Gaya Hidup, Harga Batik Puluhan Juta Rupiah


MALANG - Jika dulu batik hanya digunakan untuk acara formal saja, kini diberbagai acara sudah banyak yang menggunakan beragam model batik. Hal ini disebabkan, dalam perkembangan batik telah menyesuaikan mode berbagai generasi.
 “Dulu batik hanya untuk kalangan kerajaan saja, tetapi dalam perkembangan teknologi dan kreativitas, batik jadi lebih terlihat trendi,” kata penyuka batik, Ana Sopanah SE MSi Ak CA CMA kepada Malang Post.
Kaprodi Akuntansi Universitas Widyagama ini hampir tiap hari mengenakan batik. Terlebih, batik saat ini sebagai penyumbang sub sektor ekonomi kreatif nomor empat. Sehingga, perajin mengembangkan kreativitas dengan melahirkan banyak mode dan motif yang dimodifikasi dalam berbagai bentuk.
“Sekarang ini batik tak hanya kemeja saja, tapi sudah ada kulot hingga celana pendek. Kalangan pengusaha dan pimpinan juga mencontohkan penggunaan batik sehari-hari,” terang Ana yang kerap mengenakan batik saat mengajar.
Tak heran, harga batik yang biasa dikenakan orang pada umumnya pun beragam. Mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 20 juta atau lebih. Namun di pasaran biasa juga tersedia di bawah Rp 100 ribu. Tentu saja harga membedakan kualitas batik tulis atau yang biasa.
 “Kalangan muda juga mulai menggunakan batik hanya berbeda pada modelnya saja. Bahkan dalam beberapa kesempatan mengajar, mahasiswa asing tertarik membatik dan mengenakkannya,” beber wanita asli Malang ini.
Batik Indonesia dengan budaya lama zaman Majapahit tengah digembor-gemborkan di dunia dunia internasional. Namun, cinta produk lokal juga harus ditingkatkan agar batik terus lestari. Pemerintah pun harus turun tangan mulai dari kebijakan tertentu hingga upaya membantu para perajin batik agar lebih produktif.
“Pemerintah harus turut mendukung para perajin batik. Misalnya di tingkat daerah  wali kota mewajibkan menggunakan batik khas daerah setiap hari tertentu untuk mendorong ekonomi kreatif, seperti yang dilakukan di Ngawi. Selain itu, para perajin juga harus dibantu untuk HAKI,” tandasnya.
Begitu juga Rektor Universitas Gajayana, Prof  Ir Dyah Sawitri SE MM yang selama ini tampil fashionable memberi perhatian khusus pada batik. Menurut dia, setiap goresan batik mengandung filosofi kehidupan. Batik begitu melambangkan karakter dan tradisi Indonesia, sehingga penting dilestarikan.
“Banyak batik dengan motif bunga, daun-daunan, buah-buahan, hingga binatang yang menggambarkan kehidupan manusia,” katanya.
Dyah  sepakat dengan Ana bahwa perkembangan batik saat ini sudah begitu trendi, tak ayal jika banyak kalangan muda yang kerap mengenakan batik di berbagai acara. Dia pun mengajak setiap kalangan untuk mulai berbusana batik. Tak heran jika di Universitas Gajayana diwajibkan berbatik selama tiga hari,  yakni Senin, Selasa dan Jumat.  (ita/van) 

Berita Lainnya :