Guru Jurnalistik itu Telah Pergi...


Catatan: Dewi Yuhana
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka meninggalnya Pak Husnun N. Djuraid pagi ini (4/8) tidak hanya mengagetkan kami, keluarga besar Malang Post, tapi juga kolega, sahabat, dan murid beliau yang tersebar di mana-mana. Kami tak percaya, tapi harus menerima. Bahwa kematian hanyalah milik Allah SWT semata.
Mengenang Pak Nun, begitu saya dan teman-teman di Malang Post memanggil beliau, berarti saya juga mengingat perjalanan saya menjadi wartawan hingga sekarang. Peran Pak Nun dalam karier dan keilmuan jurnalistik saya, sangatlah besar. Beliau guru, mentor, sahabat, sekaligus sosok yang saya anggap sebagai bapak.
Saya mengenal Pak Nun pertama kali saat  masih mahasiswa dan magang wartawan di Malang Post usai mengikuti pelatihan jurnalistik pada 2002. Kala itu beliau Pemimpin Redaksi (Pemred) korane arek Malang ini. Sebagai orang nomor satu di redaksi, Pak Nun adalah sosok yang humble, tak menjaga jarak dengan anak buah, bahkan dengan anak baru yang berstatus magang seperti saya. Beliau mau melihat dan mengedit berita yang saya tulis, memberikan masukan dan arahan tanpa nada tinggi dan emosi. Satu pelajaran yang belum bisa saya terapkan dari beliau.
Nasib anak magang berarti belum punya meja dan komputer sendiri, sehingga saya seringkali harus menunggu komputer kosong untuk bisa menulis berita. Melihat itu, Pak Nun meminta saya untuk menggunakan komputernya. Menduduki kursi panas Pemred yang selama ini tak seorang wartawan pun berani duduk di sana. Maka setiap sore, sebelum Pak Nun tiba di kantor, saya lah yang duduk di sana, mengetik berita sembari membayangkan asiknya bila saya jadi wartawan beneran. Ada satu dua orang karyawan Malang Post senior yang menegur saya kala itu.
“Eh, kamu siapa?!. Jangan duduk di situ, cari tempat lain”.
“Saya sudah dapat izin dari Pak Nun untuk menggunakan komputer beliau”. Jawaban itulah yang biasanya saya sampaikan kepada para senior. Jawaban pamungkas yang membuat mereka diam.
Sesudah itu, kursi dan meja Pak Nun menjadi sangat populer, makin banyak yunior yang ingin merasakan duduk dan menggunakan komputer beliau. Silih berganti sebelum sang empunya datang. Mungkin, karena keramahan Pak Nun itulah, saya akhirnya memutusan untuk meneruskan magang menjadi kerja beneran di Malang Post. Hingga sekarang.
Saat awal diberi amanah menjadi redaktur, Pak Nun jua lah yang menyemangati saya untuk dapat menjalankan tugas. Ketika saya kebingungan meminta berita (untuk diedit) dari wartawan yang lebih senior dan biasa memanggil saya "dik", Pak Nun menegaskan: "Kamu redaktur, tugasmu mengedit berita wartawan meskipun usianya lebih tua dari kamu. Nggak usah sungkan".
Atau, ketika saya tergiur dengan tawaran penggandaan uang dengan skema ponzi Pohon Mas, Pak Nun lah yang menegur saya. Sebagai wartawan yang waktu itu ngepos di desk Komunikasi Bisnis, saya tahu Pomas pasti akan kolaps suatu saat. Sebagai manusia biasa, saya mengalkulasi bila saya ikut di awal, saya masih akan mendapatkan untung dan uang kembali. Apalagi, sebagai wartawan saya kenal petinggi Pomas saat itu yang secara langsung menawari saya untuk gabung. Tapi sebagai wartawan muda, saya tak punya uang untuk diinvestasikan. Tak kurang akal, saya iseng dan nekat meminjam uang ke Pak Nun. Sebulan. Lalu akan saya kembalikan sesudah uang cair.
Komentar beliau singkat. "Kamu ini alumni pondok, dan masih mau dapat uang dengan cara begitu?. Hukumnya gimana itu?".
Saya nyengir dan tertohok. Sudahlah tak dapat pinjaman, malu iya. Namun alhamdulillah, saya urung tergiur Pomas dan terbebas dari jeratan masalah seperti yang dirasakan ribuan korbannya.