudian berlanjut pada era Trunojoyo, dengan menyasar peninggalannya di Malang Barat. Yakni Benteng Selokurung dan Makam Karaeng Galesong.