Gugurnya Pejuang dan Warga Sipil Madyopuro


Pegiat Sejarah Kota Malang Mochamad Antik  menjelaskan lebih detail terkait sejarah perjuangan warga sipil Madyopuro ini. Ia membenarkan jika kawasan SDN Madyopuro 1 ini dulunya adalah ladang pembantaian warga sipil dan pejuang kemerdekaan pada tahun 1947 silam.
“Dulu SD itu Sekolah Rakyat tiga tahun. Dan kejadian berdarah itu terjadi pada hari Kamis Pon ygang bertepatan pada Tanggal 18 September 1947.  Sebenarnya tidak ada catatan pasti tentang jumlah korban yang jatuh pada saat itu,” tutur pria yang akrab disapa Antik ini kepada Malang Post.
Ia yang sempat membuat narasi penelitian terkait sejarah perjuangan warga Madyopuro ini mengatakan sempat menggali info dari seorang saksi mata warga setempat bernama Ali. Di mana menurut catatan Antik, saksi mata bernama Ali mengatakan sekitar kurang lebih 100 orang terlibat dalam perlawanan melawan Belanda saat itu.
Dikatakan pula sebanyak 11 orang jenazah pejuang sipil maupun anggota laskar pejuang dimasukkan dalam sebuah sumur di sana.
“Versi lain ada yang mengatakan 13 ada juga yang bilang 14 orang masuk di sana juga. Yang jelas sumur memang tempat pembuangan jenazah waktu itu,” terangnya.
Selain Sumur, Antik melanjutkan yang lain dimakamkan secara masal di halaman sekolah tersebut. Sementara yang lain juga dimakamkan masal di Lapangan Madyopuro (saat ini menjadi halaman Kantor Kelurahan Madyopuro,red).
Menurut narasumbernya, Ali tadi, Antin menjelaskan pembantaian terjadi sekitar pukul 11 siang ada pula yang mengatakan perlawanan pecah mulai pukul 1 siang. Tiga hari sebelum peristiwa itu terjadi, para pejuang dan penduduk membuat Madyopuro menjadi sebuah medan barikade.

Berita Lainnya :